Selasa, 14 April 2020

Kehilangan

Hari ini adalah hari terberat bagiku. Dimana mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela harus melepas kepergianmu. Begitu cepat. Sakit rasanya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. 

Aku tidak menyangka si iblis jahannam itu begitu jahatnya ingin merusak apa yang aku punya. Ia ingin membuatku hancur berkeping-keping. Ia ingin aku menderita. Padahal aku selalu berusaha baik walaupun sebetulnya dia jahat. 

Tak banyak yang tahu kalau ia jahat, karena ia bermuka dua dan pandai bersilat lidah. Ia juga mempunyai ibu yang selalu meminta pertolongan kepada orang pintar. Mereka sering memasukkan suatu "jampe-jampe" ke dalam makanan dan minuman keluargaku dengan maksud tertentu.

Yaaa... aku tahu maksud mereka. Ingin menguasai keluargaku. A.k.a harta orang tuaku. Brengsek memang iblis jahannam ini.  Padahal aku bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. 

Tak tahu malu! Manusia serakah! Buntelan kentut! Bermuka dua! Munafik! Iblis! Najis mugholadzoh! Aku benar-benar membencinya!

Baru kemarin aku bertemu denganmu. Tapi tiba-tiba orang tuaku ingin memisahkan aku dan kamu. Lagi-lagi, aku tidak berdaya. Seperti orang kelaparan tapi tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Hanya bisa menahannya sendirian. Seperti itulah aku. Hanya bisa menangisi diriku sendiri.

10 tahun bersamamu bukanlah waktu yang sebentar. Banyak sekali kenangan yang telah aku lalui bersamamu. Aku tidak perduli betapa tuanya dirimu. Yang aku ingin hanyalah selalu bersamamu. Melewati setiap detik denganmu. Berbagi suka dan duka. Hanya berdua denganmu. Karena hanya kamu yang mengerti aku melebihi apapun di dunia ini termasuk kedua orang tuaku.

Kemarin, orang tua ku marah besar. Sepertinya sudah dikompori oleh si iblis jahanam itu. Tiba-tiba ayahku datang, beliau ingin aku berpisah denganmu. Alasannya sudah ada yang lebih baik darimu. Padahal ayahku sangat tahu persis bahwa aku teramat sangat menyayangimu. Tapi ayahku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak tahan mendengan celotehan ucapan ibuku yang ingin memisahkan aku denganmu. 

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak suka ini. Aku lemah. Aku ingin berontak. Tapi lagi-lagi aku tidak berdaya. Aku tidak mempunyai apa-apa lagi. Pasti si iblis jahannam itu sedang menertawai kesedihanku. Memang itu yang dia inginkan. Membuat hidupku menderita. 

Malam ini aku tidak bisa tidur. Membayangkanmu. Memikirkanmu yang begitu cepatnya harus meninggalkan aku. Ku yakin kau pun begitu. Air mataku tak habis-habisnya membasahi tempat tidurku. 

Keesokan hari nya, aku benar-benar harus mengikhlaskan kepergianmu. Pendampingmu yang baru akan menjemputmu dan membawamu pergi jauh dariku. Sungguh sakit rasanya. Aku tidak sanggup melihatmu dengannya. Aku hanya bisa berdoa semoga pendampingmu yang baru bisa membuatmu lebih bahagia dibanding aku. Maaf jika selama ini aku sering menyakitimu dan tidak bisa menjagamu dengan baik. 

Beberapa hari setelah kepergianmu, aku jatuh sakit. Rasanya semuanya pahit. Tapi aku harus melannya bulat-bulat. Aku selalu teringat kamu. Ku buka foto-foto lamamu bersamaku. 

Ku pasang kesedihan ini di status whatsapp ku. Ternyata ayahku ikut merasakannya. Ia juga sangat berat melepas kepergianmu. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah keputisan bulat dari ibuku. Ayahku tidak bisa berbuat apa-apa karena ibuku sangat keras kepala. 

Berbeda dengan ibuku yang terlihat puas melihat perpisahanku denganmu. Ibuku pasti masih dalam pengaruh iblis jahat itu. Saat itu aku sangat membenci ibuku karena ia tega merenggut kebahagiaan anaknya sendiri. Tapi aku sadar. Ini bukan sepenuhnya ibuku. Ini pengaruh si iblis jahannam itu yang membuat ibuku membuat keputusan dengan tersulut emosi. 

Aku terus-terusan membuat status di whatsapp tentang kamu. Tujuannya agar ibuku melihat betapa aku sangat terpuruk. Begitu sakitnya aku. Aku ingin ibuku menyesali perbuatannya. Aku ingin ibuku peduli pada perasaanku. 

Tetapi tindakanku itu justru membuat ayahku sangat terpuruk. Ia tahu persis apa yang aku rasakan karena aku adalah anak kesayangannya. Ibuku berkata bahwa hentikan semua ini jika aku sayang ayahku. Ia juga meminta maaf telah membuatmu sedih dan tidak bisa membahagiakan anak.

Fuck! Harusnya ia tahu jika kebahagiaanku adalah kamu. Dan keputusannya untuk memisahkan kita adalah salah besar. Kemudian aku berjanji tidak akan sedih lagi demi ayahku. Beliau teramat sangat menyayangiku. Begitupun dengan aku. Jujur  aku lebih menyayangi ayahku dibandingkan dengan ibuku yang telah melahirkan aku. Mungkin karena pengaruh si iblis jahannam itu. 

Akupun berusaha mengikhlaskanmu. Walaupun berat sekali rasanya. Tapi aku yakin pasti ada pelangi setelah hujan. Ada kebahagiaan setelah kesedihan ini. Ini semua aku lakukan demi ayah. Bukan demi ibuku. 

Kini harus aku kewati...
Sepi hariku tanpa dirimu lagi...
Biarkan kini ku berdiri...
Melawan waktu tuk melupakanmu...

Potongan lirik lagu milik Glenn Fredly itu menggambarkan perasaanku saat ini.

Waktu terus berlalu. Aku mulai belajar ikhlas untuk melepasmu. Aku sadar bahwa segala sesuatu itu hanya milik Allah. Dan semuanya akan kembali kepada Allah. Aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa merubah nasibku. Aku harus bekerja keras agar aku bisa menemukan penggantimu. Semoga aku berjodoh dengan semuanya yang lebih baik darimu. 

Dan teruntuk si iblis jahannam, selamat berbahagia melihat kepedihanku saat ini. Hidupnyq sekarang memang enak karena segalanya ditanggung oleh keluargaku. Tapi satu hal yang perlu diingat, tidak ada yang abadi. Ibu ku sebentar lagi pensiun. Ayahku juga sudah lama pensiun. Lihat saja beberapa tahun kedepan. Apa yang akan terjadi kepadanya. Karena sungguh ia akan menuai apa yang ia tanam. 

Bersambung sampai beberapa tahun kedepan...

Selasa, 12 April 2016

Keraguan

Tidak ada cinta yang datang terlalu cepat, tetapi kita terlambat menyadarinya. .

Ya Tuhan, apakah itu benar? Apakah ini cinta?
Aku memang merasakannya. Tetapi mengapa masih saja ada rasa ragu terselip dihati ini. Aku takut salah melangkah dan salah mengambil keputusan untuk yang kesekian kalinya.

Ya Tuhan, baru saja hatiku dipatahkan sepatah-patahnya oleh sahabatku (dibaca: orang yang aku sayang). Dia telah membuangku kepada orang lain:  temannya yang tidak terlalu ia kenal. Orang asing bagiku. Dan sekarang aku malah mencintainya.

Ya Tuhan, apakah rasa ini benar? apa ini jawaban doa ketika aku patah hati oleh orang yang menganggapku sahabat ? Ataukah ini hanya permainan si sahabat yang tak ingin keyakinannya kepada-Mu terusik oleh perasaan terlarang kepadaku?

Ya Tuhan, sesungguhnya aku lelah. Aku tidak ingin patah hati lagi. Mengapa terlalu cepat? Apa ini karena saking sayangnya Engkau kepadaku sehingga aku segera diberikan malaikat penghapus air mataku?

Ya Tuhan, jika aku harus jatuh cinta lagi, Jatuhkanlah hatiku kepada jodohku. Karena aku sudah sangat lelah untuk bangkit dari sakitnya patah hati. Aku sangat lelah jika harus berulang kali berlabuh di hati yang salah dan pulang dengan keadaan sakit.

Ya Tuhan, jika dia adalah jodohku yang Kau selipkan sebagai malaikat yang Kau kirim untuk menghapus semua air mata dan kesedihanku tolong yakinkanlah hati ini bahwa dia adalah yang terbaik untukku. Tetapi jika ini hanya jebakan orang jahat yang ingin melukaiku tolong lindungilah aku.

Ya Tuhan, aku sayang Arman.

Sabtu, 05 Maret 2016

Selamat Ulang Tahun, Mantan Terindah....

Hari ini, 5 Maret 2016 akhirnya datang juga. Hari dimana aku telah merencanakan sesuatu bersama Milati sahabatku. Sesuatu yang kami pikir akan dikelilingi kebahagiaan untuk kami berempat. Sudah lama kami merencanakan sebuah surprise kecil-kecilan untuk pasangan kami yang sama-sama berulangtahun. Konsep, dekorasi dan kue ulang tahun sudah dipikirkan dengan baik. Tinggal menunggu waktunya tiba. Dulu perlu waktu berbulan-bulan untuk menunggunya, tetapi sekarang telah tiba saatnya.

Namun dari kemarin aku sangat gelisah. Aku ingat betul akan rencana kami itu. Tetapi, apakah aku tetap akan melaksanakan rencana kami ? Waktu telah bergulir begitu cepat dan waktu mengubah segalanya. Sekarang sudah beda kondisinya. Aku bukan siapa-siapanya Marvell lagi. Harus aku sadari itu.

Milati sudah berkoar-koar di recent update mengucapkan selamat ulang tahun untuk Zaini dan Marvell. Tak lupa mengedit foto Zaini dengan aksen ulang tahun dan menjadikannya display picture.

"Selamat ulang tahun mas sayang dan ka Marvell." hatiku tersentak kemudian aku mengiriminya pesan, "Mil, sepertinya rencana kita dulu pupus sudah (emot sedih, emot nangis)"

"Iya ya Glave, malah kemarin aku ngomongin sama Zaini dan ia bilang kenapa ga ngasih surprise aja. Haha. Gimana Glave? Mau jadi ngasih surprise?"

"Ga tau Mil, pengen sih. Tapi tiap kali aku mau berjuang buat dia, pasti dia selalu bikin aku gendok dan nyerah. Aku takut gendok lagi. Masalahnya sekarang aku bukan siapa-siapanya lagi."

"Iya sih, tapi kan ini udah direncanain dari jauh-jauh hari. Aku tanya Opal deh dia lagi dimana."

"Iya mil sebenernya dari hati aku yang terdalam aku pengen banget ngasih surprise ke Marvell tapi gimana ya, udah beda kondisinya sekarang."

"Kamu ngucapin ke dia ga?"

"Ia mil ngucapin, tapi belum di bales"

Tadinya aku akan memberi ucapan tengah malam, tapi lagi-lagi aku sadar diri. Aku bukan siapa-siapa lagi. Dan aku mengurungkan niatku itu.

"Selamat ulang tahun ya. Cieee ulang taunnya kembaran sama Zaini. Haha. Semoga cepet lulus, cepet nikah haha. Semoga dan semakin aja deh ya buat kamu."

Itu lah kata-kata yang aku ucapkan. Tidak puitis, tidak berlebihan, seperlunya saja. Sekali lagi, aku sadar diri. Setidaknya aku ingat pada ulang tahunnya. Tidak seperti dia yang sama sekali tidak mengucapkan selamat saat aku ulang tahun, atau wisuda. Padahal aku sudah berkoar-koar di semua sosmed. Sudah kode keras sekali. Sekalinya dia mengucapkan selamat hanya ketika aku beres sidang dan itupun dia tidak ada bersamaku dan tidak memberiku semangat sebelum sidang dan aaaaaah sudah jangan dibahas nanti aku nangis lagi.

Kembali lagi ke topik utama. Milati mencari tahu dimana keberadaan Marvell. Ternyata ia sedang ada di Sukabumi dan akan pulang sore ini.

Aku cek bbm ternyata dia membalas,
"Iya hehe. Cuma umurnya aja yang ga kembaran. Makasih ya :)"

Melihat responnya cukup baik, aku kemudian membalasnya lagi dengan sedikit bercandaan.

"Hahaha lebih tua ya #eh . Hahaha. Bisa meren traktir nonton comic 8. Hahaha"

"Iya lebih tuir. Haha duh akunya lagi di sukabumi"

"Tapi keliatan kamu lebih muda daripada Zaini. Haha, yah kapan dong balik bandung? Long time no see"

"Iya. Hehe. Besok kayaknya"

Kemudian aku bbm Milati
"Mil dia bilang balik besok. Gimana dong?"

"Ih ke aku mah bilangnya sore ini"

Hmmm. Lagi-lagi hal kecil yang dilakukan Marvell selalu bisa membuatku gendok. Kenapa harus berbohong? Ini hanya hal kecil.

"Coba ajak ketemu Glave"

"Iya Mil, apa aku bilang gini ya. Besok ktmu bisa ga? Plis ini mah kamu jangan menghindar. Aku cuma mau ngelaksanain janji aku sama mei. Sbnrnya udh lama. Ga enak aja kalo ga dilaksanain nnti akunya ga tenang. Mungkin itu yg terakhir. Setelah itu aku ga akan ngusik hidup km lagi. Gimana Mil?

"Jangan Glave, nanti dia takut duluan. Coba aja ajak ketemu. Gapapa sedikit maksa juga."

"Okey aku coba"

Kemudian aku bbm Marvell
"Besok ketemu yuu. Bisa ga? Udh lama ga ketemu hehe"

Aku sudah bisa menebak pasti jawaban dia insya Allah. Sama seperti waktu kami akan datang ke pesta pernikahan Thaufik di Tasik, ia pun mengatakan hal yang sama yaitu insya Allah. Dan hasilnya apa ? Batal. Gagal. Tidak jadi.

"Insya Allah ya, soalnya besok ada nikahan temen"

Tuh kan apa aku bilang.

"Yaudah kalo gabisa senin aja gimana? Plis ini mah sebentar aja da paling cuma 15 menit"

Beberapa saat kemudian tante ku tumben-tumbenan mengomentari DP ku.

"Siapa tuh Glave? Calonnya ya? Sini kenalin sama tante. Setuju. Setuju."

Membacanya mataku langsung berkaca-kaca.

"Bukan tante. Mantan. Haha. Dia lagi ulang tahun jadi pengen pasang DP sama dia."

Haha. Saking sudah lamanya aku tidak pasang foto dengan cowok dan tidak pernah membawa cowok ke rumah jadi sekalinya update foto dengan cowok dikira calon suami. Haha. Jadi sadar umur. Sudah 23. Sudah pantas untuk menikah. Tapi calonnya mana? Ya semoga Marvell. Aamiin.

Banyak sekali bbmku yang masuk. Dan hampir semua menanyakan apakah aku balikan lagi dengan Marvell? Aku hanya bisa meng-aamiin-i nya.

Jujur saja sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan Marvell. Aku belum menemukan lagi sosok seperti Marvell. Walaupun sebentar, tapi berasa sampai saat ini.

Aku membuka bbm, ternyata bbmku masih deliv dan belum dibaca olehnya. Sampai saat ini pukul 22.45 tepat saat aku menulis cerita ini, ia belum membaca bbmku. Padahal 10 menit yang lalu dia update status dan ganti DP.

Tuh kan kenapa sih ada saja yang bikin aku gendok? Kamu tuh maunya apa sih? Aku mendengus dalam hati.

Aku sudah paling tidak paham menghadapi Marvell. Aku harus bagaimana? Aku hanya ingin melaksanakan rencana yang sudah menjadi janji ku bersama Milati. Aku hanya ingin bertemu dengan Marvell. Sejak kejadian itu, kami belum pernah bertemu lagi sampai saat ini.

Dear Marvell,

Jika suatu saat kamu membaca tulisanku ini. Aku ingin kamu tahu. Aku sayang kamu. Aku masih sangat sayang kamu sampai detik ini. Aku ingin kamu kembali. Aku senang jika kamu sering menanyakanku kepada Milati. Tetapi aku tidak tahu bagaimana caraku menunjukkan perasaanku kepadamu. Kamu sering menanyakanku kepada Zaini, tetapi ketika aku akan berjuang untukku kamu selalu mematahkan semangatku dengan hal-hal kecil yang membuatku kecewa. Ternyata responmu buruk. Apa mungkin kamu sudah melupakanku? Atau kamu gengsi? Buanglah gengsimu Vel, dulu saja aku rela menangis di depanmu bahkan di depan banyak orang hanya demi kamu. Apa belum cukup rendah harga diriku?

Marvell, sebenarnya aku ingin memberi kejutan di hari ulang tahunmu ini. Aku dan Milati sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari. Tapi kenapa, kamu sepertinya tidak respon. Kamu seperti tidak ingin bertemu denganku. Vel, sekali lagi tolong buang gengsimu. Aku tahu kamu paling anti balikan dengan mantan. Tapi Vel, aku sayang kamu. Entah dengan cara apalagi aku harus mengatakannya kepadamu.

Marvell jika kamu tidak ingin melihatku lagi, tolong lah. Izinkan aku bertemu denganmu. Sekali saja. Untuk melaksanakan janjiku bersama Milati. Walaupun bukan surprise lagi namanya jika diberi tahu. Tapi yang jelas, aku ingin bertemu denganmu walaupun hanya sebentar. Setelah itu, aku berjanji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Aku akan pergi dari hidupmu Vel. Mungkin selama-lamanya kamu tidak akan pernah bisa melihat kehadiran wanita bodoh yang mencintaimu lagi. Aku akan mem-block semua sosmed mu jika perlu. Agar aku benar-benar menghilang. Aku berjanji Vel.

By the way, aku menulis cerita ini sambil mendengarkan lagu Kahitna-Soulmate.

... Meskipun tak mungkin lagi, tuk menjadi pasanganku. Namun ku yakini cinta, kau kekasih hati....

Itu lagu untukmu Vel. Liriknya menggambarkan perasaanku saat ini. Aku yakin kamu membaca tulisan ini jauh-jauh hari setelah aku menulisnya. Jadi ku harap ketika suatu saat kamu merindukanku, dengarkanlah lagu ini.

Sekarang sudah hampir pergantian hari. Sudah dulu ya. Aku ingin bercerita pada Allah dan memohon pada-Nya agar kamu menjadi jodohku. Hehe

Sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun Marvell, mantan terindahku ❤

Senin, 07 September 2015

Dua Sahabat yang Patah Hati Dikala Senja


Sore itu,
Ketika matahari akan kembali ke peraduan
Dua orang sahabat sedang duduk di kursi kayu sambil menatap langit
Mereka menantikan kehadiran  jingga diujung senja
Berharap cahaya jingga akan menerangi hati mereka yang dirundung duka
Kemudian mengubur dan menenggelamkannya mereka bersama matahari

Hening memekakkan telinga
Mereka saling terdiam,
Pandangan mereka berkeliaran pada langit disana
Mencari-cari keberadaan jingga
Tetapi langit kelabu masih saja menutupi indahnya cakrawala
Jingga tak jua mau menampakkan dirinya
Hanya ada awan gusar yang sebentar lagi akan mengeluarkan tetes-tetes air kegalauan
(dibaca: hujan)

Lalu mereka bertanya-tanya.
Ini senja atau malam?
Mengapa kami tidak bisa melihat  jingga?
Apakah  senja sudah berlalu?
Tega sekali tidak izin pamit pulang
Padahal kami sangat membutuhkannya
Untuk hati kami yang rapuh dan  hampir mati
Tetapi nampaknya ini belum malam
Sendandung adzan maghrib belum berkumandang
Sayup-sayup pun tidak terdengar sama sekali
Itu tandanya ini masih senja
Matahari belum pulang ke peraduan
Tetapi tertahan oleh kumpulan awan hitam

Kristal bening mulai membasahi kulit mereka
Nampaknya awan hitam itu mulai jenuh
Hingga mulai mengeluarkan  tetes-tetes air kegalauan
Hujan, janganlah menjadi pertanda air mata yang akan jatuh terurai
Aamiin.. semoga saja.

Tetapi tunggu dulu, ini bukan hujan
Ini air mata dari kedua sahabat yang sedang patah hati itu
Mereka  menangis sejadi-jadinya meratapi nasib mereka
Miris sekali memang,
Mengapa lagi-lagi hati mereka dengan mudah dipatahkan oleh pria-pria sialan?
Mengapa kasih sayang dan cinta mereka sama sekali tidak dihargai oleh pria-pria sialan itu?
Mengapa pria-pria sialan  itu sama sekali tidak bersyukur telah memiliki mereka?

Cinta memang kejam
Mereka yang tulus mencintai malah disia-siakan
Tetapi yang bertopeng malah diperjuangkan mati-matian
Apa yang ada di benak pria-pria sialan  itu?
Logika mereka sama sekali tidak berguna
Mereka bodoh, sangat bodoh.
Gengsi yang mempertahankan logika mereka yang bodoh itu

Coba saja mereka sedikit menggunakan kecedasan emosinya
Bisa merasakan dan berempati tentang perasaan wanita
Pasti di dunia ini tidak akan ada lagi wanita yang tersakiti
Logika memang berbanding terbalik dengan perasaan
Tetapi seharusnya bisa saling melengkapi

Lihatlah sekarang kedua sahabat yang sedang patah hati itu
Rapuh, lemah, dan tidak berdaya
Hanya bisa menangis
Dimana senja mereka?
Sudah pergi dibawa malam
Kata angin yang bertiup kala itu

Sudahlah, kini sudah malam.
Matahari sudah tenggelam, pun dengan patah hati mereka
Seharusnya sudah ikut tenggelam juga
Tetapi masih saja mereka patah hati
Karena hati mereka masih tertinggal di lembayung senja

Minggu, 02 Agustus 2015

Alhamdulillah, Allah itu Baik.

Awalnya aku pikir, aku tidak akan pernah bisa menemukan satu pria yang benar-benar klop denganku. 3 tahun melajang membuatku nyaris putus asa untuk bisa menemukan belahan jiwaku. Aku lelah ya Allah, terus berkelana tetapi tidak pernah berujung indah. Terlalu sering disakiti, ditinggalkan dan tidak diberi kepastian membuatku muak dan cukup kebal dengan kondisi "sendiri". Ya,  benar-benar sendiri. Tidak ada satupun orang yang menemani.

Kesepian? Mungkin. Tapi tidak terlalu juga. Beberapa pria silih berganti datang dan pergi menemaniku dengan caranya masing-masing. Mereka hanya "transit", tidak benar-benar berlabuh di hatiku. Entah mengapa Tuhan selalu mempunyai cara agar aku gagal bersama mereka. Sedih? Pasti. Tetapi dibalik itu semua mungkin inilah cara Allah menunjukkan bahwa mereka bukan yang terbaik untukku.

Terakhir aku dekat dengan pria teman kampusku. Namanya Agha. Dia memang baik, lumayan klop denganku. Tetapi sayang, dia tidak terbuka. Dia berubah saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku benci. Dia berbohong. Dia tidak pernah peka. Lebih dari 3 bulan waktuku terbuang sia-sia, skripsiku terbengkalai. Tetapi apa yang aku dapat? Hanya kebohongan dan tidak ada kepastian. Muak rasanya. Aku lelah berjuang sendiri. Lalu ku putuskan untuk mundur. Tak ada gunanya aku teruskan, hanya membuatku sakit.

Sampai suatu ketika, Tuhan berbaik hati mempertemukan aku dengan Manji. Dia adalah teman dekat Zafar, pacarnya Meilani sahabatku. Awalnya aku bersikap biasa saja. Malah tidak memperdulikannya karena aku masih fokus mengurusi skripsiku.

Malam itu kami bertemu, aku sempat kesal karena tidak sesuai rencana. Membuang-buang waktu saja. Aku sudah bosan. Sampai aku bersumpah jika malam ini tidak jadi bertemu, aku tidak pernah mau mengenalnya lagi. Tetapi untung saja waktu masih memberikan kami kesempatan untuk bertemu. Lalu kami bertemu dan berbincang-bincang. Ternyata orangnya sangat mengasyikan. Enak diajak berbicara dan banyak kesamaan diantara kami. Tidak mengecewakan lah. Aku mencabut jauh-jauh sumpahku. It's okay. Awal yang baik pikirku.

Dibawah terangnya rembulan dan dinginnya angin malam, kami masih asyik berbincang-bincang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Tetapi aku masih ingin bersamanya. Entah mengapa kali ini aku tidak ingin membunuh waktu sama sekali.

Tiba-tiba muncul notifikasi dari Instagramku, nampaknya ada stalker yang sedang kepo. Memberi like dan komen semua fotoku bersama Agha.
"Perasaan kenal deh cowonya, itu Agha ya?". Tetiba mood ku berubah, ribuan pertanyaan menghujam otakku. Tetapi aku tunda dulu. Aku harus menikmati detik-detik pertemuanku dengan Manji malam ini.

Tidak bisa ditoleransi lagi, aku benci ini. Aku benar-benar harus pulang. Malam sudah semakin larut. Aku bisa dimarahi jika pulang terlalu malam. Kemudian kami memutuskan untuk pulang. Dia mengantarkan aku pulang sampai ke gang rumah. Sisa pertemuan tadi masih terasa. Aku bahagia dan aku merindukannya. "Terimakasih Tuhan, malam ini sungguh indah." Ujarku sambil tersenyum kepada bulan.

Setibanya di rumah. Aku kembali penasaran dengan sosok perempuan yang stalking instagramku tadi. Ternyata oh ternyata setelah aku selidiki, dia memang mantan kekasih Agha. Untuk apa dia sampai segitunya kepo dan komen di foto kami kalau tidak ada apa-apa. Pikiranku terpecah belah.

Apa mungkin Agha dekat lagi dengan mantan kekasihnya itu? Pantas saja beberapa waktu belakangan ini dia berubah. Lama membalas chat, sudah tidak memanggilku dengan kata "sayang" lagi. Oh iya aku hampir lupa, aku dan Agha memang bisa dibilang teman rasa pacar. Kami tidak pacaran namun selalu terselip kata "sayang" di setiap pembicaraan kami. Pantas saja dia berubah. Ternyata ada mainan baru.

Aku langsung mengirim pesan bbm dan menanyakannya. Dengan entengnya dia hanya menjawab. "Fans. Hahaha". Hatiku mendengus kesal. Tidak bisa serius yah. Dasar. Sialan. Menyebalkan. Lalu ku bilang, "Tidak mungkin sampai segitunya jika tidak ada apa-apa. Nampaknya dia masih mengharapkanmu. Maaf jika kehadiranku mengganggu hubungan kalian. Aku dan kamu tidak ada apa-apa kan. Santai aja. Sana balikan saja dengan dia" Intinya seperti itu.

Jawaban darinya sangat amat menyebalkan. Lagi-lagi dia menjawab dengan enteng, "Dia hanya masa lalu. Tenang saja. Iya kan aku dan kamu memang tidak ada apa-apa. Biasalah artis banyak fansnya." Menyebalkan. Bukan itu jawaban yang aku inginkan. Sama sekali tidak menenangkanku.

Kemudian aku lihat foto-foto di instagram wanita itu. 10 minggu yang lalu dia upload foto screenshoot chat mereka ketika anniversary 84 bulan. Ku ingat-ingat ternyata pada minggu-minggu itu aku sudah dekat dengan Agha selama dua minggu. Fix aku dibohongi. Dia bilang sudah menjomblo 3 bulan. Ternyata aku benar-benar dibohongi.
 
Sungguh aku tidak menyangka tega-teganya dia membohongiku. Jahat. Aku tidak suka. Aku benci dia. Jadi ini balasan untukku? Teganya bermain dibelakangku. Hati ini rasanya seperti ditonjok ribuan tangan. Damn! Aku benci dia. Malam ini aku benar-benar memutuskan untuk mundur. Sudah tidak bisa lagi aku toleransi. Aku benar-benar harus pergi.

Air mata sudah nyaris rontok. Tapi ku pikir untuk apa menangisi pria seperti itu. Tidak ada gunanya. Masih tidak menyangka dengan ini semua, aku hanya bisa melamun sambil mendengarkan lagu Noah-Dibelakangku. Kemudian beberapa saat kemudian Manji meneleponku. Dengan backsound lagu Noah itu aku berbincang-bincang

Aku yang tadinya kesal bukan main, seketika berubah menjadi bahagia. Manji berhasil membuatku lupa dengan kesakithatianku terhadap Agha. Dia benar-benar mengalihkan perhatianku. Kini aku sama sekali tidak merasa sakit hati. Terimakasih ya Allah, ketika aku sakit dengan segera Engkau berikan obatnya kepadaku. Alhamdulillah, Allah memang maha baik. Ia selalu memberikan apa yang umatnya butuhkan.

To be continued....

Selasa, 23 Juni 2015

Teman Rasa Pacar

Aku punya teman. Bukan sekedar teman. Bisa dibilang teman. Bisa juga tidak. Kami terlihat seperti orang pacaran. Sekali lagi aku tegaskan. Hanya "terlihat". Faktanya kami cuma teman. Mungkin lebih sedikit. Hehe

Awalnya aku cukup nyaman dengan ini. Kondisi dimana aku tetap bisa bahagia walaupun tidak dengan pacar. Sesuai dengan prinsipku, bahagia itu tidak harus selalu dengan pacar.

Semakin hari, kami semakin dekat. Setiap hari bertemu. Setiap hari selalu bersama. Sampai suatu ketika, entah mengapa dalam percakapan kami selalu terselip kata "sayang". Dan kami pun menikmatinya.

Kami cukup saling mengenal. Dari segi karakter, kami memiliki banyak kesamaan. Entah mengapa, ketika kami tidak melakukan apapun aku tetap merasa nyaman. Itu yang membuat aku senang berlama-lama berada di dekatnya. Rasanya ingin aku hentikan waktu ketika sedang bersamanya.

Tetapi lama kelamaan, aku mulai bosan. Aku ingin lebih. Aku ingin berkomitmen dengannya. Dalam hal ini aku merasa "status" itu penting. Bukan hanya panggilan sayang dan perlakuan seperti pacar yang aku inginkan. Tapi aku juga ingin status.

Kami memang baru kenal kurang dari dua bulan. Tetapi bukankah cinta itu egois? Tidak memandang berapa lama saling mengenal, berapa sering bertemu, berapa lama menunggu waktu yang tepat untuk menyatukan dua hati yang saling mencinta.

Terperangkap dalam situasi ini bukan lah hal yang menyenangkan. Dilema rasanya. Satu sisi aku senang, ada seseorang spesial di hatiku yang memperlakukan aku layaknya seorang princess. Satu sisi aku sedih, bingung untuk bertindak. Rasanya aku tidak mempunyai hak apapun terhadap dirinya karena dia bukan milikku.

Jujur aku lelah. Harus memendam ini sendirian. Ku pikir dia mengerti dan merasakan hal yang sama. Terbukti dari ucapan dan perlakuannya kepadaku. Tetapi mengapa sampai sekarang tetap begini. Tidak ada perubahan. Mau bagaimanapun, kami tetap teman.

Sejauh ini berapa besar yang aku dapatkan? Hanya gini-gini saja. Flat. Ibarat "haha" tanpa tertawa, ini adalah "sayang" tanpa status. Analogi yang menyakitkan.

Harus berapa lama terus begini? Dia tidak bisa meyakinkan hatiku. Rasanya terlalu lama dia terdiam dan meredam cinta. Mau sampai kapan?

Tolong bawa aku dari zona ini. Ataukah aku pergi saja? Tapi jika aku pergi, apakah dia akan kembali padaku? Entahlah.

Percayalah, ini menyakitkan. Tidak perlu ada istilah teman rasa pacar atau pacar rasa teman. Dua-duanya tidak enak. Teman ya teman, pacar ya pacar. Kejelasan itu penting. Jangan terlena di zona "Teman Rasa Pacar", karena sesungguhnya dibalik itu semua pasti ada hati yang tersakiti.

Sabtu, 20 Juni 2015

Lelaki Ambigu

Kamu seperti kata ambigu. Menjebak otakku ke dalam siklus menerka-nerka tiada batas. Memaksa alam bawah sadarku untuk menemukan arti dirimu yang sebenarnya.

Menuliskanmu ke dalam kata-kata, seperti tersesat pada ribuan kata ambigu dalam ensiklopedia. Perlu menjelajahi ruang dan waktu demi menemukan arti yang tepat untuk dirimu.

Sekali lagi, kamu ambigu. Seperti tulisan stenografi, yang begitu rumit dan tidak dapat dicerna oleh kadar intelektual manusia biasa. Bahkan seorang stenografer yang handal sekalipun tidak dapat memahami apa arti dirimu sebenarnya.

Kamu memang benar-benar ambigu. Bahkan logika saja tak cukup pandai untuk mengartikan dirimu. Ku pikir mungkin kinerja emosionalku bisa membantu mengartikannya. 
Sayang sekali, ternyata tidak.

Banyak rasa yang kau tawarkan. Banyak sikap yang kau suguhkan. Kamu adalah ambiguitas cinta yang indah. Meski terlalu banyak arti yang harus aku mengerti dan membuat hatiku porak poranda kebingungan, aku tetap menikmatinya. Tak peduli seberapa akurat hasil aku menerka-nerka, yang penting aku bahagia.

Hey lelaki ambigu...

Senin, 01 Juni 2015

Rahasia

Jangan pernah menyimpan rahasia dibelakangku.
Jangan pernah membohongiku.
Jangan pernah berpura-pura dihadapanku.
Jangan pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.
Jangan pernah sekali-kali.
Tolong jangan.

Aku tidak suka rahasia.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku tidak suka kepura-puraan.
Aku tidak suka sembunyi-sembunyi.
Aku tidak suka.
Aku benci itu.

Aku bukan Tuhan yang maha tahu.
Aku bukan paranormal yang bisa meramal.
Aku bukan orang yang suka menerka-nerka.
Aku bukan orang yang suka menebak.
Aku bukan seperti itu.
Itu bukan aku.

Katakanlah jika kau mencintaiku.
Katakanlah jika kau membenciku.
Katakanlah jika aku salah.
Katakanlah jika aku khilaf.
Katakanlah.
Tolong katakanlah.

Tak perlu bersandiwara untuk mendapatkan perhatianku.
Tak perlu meninggikanku untuk menjatuhkanku.
Tak perlu pura-pura baik untuk mendapat belas kasihanku.
Tak perlu pura-pura manis untuk menusukku dari belakang.
Tak perlu kau lakukan.
Sungguh tak perlu.

Rahasia apalagi yang kau sembunyikan?
Teka-teki apalagi yang kau berikan?
Permainan apalagi yang kau lakukan?
Modus apalagi yang kau jalankan?
Apalagi?
Apalagi?

Tolong jangan sembunyi dibalik rahasia.
Tolong jangan berkelit dibalik rahasia.
Tolong jangan permainkan aku dengan rahasia.
Tolong jangan selalu ada rahasia.

Kamu hanya perlu mengatakannya padaku.
Baik atau buruk nya akan aku terima.
Jujur itu indah walaupun terkadang menyakitkan.
Jangan pernah merahasiakan sesuatu untuk menjaga perasaanku.
Malah akan semakin menyakitiku jika kamu terus-terusan merahasiakannya.

Jadi ku mohon katakan sajalah, tak perlu ada rahasia.

Jumat, 29 Mei 2015

Cinta Lama Belum Kelar

Hari ini mungkin adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, sudah sekian lama kami merencanakan pertemuan kami untuk membahas masa lalu yang mungkin rasanya sekarang sudah basi bahkan kadaluarsa.

Rasanya campur aduk. Jantungku seperti mau copot. Ribuan hipotesis melayang-layang dipikiranku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksiku jika bertemu dengannya. Apa aku akan semakin membencinya karena teringat kembali tragedi pertumpahan air mata tempo lalu? Atau bahkan nanti aku akan luluh lalu jatuh cinta kembali kepadanya? Entahlah. Aku tidak tahu.

Yang jelas aku benar-benar bingung. Apakah keputusanku untuk bertemu dengannya adalah benar. Atau mungkin malah mendapat masalah baru? Ya Allah, semoga saja ini keputusan yang tepat. Aku niatkan untuk silaturahmi. Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Hari ini rencananya kami janjian pukul 16.00 setelah Ia beres ujian. Aku putuskan untuk bertemu dengannya di kampus saja. Karena aku malas pulang ke rumah. Kemudian aku duduk manis di fakultas dan menunggunya datang. Tiga puluh menit kemudian dia datang. Tanpa pikir panjang aku langsung menemuinya di parkiran.

Setelah melihatnya dari jauh, aku berjalan perlahan untuk menemuinya. Aku berusaha untuk tidak terlihat canggung. Tapi aku gagal. Aku masih saja kaku. Dan sikapku itu tebaca olehnya yang terlihat santai. Ah mungkin saja dia juga sebenarnya grogi, tapi dia bisa menutupinya. Bisa jadi.

Kemudian kami memutuskan untuk ke tempat makan daerah dago pakar. Tempat favoritku. Entah apa yang akan dibicarakan tetapi aku memilih tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran.

Di dalam perjalanan, kami berbincang-bincang. Hello... long time no see. Kemana saja kamu setelah 5 tahun ini menghilang? Begitulah kira-kira inti dari percakapan kami. Lama kelamaan, suasana mulai bersahabat. Aku berhasil untuk bersikap biasa saja.

Setibanya disana pukul 17.00, langit memunculkan semburat biru tua. Tidak ada senja disana. Tetapi suasana cukup indah untuk dinikmati. Kami mulai membahas masa lalu, walaupun rasanya sudah basi untuk dibahas tapi sedikitnya mengobati rasa penasaran kami.

Lalu kami memesan makanan. Beberapa saat kemudian, adzan magrib berkumandang. Dia mengajakku untuk melaksanakan sholat magrib. Subhanallah, ternyata dia rajin ibadah.  Lantas kami bergantian untuk sholat.

Waktu menunjukkan pukul 18.30. Langit biru tua kini berubah menjadi hitam pekat dihiasi oleh kerlipnya bintang yang menggantung disana. Tak lupa juga dilengkapi oleh lampu-lampu kehidupan Kota Bandung yang berkilauan. Kami bisa melihat keindahan Kota Bandung pada malam hari disini.

Tak lama kemudian kami pun menyantap makanan yang sudah sedari tadi disajikan. Sambil makan, ia bercerita seputar kehidupannya selama 5 tahun terakhir sejak kejadian itu. Ternyata, ia tidak mempunyai pacar lagi setelah itu. Entah ekspresi apa yang harus aku perlihatkan. Tetapi aku mengambil kesimpulan sendiri, bahwa mungkin ini karma.

Tadinya ku pikir, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya. Karena ia adalah orang terjahat yang pernah aku kenal. Aku menyesal pernah menangisinya. Air mataku terlalu berharga untuk itu. Dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun. Tapi entah mengapa aku sudah tidak memperdulikannya. Memaksa otakku untuk mengingat-ngingat juga tidak berpengaruh apapun. Sepertinya aku sudah mengubur dalam-dalam kenangan buruk itu. Setiap orang pernah punya kesalahan. Mungkin salahku juga dulu terkesan memaksa.

Bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata ada yang berubah darinya. Sekarang ia terlihat lebih kurus dan manis. Penampilannya yang rapi dan tidak merokok menambah nilai plus dimataku. Sekarang ia telah berubah seperti lelaki idamanku. Oh tidak, bisa-bisa aku jatuh cinta lagi. Semoga saja tidak.

Melihat suasana yang indah, aku tidak mau melewatkan momen berharga ini. Lantas aku mengabadikannya dengan berfoto bersamanya. Untuk kenang-kenangan barangkali atau untuk stok display picture bbm ataupun koleksi foto di instagramku.

Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk pulang. Sekarang sudah malam. Aku harus pulang dan kami pun harus berpisah. Rasanya ingin aku memohon-mohon pada waktu agar mengizinkan kami bertemu lebih lama lagi. Tetapi sepertinya waktu berkata lain. Sekarang kami harus berpisah. Mungkin suatu saat waktu akan mempertemukan kami lagi. Tenang saja, waktu tidak pernah berkhianat. Kami hanya perlu bersabar menunggu saat yang tepat. Sampai bertemu lagi.

Thanks for today, I'm happy. 😊

To be continued......

Sabtu, 11 April 2015

Andhika

Kita bertemu secara tidak sengaja
Saat rembulan sudah lama bertengger di langit menggantikan matahari
Saat itu aku melihatmu, pun dengan kamu.
Pandangan kita saling bertubrukan
Tetapi kita tak saling begeming
Tak menyimpulkan segaris senyum dibibir kita
Kita hanya terdiam tetapi hati kita saling berbicara

Saat itu juga aku tahu namamu, Andhika.
Nama yang indah. Seindah pemiliknya.
Ya. Aku akui kamu memang indah.
Kamu sangat mempesona dibalik rasa letihmu

Kita masih berada di tempat itu
Tetapi aku tidak berani menatapmu
Sama sekali tak berani
Aku masih bisa mendengar deru suaramu yang menentramkan jiwaku
Membuatku tersenyum didalam hati

Dhika. Apa kau tahu?
Aku telah jatuh cinta padamu kurang dari sepersekian detik saat aku melihatmu.
Apa kau merasakan hal yang sama?
Ku harap begitu.

Tak lama kemudian kita berpisah
Pertemuan kita hanya sebentar saja
Aku tak menyangka berpisah denganmu akan memikul rindu yang tak tertahankan
Aku masih ingin bertemu denganmu
Apakah kita masih bisa bertemu?

Tentu saja.
Sang Maha Cinta begitu baik
Kita dipertemukan kembali di sosial media
Sampai akhirnya kita bertukar nomor telepon
Dan saling berbincang hingga pagi bertemu malam
Begitu terus setiap hari

Kemudian kita bertemu lagi
Pertemuan kali ini begitu istimewa
Karena hari ini aku genap berusia 19 tahun
Dan aku sedang bersamamu
Ini adalah kado terindah untukku

Kebersamaan kita tak cukup sampai disini
Kita jadi sering bertemu
Tak jarang kita menghabiskan waktu berdua
Aku sangat bahagia bersamamu
Aku ingin terus bersamamu

Kini kita pun menjadi dekat
Semakin hari semakin dekat
Semakin hari semakin mesra
Semakin hari semakin romantis
Seperti kedua insan yang sedang dimabuk cinta

Aku tahu diluar sana ada yang tidak menyukai kedekatan kita
Aku sama sekali tidak peduli
Aku malah sengaja menjadi api yang membakar hati mereka lewat kemesraan kita
Semakin mereka panas
Semakin aku senang

Dhika, Apa kau tahu mengapa aku melakukan itu pada mereka?
Aku takut kehilanganmu
Ketakutanku semakin lama semakin besar
Aku berusaha untuk terus bisa bersamamu
Bagaimanapun caranya aku lakukan agar bisa bersamamu
Mungkin kamu sedikit risih
Tetapi semua ku lakukan karena aku tak ingin kehilanganmu

Waktu semakin berlalu
Seharusnya aku dan kamu sudah menjadi kita
Seperti yang selalu aku harapkan
Tapi kamu belum juga menyatakannya
Mungkin memang belum waktunya
Dan aku harus bersabar

Tetapi mengapa ku rasa kamu malah menjauh?
Saat aku mencuri-curi kesempatan untuk bertemu denganmu, saat itu pula kamu menjauh
SMS ku tak pernah di balas
Telpon ku pun tak pernah di angkat

Kamu berubah!
Tak seperti dulu,
Kini kamu memberikan jarak diantara kita
Seperti membentengi diri setinggi-tingginya agar aku tidak bisa lagi menyentuhmu

Dhika, mengapa kamu berubah?
Kau tahu ini teramat menyakitkan bagiku.
Kini aku tak bisa lagi melihat wajah rupawanmu yang mempesona,
Mendengar tawa candamu yang menggelitik hati,
Mencium aroma parfum mu yang memanjakan hidungku
Merasakan nyamannya dekapan tubuhmu 
Semua itu tidak akan pernah bisa aku rasakan lagi.
Semua telah berbeda
Semua telah hilang

Tetapi cinta di hati ini tidak akan pernah bisa hilang.
Aku masih tetap saja mencintaimu.
Walaupun mungkin kamu tidak mencintaiku
Dan aku masih saja mengharapkanmu
Walaupun mungkin kamu tidak mengharapkanku

Jumat, 10 April 2015

Tak Ingin Seperti Bunga Mawar

Setangkai bunga mawar. Dulu kamu pernah memberikannya kepadaku. Tepatnya dua kali. Pertama, kamu memberikannya kepadaku dengan terburu-buru. Tapi kau anggap sebagai tanda pertemanan, awal mula kau mendekatiku. Kedua, pada saat hari dimana kamu hendak menyatakan cinta kepadaku yang ternyata gagal  berantakan gara-gara ulah polosku.

Apakah kamu ingat? Aku sempat mengatakannya kepadamu pada saat kau memberikannya padaku pertama kali. Sudah ku bilang, aku tidak menyukai bunga mawar. Jangan lagi beri aku bunga mawar. Tetapi tetap saja kau memberiku bunga mawar lagi untuk kedua kalinya walaupun hasil nya tak sesuai dengan yang kau harapkan. Mungkin kau pikir aku langsung membuangnya ke tong sampah.

Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku tidak suka bunga mawar?

Jawabannya sederhana. Bunga mawar seperti yang kau beri itu cantik, indah, harum, selalu dipuja, disanjung dan membawa kebahagiaan. Seiring dengan berjalannya waktu, lihatlah bunga darimu itu berubah jadi jelek, rapuh, kering, dibuang, dilupakan  dan menyisakan kesedihan. Aku tidak ingin mempunyai nasib yang sama dengan bunga mawar itu.  Makannya dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah menyukainya.

Tetapi harus kau tahu, sampai saat ini aku masih menyimpan bunga mawar darimu. Itu bukti bahwa aku menghargai pemberian darimu. Kau salah besar jika mengira aku sudah membuangnya. Aku tidak sejahat itu.

Kau juga harus tahu, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu juga kenangan buruk denganmu. Semua akan tertanam dihati dan pikiranku untuk selamanya. Biarkan aku menyimpan bunga mawar darimu yang sudah mati ini. Akan ku simpan sampai ia hilang. Seperti cintaku padamu yang sudah mati, lama-lama akan hilang.

Sabtu, 14 Maret 2015

Tentang Aku, Kamu dan Dia (Sahabatmu)

Ini kisahku, kamu dan dia.
Kita bertiga bertemu di tempat dan waktu yang berbeda.
Awalnya aku melihat dia.
Kemudian aku cukup sering melihat dia.
Tetapi aku tidak pernah tahu siapa nama dia.
Aku dan dia tidak pernah saling mengenal.
Hingga aku tidak pernah melihat dia lagi.

Suatu saat aku bertemu denganmu.
Kita dipertemukan di sudut sekolah.
Berbeda dengan dia,
Aku dan kamu akhirnya saling mengenal.
Sampai suatu ketika,
Aku tidak pernah tahu ternyata kamu mencintaiku.
Kamu mengumpulkan keberanian untuk mendekatiku.
Kemudian aku dan kamu menjadi dekat.
Tetapi aku dan kamu belum menjadi kita.

Sebelum kamu mendekatiku.
Aku melihat dia lagi.
Aku bertemu dengannya di sekolah.
Rupanya dunia begitu sempit,
Kamu dan dia adalah sahabat sejati.
Seperti bintang dan malam hari,
Tidak pernah bisa dipisahkan.

Saat aku sedang bersamamu, aku bertemu dia lagi.
Saat itu juga aku tahu dia adalah Pijar.
Aku, kamu dan dia kemudian sering bersama.
Kamu selalu dengan dia,
Sedangkan aku hanya dengan diriku yang sibuk mencintai dia dalam diam.

Semakin lama aku, kamu dan dia semakin dekat.
Kami sering menghabiskan waktu bersama dan bercerita banyak hal.
Aku baru tahu,
Ternyata aku dan dia memiliki nasib yang sama: sama-sama selalu menjadi orang ketiga.

Pantas saja aku mencintai dia.
Aku dan dia memiliki kesamaan.
Semua yang aku inginkan ada di dia.
Aku nyaris saja ingin merubah kamu seperti dia.
Tetapi tentu saja itu tidak bisa karena kamu bukan dia.

Makin lama kamu makin mencintaiku.
Makin lama pula aku harus berusaha menyingkirkan perasaan terlarang ini untuk dia.
Karena aku tidak mungkin mencintai dia.
Aku tidak ingin membuat persahabatan kamu dan dia menjadi hancur.
Tetapi aku juga tidak mau membohongi perasaanku sendiri.
Bahwa ternyata aku mencintai dia, bukan kamu.

Mungkin dia tidak pernah tahu bahwa sebenarnya aku mencintai dia.
Karena sebenarnya jika dia tahu pun itu tidak akan berarti apa-apa.
Walaupun ternyata dia juga mencintaiku,
Tetapi aku dan dia tidak mungkin bisa bersama.
Karena akan mengkhianati persahabatan kalian.

Kemudian ku putuskan sesuatu,
Aku akan melupakan dia dan mulai mencintaimu.
Tetapi saat aku mencintaimu saat itu juga kamu malah meninggalkan ku.
Berbeda dengan dia yang berusaha menenangkanku, kamu malah tega membiarkanku menangis.

Akhirnya aku dan kamu menjauh.
Aku tidak ingin semakin terluka jika terus bersamamu.
Tapi aku juga tidak ingin jauh dari dia.
Mau bagaimana lagi
Memang sudah takdirnya aku tidak diizinkan untuk mencintai kamu ataupun dia
Makannya Tuhan memisahkan kita
Mungkin itu jalan terbaik untuk aku kamu dan dia.

Aku yakin satu saat pasti aku akan bahagia, bukan dengan kamu. Tetapi dengan dia. Entah dia Pijar ataupun dia-dia yang lain.

Selasa, 03 Maret 2015

Dia Bukan Kamu

Hari ini aku cukup lelah. Tadinya aku akan melampiaskannya pada rentetan buku-buku tak berdosa. Aku ingin membacanya sampai habis tak tersisa agar otakku dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat. Bukan malah memikirkan hal-hal yang tidak penting (dibaca: kamu).

Jujur aku masih belum bisa terima atas keputusanmu tempo lalu. Semudah itu berpaling dan berkata maaf. Mengatasnamakan logika tapi melupakan emosi. Ah sudahlah, Aku semakin benci dengan logika! Bukannya aku terlalu larut ke dalam perasaan. Tetapi unsur emosi disini sangat berperan penting dibandingkan hanya dengan logika semata.

Sore yang lelah ini, aku seperti mendapatkan sentilan semangat dari ponselku. Dia yang dulu pernah singgah dihati mengajakku untuk bertemu. Entah ada angin apa. Tapi aku merasa senang. Ku batalkan rencana untuk membaca buku lalu aku bergegas menemuinya.

Padepokan Jati Rasa. Tempat ini masih saja sama seperti dulu terakhir kali dia mengajakku kesini. Sebuah rumah kecil yang dilengkapi dengan ornamen dan alat musik sunda yang khas. Dia mengajakku untuk menyaksikannya memainkan alat musik itu. Telingaku dimanjakan oleh alunan lagu sunda yang indah. Dia memang hebat dalam hal ini. Salut! Jaman sekarang masih ada pemuda yang dengan bangga nya melestarikan budaya sunda.

Cukup! Jangan sampai aku terhinotis lagi. Tapi kali ini aku hanya ingin mengobati hatiku yang terluka karenamu. Mengingatmu membuatku sakit tapi ada kalanya bertemu itu menyembuhkan luka. Tentu saja bukan bertemu denganmu. Tapi dengan dia. Ahmadireja Ginan.

Namun aku juga pernah terluka karena dia. Kamu dan dia sama-sama jahat. Tetapi setidaknya dia masih punya perasaan. Dia berhasil memainkan emosi, mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Ditemani alunan instrumen lagu sunda, aku dan dia saling melepas rindu satu sama lain. Aku tahu dia merindukanku. Begitupun dengan aku yang sedari tadi memperhatikan dia. Aku suka cara dia menatapku dengan segaris senyuman yang menenangkan jiwa.

Suasana berubah menjadi sedikit canggung ketika aku dan dia mulai melibatkan orang lain masuk ke dalam obrolan. Aku tahu dia tidak suka itu. Begitupun dengan aku. Tetapi rasa penasaranku mengalahkan segalanya. Aku masih penasaran dengan teman KKN nya yang katanya sampai sekarang masih setia mencintainya. Tak lupa dia juga menanyakan soal kamu. Rupanya hatinya teramat cemburu ketika melihat foto kita berdua.

Apa ? Cemburu ?Mengapa dia cemburu ? Apa mungkin dia mencintaiku ? Disitu aku terdiam tak banyak bicara. Aku tidak menyangka dia ternyata benar cemburu tapi dia menyembunyikannya dariku. Aku kira dia sudah tidak peduli denganku karena kita sudah lama tidak kontekan. Aku menyesal pernah mengumbar foto bersamamu. Seharusnya dengan dia. Karena memang sebenarnya yang aku inginkan adalah dia. Bukan kamu.

Aku tahu dia sudah mengetahui semuanya. Dia hanya memastikan bahwa apa yang diketahuinya itu benar dari sumbernya langsung. Aku terpancing untuk menceritakan tentang kamu kepadanya. Belum selesai aku bercerita dia tiba-tiba terlihat beda. Dia bilang jangan diteruskan. Aku tahu dia cemburu. Aku senang dia cemburu. Itu berarti dia mencintaiku ?

Kemudian dia menyentuh tanganku. Tangannya terasa hangat. Nyaman sekali rasanya. Aku tidak mau melepaskannya.  Aku bisa merasakan desiran darah dan detak jantungnya disini. Seperti menyatu dengan darahku, jantungku ikut berdegup. Apakah dia merasakan hal yang sama ?

Ginan. Aku sayang Ginan. Walau dulu aku sempat membencinya dan mencoba berpaling tetapi aku dan dia memiliki banyak kesamaan. Itu yang membuatku nyaman bersamanya. Karena sifatnya sifatku juga. Aku dan dia hampir sama. Aku menemukan diriku di dalam dirinya.

Ginan Ahmadireja. Di dalam namanya ada namaku. Di dalam hatinya apa ada aku ? :)

Rabu, 04 Februari 2015

Logika yang Tidak Berperasaan

"Hujan yang datang dengan tiba-tiba dan deras akan lebih cepat reda dibandingkan dengan hujan yang datang secara perlahan. Begitu pula dengan cinta."

Aku tidak tahu itu teori darimana. Tetapi itu memang benar. Seharusnya dari dulu aku percaya itu. Ku pikir itu hanya sebuah hipotesis yang belum jelas terbukti kebenarannya.

Dulu aku pernah mengatakannya kepadamu saat kau mulai mengendap-ngendap masuk ke dalam kehidupanku. Kau bilang teori itu tidak benar dan kamu bisa membuktikannya. Lalu saking tingginya intelegensimu, kamu berani menatang teori. Merangkai kerangka berpikir dengan logika tapi melupakan emosi. Sayang sekali, hipotesis mu tidak terbukti.

Masih teringat jelas dalam benakku ketika dulu kamu begitu terobsesi untuk memilikiku. Kamu berusaha melalukan apapun demi kebahagiaanku. Kamu rela melakukan apapun untukku. Disitu kamu terlihat begitu memperjuangkanku. Kamu memang baik, pintar dan sangat cerdas. Aku akui itu. Tapi sayang, kamu melupakan satu hal: emosi.

Aku sama sekali tidak akan pernah melupakan sedikitpun kebaikanmu. Aku banyak berhutang budi kepadamu. Kamu memang baik. Entah memang sifat alami dalam dirimu ataukah sebenarnya ada maksud lain dibalik kebaikanmu (dibaca: pura-pura baik)

Kamu memang pintar. Logikamu memang selalu benar tapi tidak pernah tepat. Jalan pikiranmu sangat rasional tetapi tidak melibatkan unsur perasaan didalamnya. Kamu pintar menyembunyikan segala sesuatu yang kau tak suka dariku. Entah kamu yang terlalu pintar ataukah aku yang terlalu bodoh dan tidak peka.

Kamu juga memang cerdas. Intelegensimu diatas rata-rata. Kamu memiliki kemampuan untuk membuatku jatuh hati. Kamu selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat aku mencintaimu. Kamu bisa membuatku menjadi seperti ini. Kamu memang hebat!

Tapi sayang. Logika mu terlalu tinggi. Sehingga kamu menyepelekan unsur perasaan. Kamu terlalu banyak melihat yang kebenaran yang sebenarnya semu. Tanpa mendengarkan suara hati yang sudah pasti nyata.

Kecerdasan intelektualmu memang tinggi. Tetapi kecerdasan emosionalmu nol besar. Kamu selalu berlindung dibalik logika dan selalu menyalahkan perasaan. Rasa empati mu sangat rendah bahkan mungkin kamu tidak memiliki itu. Kamu tidak bisa memposisikan dirimu menjadi aku sehingga kamu tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi aku.

Kamu bilang, kamu mengerti posisi aku. Tetapi lagi-lagi kamu selalu melindungi diri dibalik logika, logika dan logika. Segala sesuatunya harus dilihat dari sudut pandang logika ? Kamu salah besar! Sudahlah. Aku sudah muak dengan logikamu yang tidak berperasaan.

Dulu kamu tiba-tiba datang dan mengajakku berlari menuju kebahagiaan ketika aku sedang sakit kaki. Seperti malaikat tak bersayap, dengan sabar kau coba mengobati lukaku hingga nyaris kering dan hampir siap untuk berlari. Ketika aku telah selesai mengumpulkan segenap kekuatan untuk berlari bersamamu, ketika itu pula kamu malah berpaling. Berlari bersama orang lain didepanku. Meninggalkan luka baru yang begitu pedih dan menyakitkan.

Luka itu belum sepenuhnya kering. Kini kau malah menambah luka baru disaat yang tidak tepat. Kamu tahu posisi aku sekarang ? Aku sangat butuh suntikan motivasi ekstern untuk melanjutkan tugas akhirku sebagai mahasiswa tingkat akhir. Bukankah kamu juga mahasiswa tingkat akhir? Kamu tahu kan bagaimana sulitnya menaklukan skripsi dan dosen pembimbing ? Susah payah aku menghilangkan berbagai emosi negatif dan membuangnya jauh-jauh dari pikiranku. Kamu malah menambah beban pikiranku dengan hal yang tidak penting seperti ini.

Sakit rasanya. Pantas saja beberapa hari ini ada sesuatu yang mengusik batinku. Begitu terasa ngilu tak tertahankan. Aku tidak tahu pasti mengapa aku merasakan itu. Tetapi suara hatiku seperti mengisyaratkan sesuatu. Memberi petunjuk lewat intuisi.

Ternyata banyak sekali yang kamu sembunyikan dari aku. Padahal dari awal sudah ku tekankah bahwa kejujuran adalah segalanya. Aku paling tidak suka dibohongi!

Aku masih tidak percaya kamu tega melalukan hal ini kepadaku. Aku tidak menyangka Mr. Right ternyata bisa dengan cepat berubah menjadi Mr. Totally Wrong!

Aku tidak menyalahkan kamu ataupun wanita itu. Disini aku juga salah. Tetapi yang aku sayangkan adalah caramu pergi. Andai saja kamu berterus terang. Bukan dengan cara seperti ini, aku mengetahuinya dari orang lain. Bukan dari kamu langsung. Itu teramat menyakitkan.

Air mataku tidak henti-hentinya mengalir. Jika aku putri duyung, mungkin aku sudah menjadi kaya raya karena menghasilkan jutaan ton mutiara. Tetapi aku hanya wanita biasa yang hatinya terluka. Tak kuasa menahan sakit yang teramat sangat hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi selain meluapkannya lewat tangisan.

Apakah kamu berpikir. Di dalam tangisku aku menyelipkan banyak doa untukmu. Aku mendengus dalam hati. Mengeluarkan sumpah serapah yang tertuju kepadamu. Aku benar-benar membencimu. Aku memaafkanmu dan mengikhlaskanmu dengan wanita lain. Tetapi sampai kapanpun aku tidak akan melupakan ini.

Mungkin saat ini belum terasa efeknya karena kamu masih dibutakan oleh cinta kepada wanita itu. Tapi aku yakin suatu saat akan tiba saatnya semuanya berbalik. Suatu saat kamu akan merasakan sakitnya jadi aku. Suatu saat kamu pasti akan menyesal dan akan membali kepadaku. Tetapi jika saat itu tiba, mohon maaf pintu hatiku sudah tertutup rapat-rapat untukmu.

Aku ingin kamu memiliki rasa empati. Mengetahui bagaimana rasa sakitnya menjadi aku dengan cara merasakannya langsung. Aku ingin memberimu pelajaran. Jika kamu gagal mendapatkan hati wanita lalu kamu dengan entengnya mencari yang baru. Itu bukan berjuang namanya. Tapi kamu hanya terobsesi semata.

Kita lihat nanti suatu saat sumpahku pasti jadi kenyataan. Kini aku hanya tinggal jadi penonton. Menunggu tanggal main dari semua peristiwa yang Allah sutradarai.

Nikmati saja hasil keegoisan logikamu. Suatu saat perasaanku akan menang. Karena sesungguhnya kecerdasan intelektual (logika) hanya berpengaruh 20% dari kesuksesan (kebahagiaan). Itu artinya perasaanku menang 80%  daripada logikamu. Dengan kata lain, aku akan hidup jauh lebih bahagia dibanding kamu dan tentunya aku lebih bahagia tanpamu.

Lihat saja nanti suatu saat aku akan bahagia dan menertawakan logikamu yang tidak berperasaan itu.

Selasa, 06 Januari 2015

Bertahan atau Tinggalkan ?

Dulu aku tak terlalu menginginkanmu. Awalnya aku hanya iseng mencoba memilihmu. Tak ku sangka kita berjodoh. Padahal diluar sana ada temanku yang sangat mengharapkanmu. Aku sempat merasa tidak enak pada temanku karena ternyata pada kenyataannya engkau ditakdirkan untukku bukan untuknya. Entah aku harus merasa sedih atau senang yang jelas aku hanya bisa bersyukur.

Kemudian aku masuk ke dalam kehidupanmu. Aku ingin melengkapi kekuranganmu dan berusaha menyempurnakannya. Dari pagi hingga petang aku selalu bersama denganmu. Saat itu kita tidak bisa terpisahkan. Suka duka telah kita lewati. Tetapi perjuanganku untuk mendapatkan fakta tentang dirimu memang cukup sulit. Karena dirimu terlalu pemalu. Tak sembarangan orang bisa mendapatkan informasi tentangmu. Tetapi aku tetap berusaha.

Walaupun dulu perjuanganku sempat sirna karena Bapak menyuruhku untuk segera mengenalkanmu kepadanya. Saat itu aku kurang memiliki fakta akurat tentang dirimu. Sehingga aku hanya bisa mengawang-ngawang tentang dirimu.

Sebenarnya aku sudah cukup lelah untuk berlari mengejarmu. Setiap kali ku bertemu denganmu, kamu selalu tidak pernah mau untuk terbuka. Selalu ada alasan ketika aku hampir berhasil untuk memilikimu. Apakah aku harus tetap bertahan ? Sedangkan sang waktu terus menuntutku untuk menatap masa depan. Apa kamu cukup pantas untuk ku perjuangkan? Ataukah aku harus melupakanmu dan mencari penggantimu ?

Sedangkan untuk mencari penggantimu bukanlah hal yang mudah. Butuh proses dan waktu yang lama. Kepastian yang ku terima setelah penantian panjangpun belum tentu seindah dirimu.

Apa maumu hey? Tolong jangan berkelit lagi. Kali ini aku teramat sangat lelah. Waktuku telah habis terbuang sia-sia karenamu. Bukan aku perhitungan dan tidak mau berjuang, tetapi kini aku hilang arah. Aku seperti berlari ditempat. Tertinggal jauh dari mereka.

Apa susahnya menunjukkan dirimu. Jangan seperti putri malu. Kamu itu indah. Semua orang harus tahu itu. Percayalah padaku.

Ku mohon tunjukkanlah dirimu. Jangan berkelit lagi. Aku ingin bertemu denganmu. Jangan takut, ditanganku rahasiamu aman. Percayalah padaku.

Jangan membuatku bingung. Jangan terus menutup diri. Aku butuh kepastian. Jika memang kamu tidak mau, yasudah aku akan mengalah. Aku akan meninggalkanmu. Jika itu maumu :')

Minggu, 04 Januari 2015

Saya Berjanji, Suatu Saat Saya Akan Sukses!

Main-hang out-senang-malas-mencari kebahagiaan.

Setiap hari terus begitu. Seperti siklus kehidupan yang tidak pernah berhenti. Hanya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.

Mau sampai kapan main terus ?
Mau sampai kapan hang out terus ?
Mau sampai kapan bersenang-senang terus ?
Mau sampai kapan bermalas-malasan terus ?
Mau sampai kapan mencari kebahagiaan terus ?

Kebahagiaan ?
Sudah ketemu kebahagiaannya ?
Sudah selesai senang-senangnya ?
Katanya ingin bahagia, ingin hidup senang.
Seperti ini sudah bahagia ?
Yakin sudah bahagia ?

Bahagia itu ketika apa yang kita inginkan sudah di depan mata.
Hal kecilnya wisuda.
Hai Glaverina Reiska...
Skripsi apa kabar ?
Skripsi sudah dikerjakan ?
Skripsi sudah beres ?
Kapan wisuda ?

Hmmm...Hmmm...Hmmm..
Tentu kamu tidak bisa menjawab kan ?
Selama ini kamu kemana saja ?
Orang lain sudah seminar skripsi, kamu belum.
Kemarin-kemarin sibuk PPL ?
Apa kabar dengan mereka yang sudah seminar ?
Oh. Kan kamu pegang 5 kelas. Sibuk sekali ya ?
Memang ke sekolah hari apa saja ?
Full satu minggu ?
Tidak sih. Rabu, jumat, sabtu, minggu libur.
Mengapa tidak dimanfaatkan ?
Menyesal bukan ?
Ya, sangat menyesal :(

Terus bagaimana ?
Sekarang sudah bulan januari 2015.
WISUDA APRIL 2015 GAGAL!!!
Seminar bulan ini ? Memang bisa ?
Datanya belum ada :(
Alasan !
Kan masih bisa mengerjakan Bab 2 dan Bab 3. Punyamu masih copas bukan ?
Iya :( maaf :(

Mengapa ini bisa terjadi ?
Mau alasan apalagi ?
Karena JOMBLO ?
Mau pakai alasan itu ? BULLSHIT !
Kalau memang kamu pengen punya pacar untuk menyemangati, lihat disana ada Andi di depan mata.
Mau pacaran ?
Bukannya itu doa mu agar ada penyemangat skripsi kan ?

Hmmmm. Aku terdiam tak bisa menjawab.

Sekarang sudah tidak ada waktu lagi.
Kamu sudah terlalu banyak membuang waktu.
Sekarang wakunya kamu berjuang.
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan ditangan orang lain.
Walaupun ada orang yang bilang,
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan di tangan perguruan tinggi.
Tapi setidaknya suatu saat kamu akan bangga,
Kelak namamu akan menjadi Glaverina Reiska, S,Pd

Bayangkan betapa bahagianya orang tua mu melihatmu memakai toga.
Betapa bangganya mereka melihat anaknya mempunyai gelar Sarjana Pendidikan.

Sampai detik ini apa yang sudah kamu berikan kepada mereka ?
Belum :(
Kapan kamu akan memberikannya ?
Ingat Glave, waktu terus berputar.
Semakin lama mereka semakin tua.
Semakin hari umur mereka pun akan bertambah.
Sebentar lagi mereka pensiun.
Kamu ingin kan melihat mereka bahagia dan bangga karena memiliki anak sepertimu ?

Satu pesanku untukmu hai diriku.
Jangan pernah sia-siakan waktu mu.
Jangan sampai kamu menyesal.

Ingat umurmu juga Glave, sekarang kamu sudah 21 tahun.
Tahun ini sudah 22 tahun.
Beberapa tahun lagi kamu pasti menginginkan punya pendamping hidup, tinggal di istana, punya malaikat kecil,hidup bahagia, dan sukses.

Jadi tunggu apalagi ?
Ayo kerjakan skripsi.
Bismillah "Pengaruh Rotasi Pekerjaan terhadap Produktivitas Kerja Karyawan dengan Variabel Kontrol Umur dan Masa Kerja"
Kejar wisuda agustus 2015.
Bikin semua orang bangga padamu.

Janji mau berusaha untuk sukses ?

OKE SAYA BERJANJI MULAI DETIK INI AKAN MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH. SAYA AKAN MERAIH GELAR SARJANA PENDIDIKAN. SAYA AKAN KEJAR IMPIAN SAYA UNTUK MERAIH KESUKSESAN. SAYA BERJANJI, SUATU SAAT SAYA AKAN SUKSES!!!!! AAMIIN...

Tanimulya, 5 Januari 2015

Glaverina Reiska
1102768

Kamis, 25 Desember 2014

Kekasih Masa Depan

Wahai kekasih masa depan
Mendekatlah padaku
Jangan terus bersembunyi
Aku ingin bertemu denganmu

Wahai kekasih masa depan
Jika kita bertemu kelak
Aku tidak akan melupakan momen terindah itu
Pertemuan itu akan menjadi gerbang awal kebahagiaan kita

Wahai kekasih masa depan
Jika kita telah bertemu dan saling jatuh cinta
Aku bisa pastikan kita akan menjadi pasangan paling bahagia sedunia
Kita adalah takdir cinta yang terindah

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah kau ragu padaku
Aku adalah orang yang Tuhan kirim untuk mencintaimu sepenuh hati
Aku akan menyayangimu setulus hatiku

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah mengkhawatirkanku
Aku bukan gadis manja yang selalu ingin ditemani sepanjang hari
Aku sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendirian

Wahai kekasih masa depan
Aku tidak akan menuntut apapun darimu
Aku hanya ingin kau mencintaiku sepenuh hati
Dan aku ingin kita bersama selamanya

Wahai kekasih masa depan
Walau entah kapan kita bisa bertemu
Tetapi tak pernah terlewat doa di sepertiga malamku
Semoga takdir akan mempertemukan kita dalam satu ikatan suci

Aamiin :)

Sabtu, 20 Desember 2014

Dear You

Dear You,

Hey kamu.
Iya kamu.
Kamu yang belakangan ini selalu mengisi hari-hariku.
Entah mengapa detik ini aku memikirkanmu.

Aku tahu.
Aku memang bodoh.
Dan aku sadari itu.
Aku terlalu terbelenggu oleh bayang-bayang masa laluku.
Aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
Aku terlalu sibuk mencari seseorang yang sempurna.
Aku tidak pernah sadar dengan ketulusan hatimu.
Tetapi kamu selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Aku tahu.
Aku memang jahat.
Dan aku sadari itu.
Bahkan saat aku sedang bersamamu,
aku masih memikirkan dan membahas sosok masa laluku.
Tanpa memikirkan betapa teriris-irisnya hatimu.
Tetapi kamu masih bisa tersenyum untukku.

Aku tahu.
Aku memang egois.
Dan aku sadari itu.
Aku masih ingin bersenang-senang dengan pria lain.
Aku masih ingin jalan bersama pria lain.
Aku masih ingin bebas melakukan apapun dengan pria lain.
Tanpa memikirkan betapa terbakarnya hatimu saat itu.
Tetapi kamu selalu sabar.

Aku tahu.
Aku memang kekanak-kanakan.
Dan aku sadari itu.
Aku memang labil.
Aku memang emosian.
Aku memang "rudet".
Tanpa memikirkan betapa kesalnya perasaanmu.
Tetapi lagi-lagi kamu selalu sabar menghadapiku.

Maaf.
Maafkan aku.
Maafkan aku yang bodoh.
Maafkan aku yang jahat.
Maafkan aku yang egois.
Maafkan aku yang bodoh, jahat dan egois.

Aku terlalu terbelenggu oleh ilusi, emosi dan ego ku sendiri.
Aku terlalu dibutakan oleh kesakithatianku terhadap masa lalu.
Aku terlalu tunduk dengan rasa penasaran dengan masa lalu.
Aku terlalu naif, egois, dan keras kepala.
Aku terlalu terobsesi dengan masa laluku.

Kini aku sadar.
Aku tidak perlu menunggu seseorang yang tidak pasti.
Aku tidak perlu menanti sesuatu yang tidak pasti
Aku tidak perlu memperjuangkan sesuatu yang tidak patut untuk diperjuangkan.
Aku tidak perlu berkorban demi orang yang tidak mempedulikanku.
Aku tidak perlu mencintai seseorang yang tidak tulus mencintaiku.

Kini aku sadar.
Ada hati yang sedang menunggu ku.
Ada hati yang sedang menanti.
Ada hati yang sedang memperjuangkan ku.
Ada hati yang rela berkorban untukku.
Ada hati yang benar-benar tulus mencintaiku.

Siapakah dia ?
Kamu.
Iya kamu.
Kamulah orangnya.
Andi Wira Saputra :)

With Love,
Glaverina Reiska.

Sabtu, 06 Desember 2014

Thinking of You, Rez!

Hari itu langit sedang meneteskan buli-bulir air kegalauan. Aku terpaksa berhenti di salah satu mall yang aku lewati untuk berteduh. Daripada hujan-hujanan, lebih baik aku berteduh sambil memanjakan perut yang meronta-ronta minta diisi pikirku. Entah mengapa aku sedang tidak mood hujan-hujanan. Padahal biasanya aku suka berdiam diri dibawah hujan. Membiarkan tubuhku dialiri bulir-bulir air yang akan membunuh segenap perasaan gundah gulana.

Saat sedang antri membeli makan, tiba2 handphone ku berbunyi. Rupanya ada bbm dari Milati.
Glave lagi dimana ? Bisa ke rumah Andi ngga ? Aku ingin main.

Secepat kilat aku membalas,
Di BTC say. Hayu aja tapi sebentar aku mau makan dulu.

Kemudian handphone ku bergetar,
Ga usah makan dulu ih bareng aja aku juga laper belum makan.

Aku terpaksa meninggalkan antrian dengan pura2 ditelepon karena malu. Seperti orang aneh sudah mengantri panjang-panjang saat sudah didepan kasir malah pergi.

Kemudian aku langsung berjalan ke parkiran. Setibanya disana ternyata hujan. Aku lantas menghubungi Milati. Setelah berkompromi akhirnya aku menunggu dijemput oleh mereka.

Sambil menunggu aku berjalan ke arah mushola. Tiba-tiba pikiranku terlempar pada 2 tahun yang lalu. Tempat ini mengingatkanku pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rezky. Tempat ini memang banyak menyimpan kenangan ku bersamanya.

Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai juga. Aku yang sedang berdiri dipinggir jalan lantas masuk ke mobil. Ternyata Milati datang bersama Andi dan Novan. Ku harap setelah bertemu mereka aku bisa terlepas dari ilusiku. Ternyata aku salah. Aku malah semakin terjerat ke dalam ilusiku. Bahkan bertambah parah. Selama di perjalanan aku masih terbayang Rezky.

Saat melihat ke belakang ternyata Milati dan Novan sedang bermesraan. Mengingatkan ku pada Rezky. Dulu kami pernah melakukan hal yang sama. Hah tambah galau!

Entah efek setelah hujan atau memang aku yang masih belum bisa mengontrol perasaanku yang sedang tidak karuan. Aku masih menatap ke luar jendela. Tetapi pikiranku jauh melayang-layang memikirkan Rezky. Hanya Rezky, Rezky dan Rezky. Kedengarannya seperti berlebihan. Tapi inilah yang ku rasakan.

Sesekali Andi berusaha menghibur, tapi aku hanya tertawa seperti terpaksa. Ngomong-ngomong soal Andi, belakangan ini aku merasa ada yang aneh dengannya. Dia jadi sering bbm dan memujiku seperti memberi kode bahwa ia tertarik kepadaku. Entahlah. Mungkin ia hanya bercanda. Andi memang sangat humoris. Walau terkadang humornya membuat ku hilang selera.

Aku mematung. Benar-benar kaku. Canggung. Malu. Bingung. Semuanya campur aduk.

Cause when I'm with him I'm thinking of you...

Lagu Katy Perri itu serasa mewakili perasaanku. Ragaku memang disini. Berada di dekat Andi. Tetapi pikiranku sedang menjelajah kemana-mana.

Aku tahu Andi pasti menyimpan rasa padaku. Terlihat jelas dari bbm nya dan tingkah lakunya yang berbeda belakangan ini. Selidik demi selidik, ternyata Andi sudah mengincarku dari sejak awal PPL. Tetapi ia belum mempunyai keberanian untuk mendekatiku.

Kami memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan di kota Bandung. Makanannya memang terkenal enak tapi bagiku terasa hambar.

Mengapa aku kurang menikmati perjalanan ini. Pikiranku masih saja bercabang. Memikirkan ini itu yang membuat kegalauan yang dibuat sendiri oleh ilusiku.

Setelah makan, kami mengisi bensin dan mampir ke toko bunga. Sebenarnya aku sudah feeling pasti Andi akan memberikannya padaku. Aku ingin melarangnya tetapi takut dikira terlalu percaya diri.

Kemudian kami memutuskan untuk pulang. Aku minta diturunkan di BTC untuk mengambil motorku. Tadinya Andi ingin mengantarkanku pulang karena tidak tega membiarkanku pulang sendirian malam-malam. Tetapi aku menolak. Aku tidak ingin merepotkan Andi. Lagi pula aku sedang ingin sedirian.

Saat akan turun dari mobil, ternyata Andi memberikan bunga mawar merah padaku. Aku terkejut. Bingung. Perasaanku campur aduk seperti gado-gado. Satu sisi aku senang, satu sisi aku berharap Rezky yang memberikannya padaku. Otakku dipenuhi oleh buaian ilusi-ilusi.

Setibanya di rumah. Aku langsung menghubungi Andi.
Terimakasih ya. Maaf ngerepotin.

Aku lantas memandangi bunga mawar pemberian Andi. Terdiam. Perasaan berdosa menyelimuti pikiranku. Aku menyesal. Mengapa aku tidak profesional. Mengapa aku bertindak seperti itu? Mengapa aku terlalu terbawa suasana? Pasti itu akan melukai perasaan Andi. Bodoh memang aku ini. Jahat memang. Aku memang jahat.

Aku menyesali diriku sendiri. Mengapa setiap kali menatap Andi bayang-bayang Rezky selalu menghantui? 

To be continued...

Selasa, 02 Desember 2014

Sajak Kesepian

Sendiri
Aku sendiri
Selalu sendiri
Lebih senang menyendiri
Kemana-mana sendiri
Sudah terbiasa sendiri
Mungkin aku terlalu mandiri

Sendirian
Aku sendirian
Hanya aku dan diriku
Berkawan dengan kesendirian
Bersahabat dengan kesepian
Sendiri sama dengan sepi

Apakah aku seperti matahari?
Bercahaya tapi sendirian
Ataukah aku seperti rembulan?
Bersinar tapi sendirian

Sendirian
Lagi-lagi sendirian
Apa kalian pernah berpikir?
Matahari dan rembulan yang berkilauan itu
Ternyata kesepian
Menatap dunia yang ramai
Sementara mereka hanya sendirian

Matahari sendirian
Rembulan sendirian
Bisa jadi mereka ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang siang dan malam

Aku sendirian
Kamu sendirian
Bisa jadi kita ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang ego masing-masing

Aku sendirian
Kamu sendirian
Aku dengan ego ku
Kamu dengan ego mu

Aku sendiri
Kamu sendiri
Aku dan kamu
Sama dengan kita

Aku tahu aku kesepian
Aku tahu kamu kesepian
Sendiri itu sepi
Berdua itu saling melengkapi

Tetapi mengapa kita memilih untuk sendiri ?