Rabu, 04 Februari 2015

Logika yang Tidak Berperasaan

"Hujan yang datang dengan tiba-tiba dan deras akan lebih cepat reda dibandingkan dengan hujan yang datang secara perlahan. Begitu pula dengan cinta."

Aku tidak tahu itu teori darimana. Tetapi itu memang benar. Seharusnya dari dulu aku percaya itu. Ku pikir itu hanya sebuah hipotesis yang belum jelas terbukti kebenarannya.

Dulu aku pernah mengatakannya kepadamu saat kau mulai mengendap-ngendap masuk ke dalam kehidupanku. Kau bilang teori itu tidak benar dan kamu bisa membuktikannya. Lalu saking tingginya intelegensimu, kamu berani menatang teori. Merangkai kerangka berpikir dengan logika tapi melupakan emosi. Sayang sekali, hipotesis mu tidak terbukti.

Masih teringat jelas dalam benakku ketika dulu kamu begitu terobsesi untuk memilikiku. Kamu berusaha melalukan apapun demi kebahagiaanku. Kamu rela melakukan apapun untukku. Disitu kamu terlihat begitu memperjuangkanku. Kamu memang baik, pintar dan sangat cerdas. Aku akui itu. Tapi sayang, kamu melupakan satu hal: emosi.

Aku sama sekali tidak akan pernah melupakan sedikitpun kebaikanmu. Aku banyak berhutang budi kepadamu. Kamu memang baik. Entah memang sifat alami dalam dirimu ataukah sebenarnya ada maksud lain dibalik kebaikanmu (dibaca: pura-pura baik)

Kamu memang pintar. Logikamu memang selalu benar tapi tidak pernah tepat. Jalan pikiranmu sangat rasional tetapi tidak melibatkan unsur perasaan didalamnya. Kamu pintar menyembunyikan segala sesuatu yang kau tak suka dariku. Entah kamu yang terlalu pintar ataukah aku yang terlalu bodoh dan tidak peka.

Kamu juga memang cerdas. Intelegensimu diatas rata-rata. Kamu memiliki kemampuan untuk membuatku jatuh hati. Kamu selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat aku mencintaimu. Kamu bisa membuatku menjadi seperti ini. Kamu memang hebat!

Tapi sayang. Logika mu terlalu tinggi. Sehingga kamu menyepelekan unsur perasaan. Kamu terlalu banyak melihat yang kebenaran yang sebenarnya semu. Tanpa mendengarkan suara hati yang sudah pasti nyata.

Kecerdasan intelektualmu memang tinggi. Tetapi kecerdasan emosionalmu nol besar. Kamu selalu berlindung dibalik logika dan selalu menyalahkan perasaan. Rasa empati mu sangat rendah bahkan mungkin kamu tidak memiliki itu. Kamu tidak bisa memposisikan dirimu menjadi aku sehingga kamu tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi aku.

Kamu bilang, kamu mengerti posisi aku. Tetapi lagi-lagi kamu selalu melindungi diri dibalik logika, logika dan logika. Segala sesuatunya harus dilihat dari sudut pandang logika ? Kamu salah besar! Sudahlah. Aku sudah muak dengan logikamu yang tidak berperasaan.

Dulu kamu tiba-tiba datang dan mengajakku berlari menuju kebahagiaan ketika aku sedang sakit kaki. Seperti malaikat tak bersayap, dengan sabar kau coba mengobati lukaku hingga nyaris kering dan hampir siap untuk berlari. Ketika aku telah selesai mengumpulkan segenap kekuatan untuk berlari bersamamu, ketika itu pula kamu malah berpaling. Berlari bersama orang lain didepanku. Meninggalkan luka baru yang begitu pedih dan menyakitkan.

Luka itu belum sepenuhnya kering. Kini kau malah menambah luka baru disaat yang tidak tepat. Kamu tahu posisi aku sekarang ? Aku sangat butuh suntikan motivasi ekstern untuk melanjutkan tugas akhirku sebagai mahasiswa tingkat akhir. Bukankah kamu juga mahasiswa tingkat akhir? Kamu tahu kan bagaimana sulitnya menaklukan skripsi dan dosen pembimbing ? Susah payah aku menghilangkan berbagai emosi negatif dan membuangnya jauh-jauh dari pikiranku. Kamu malah menambah beban pikiranku dengan hal yang tidak penting seperti ini.

Sakit rasanya. Pantas saja beberapa hari ini ada sesuatu yang mengusik batinku. Begitu terasa ngilu tak tertahankan. Aku tidak tahu pasti mengapa aku merasakan itu. Tetapi suara hatiku seperti mengisyaratkan sesuatu. Memberi petunjuk lewat intuisi.

Ternyata banyak sekali yang kamu sembunyikan dari aku. Padahal dari awal sudah ku tekankah bahwa kejujuran adalah segalanya. Aku paling tidak suka dibohongi!

Aku masih tidak percaya kamu tega melalukan hal ini kepadaku. Aku tidak menyangka Mr. Right ternyata bisa dengan cepat berubah menjadi Mr. Totally Wrong!

Aku tidak menyalahkan kamu ataupun wanita itu. Disini aku juga salah. Tetapi yang aku sayangkan adalah caramu pergi. Andai saja kamu berterus terang. Bukan dengan cara seperti ini, aku mengetahuinya dari orang lain. Bukan dari kamu langsung. Itu teramat menyakitkan.

Air mataku tidak henti-hentinya mengalir. Jika aku putri duyung, mungkin aku sudah menjadi kaya raya karena menghasilkan jutaan ton mutiara. Tetapi aku hanya wanita biasa yang hatinya terluka. Tak kuasa menahan sakit yang teramat sangat hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi selain meluapkannya lewat tangisan.

Apakah kamu berpikir. Di dalam tangisku aku menyelipkan banyak doa untukmu. Aku mendengus dalam hati. Mengeluarkan sumpah serapah yang tertuju kepadamu. Aku benar-benar membencimu. Aku memaafkanmu dan mengikhlaskanmu dengan wanita lain. Tetapi sampai kapanpun aku tidak akan melupakan ini.

Mungkin saat ini belum terasa efeknya karena kamu masih dibutakan oleh cinta kepada wanita itu. Tapi aku yakin suatu saat akan tiba saatnya semuanya berbalik. Suatu saat kamu akan merasakan sakitnya jadi aku. Suatu saat kamu pasti akan menyesal dan akan membali kepadaku. Tetapi jika saat itu tiba, mohon maaf pintu hatiku sudah tertutup rapat-rapat untukmu.

Aku ingin kamu memiliki rasa empati. Mengetahui bagaimana rasa sakitnya menjadi aku dengan cara merasakannya langsung. Aku ingin memberimu pelajaran. Jika kamu gagal mendapatkan hati wanita lalu kamu dengan entengnya mencari yang baru. Itu bukan berjuang namanya. Tapi kamu hanya terobsesi semata.

Kita lihat nanti suatu saat sumpahku pasti jadi kenyataan. Kini aku hanya tinggal jadi penonton. Menunggu tanggal main dari semua peristiwa yang Allah sutradarai.

Nikmati saja hasil keegoisan logikamu. Suatu saat perasaanku akan menang. Karena sesungguhnya kecerdasan intelektual (logika) hanya berpengaruh 20% dari kesuksesan (kebahagiaan). Itu artinya perasaanku menang 80%  daripada logikamu. Dengan kata lain, aku akan hidup jauh lebih bahagia dibanding kamu dan tentunya aku lebih bahagia tanpamu.

Lihat saja nanti suatu saat aku akan bahagia dan menertawakan logikamu yang tidak berperasaan itu.

Selasa, 06 Januari 2015

Bertahan atau Tinggalkan ?

Dulu aku tak terlalu menginginkanmu. Awalnya aku hanya iseng mencoba memilihmu. Tak ku sangka kita berjodoh. Padahal diluar sana ada temanku yang sangat mengharapkanmu. Aku sempat merasa tidak enak pada temanku karena ternyata pada kenyataannya engkau ditakdirkan untukku bukan untuknya. Entah aku harus merasa sedih atau senang yang jelas aku hanya bisa bersyukur.

Kemudian aku masuk ke dalam kehidupanmu. Aku ingin melengkapi kekuranganmu dan berusaha menyempurnakannya. Dari pagi hingga petang aku selalu bersama denganmu. Saat itu kita tidak bisa terpisahkan. Suka duka telah kita lewati. Tetapi perjuanganku untuk mendapatkan fakta tentang dirimu memang cukup sulit. Karena dirimu terlalu pemalu. Tak sembarangan orang bisa mendapatkan informasi tentangmu. Tetapi aku tetap berusaha.

Walaupun dulu perjuanganku sempat sirna karena Bapak menyuruhku untuk segera mengenalkanmu kepadanya. Saat itu aku kurang memiliki fakta akurat tentang dirimu. Sehingga aku hanya bisa mengawang-ngawang tentang dirimu.

Sebenarnya aku sudah cukup lelah untuk berlari mengejarmu. Setiap kali ku bertemu denganmu, kamu selalu tidak pernah mau untuk terbuka. Selalu ada alasan ketika aku hampir berhasil untuk memilikimu. Apakah aku harus tetap bertahan ? Sedangkan sang waktu terus menuntutku untuk menatap masa depan. Apa kamu cukup pantas untuk ku perjuangkan? Ataukah aku harus melupakanmu dan mencari penggantimu ?

Sedangkan untuk mencari penggantimu bukanlah hal yang mudah. Butuh proses dan waktu yang lama. Kepastian yang ku terima setelah penantian panjangpun belum tentu seindah dirimu.

Apa maumu hey? Tolong jangan berkelit lagi. Kali ini aku teramat sangat lelah. Waktuku telah habis terbuang sia-sia karenamu. Bukan aku perhitungan dan tidak mau berjuang, tetapi kini aku hilang arah. Aku seperti berlari ditempat. Tertinggal jauh dari mereka.

Apa susahnya menunjukkan dirimu. Jangan seperti putri malu. Kamu itu indah. Semua orang harus tahu itu. Percayalah padaku.

Ku mohon tunjukkanlah dirimu. Jangan berkelit lagi. Aku ingin bertemu denganmu. Jangan takut, ditanganku rahasiamu aman. Percayalah padaku.

Jangan membuatku bingung. Jangan terus menutup diri. Aku butuh kepastian. Jika memang kamu tidak mau, yasudah aku akan mengalah. Aku akan meninggalkanmu. Jika itu maumu :')

Minggu, 04 Januari 2015

Saya Berjanji, Suatu Saat Saya Akan Sukses!

Main-hang out-senang-malas-mencari kebahagiaan.

Setiap hari terus begitu. Seperti siklus kehidupan yang tidak pernah berhenti. Hanya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.

Mau sampai kapan main terus ?
Mau sampai kapan hang out terus ?
Mau sampai kapan bersenang-senang terus ?
Mau sampai kapan bermalas-malasan terus ?
Mau sampai kapan mencari kebahagiaan terus ?

Kebahagiaan ?
Sudah ketemu kebahagiaannya ?
Sudah selesai senang-senangnya ?
Katanya ingin bahagia, ingin hidup senang.
Seperti ini sudah bahagia ?
Yakin sudah bahagia ?

Bahagia itu ketika apa yang kita inginkan sudah di depan mata.
Hal kecilnya wisuda.
Hai Glaverina Reiska...
Skripsi apa kabar ?
Skripsi sudah dikerjakan ?
Skripsi sudah beres ?
Kapan wisuda ?

Hmmm...Hmmm...Hmmm..
Tentu kamu tidak bisa menjawab kan ?
Selama ini kamu kemana saja ?
Orang lain sudah seminar skripsi, kamu belum.
Kemarin-kemarin sibuk PPL ?
Apa kabar dengan mereka yang sudah seminar ?
Oh. Kan kamu pegang 5 kelas. Sibuk sekali ya ?
Memang ke sekolah hari apa saja ?
Full satu minggu ?
Tidak sih. Rabu, jumat, sabtu, minggu libur.
Mengapa tidak dimanfaatkan ?
Menyesal bukan ?
Ya, sangat menyesal :(

Terus bagaimana ?
Sekarang sudah bulan januari 2015.
WISUDA APRIL 2015 GAGAL!!!
Seminar bulan ini ? Memang bisa ?
Datanya belum ada :(
Alasan !
Kan masih bisa mengerjakan Bab 2 dan Bab 3. Punyamu masih copas bukan ?
Iya :( maaf :(

Mengapa ini bisa terjadi ?
Mau alasan apalagi ?
Karena JOMBLO ?
Mau pakai alasan itu ? BULLSHIT !
Kalau memang kamu pengen punya pacar untuk menyemangati, lihat disana ada Andi di depan mata.
Mau pacaran ?
Bukannya itu doa mu agar ada penyemangat skripsi kan ?

Hmmmm. Aku terdiam tak bisa menjawab.

Sekarang sudah tidak ada waktu lagi.
Kamu sudah terlalu banyak membuang waktu.
Sekarang wakunya kamu berjuang.
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan ditangan orang lain.
Walaupun ada orang yang bilang,
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan di tangan perguruan tinggi.
Tapi setidaknya suatu saat kamu akan bangga,
Kelak namamu akan menjadi Glaverina Reiska, S,Pd

Bayangkan betapa bahagianya orang tua mu melihatmu memakai toga.
Betapa bangganya mereka melihat anaknya mempunyai gelar Sarjana Pendidikan.

Sampai detik ini apa yang sudah kamu berikan kepada mereka ?
Belum :(
Kapan kamu akan memberikannya ?
Ingat Glave, waktu terus berputar.
Semakin lama mereka semakin tua.
Semakin hari umur mereka pun akan bertambah.
Sebentar lagi mereka pensiun.
Kamu ingin kan melihat mereka bahagia dan bangga karena memiliki anak sepertimu ?

Satu pesanku untukmu hai diriku.
Jangan pernah sia-siakan waktu mu.
Jangan sampai kamu menyesal.

Ingat umurmu juga Glave, sekarang kamu sudah 21 tahun.
Tahun ini sudah 22 tahun.
Beberapa tahun lagi kamu pasti menginginkan punya pendamping hidup, tinggal di istana, punya malaikat kecil,hidup bahagia, dan sukses.

Jadi tunggu apalagi ?
Ayo kerjakan skripsi.
Bismillah "Pengaruh Rotasi Pekerjaan terhadap Produktivitas Kerja Karyawan dengan Variabel Kontrol Umur dan Masa Kerja"
Kejar wisuda agustus 2015.
Bikin semua orang bangga padamu.

Janji mau berusaha untuk sukses ?

OKE SAYA BERJANJI MULAI DETIK INI AKAN MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH. SAYA AKAN MERAIH GELAR SARJANA PENDIDIKAN. SAYA AKAN KEJAR IMPIAN SAYA UNTUK MERAIH KESUKSESAN. SAYA BERJANJI, SUATU SAAT SAYA AKAN SUKSES!!!!! AAMIIN...

Tanimulya, 5 Januari 2015

Glaverina Reiska
1102768

Kamis, 25 Desember 2014

Kekasih Masa Depan

Wahai kekasih masa depan
Mendekatlah padaku
Jangan terus bersembunyi
Aku ingin bertemu denganmu

Wahai kekasih masa depan
Jika kita bertemu kelak
Aku tidak akan melupakan momen terindah itu
Pertemuan itu akan menjadi gerbang awal kebahagiaan kita

Wahai kekasih masa depan
Jika kita telah bertemu dan saling jatuh cinta
Aku bisa pastikan kita akan menjadi pasangan paling bahagia sedunia
Kita adalah takdir cinta yang terindah

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah kau ragu padaku
Aku adalah orang yang Tuhan kirim untuk mencintaimu sepenuh hati
Aku akan menyayangimu setulus hatiku

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah mengkhawatirkanku
Aku bukan gadis manja yang selalu ingin ditemani sepanjang hari
Aku sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendirian

Wahai kekasih masa depan
Aku tidak akan menuntut apapun darimu
Aku hanya ingin kau mencintaiku sepenuh hati
Dan aku ingin kita bersama selamanya

Wahai kekasih masa depan
Walau entah kapan kita bisa bertemu
Tetapi tak pernah terlewat doa di sepertiga malamku
Semoga takdir akan mempertemukan kita dalam satu ikatan suci

Aamiin :)

Sabtu, 20 Desember 2014

Dear You

Dear You,

Hey kamu.
Iya kamu.
Kamu yang belakangan ini selalu mengisi hari-hariku.
Entah mengapa detik ini aku memikirkanmu.

Aku tahu.
Aku memang bodoh.
Dan aku sadari itu.
Aku terlalu terbelenggu oleh bayang-bayang masa laluku.
Aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
Aku terlalu sibuk mencari seseorang yang sempurna.
Aku tidak pernah sadar dengan ketulusan hatimu.
Tetapi kamu selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Aku tahu.
Aku memang jahat.
Dan aku sadari itu.
Bahkan saat aku sedang bersamamu,
aku masih memikirkan dan membahas sosok masa laluku.
Tanpa memikirkan betapa teriris-irisnya hatimu.
Tetapi kamu masih bisa tersenyum untukku.

Aku tahu.
Aku memang egois.
Dan aku sadari itu.
Aku masih ingin bersenang-senang dengan pria lain.
Aku masih ingin jalan bersama pria lain.
Aku masih ingin bebas melakukan apapun dengan pria lain.
Tanpa memikirkan betapa terbakarnya hatimu saat itu.
Tetapi kamu selalu sabar.

Aku tahu.
Aku memang kekanak-kanakan.
Dan aku sadari itu.
Aku memang labil.
Aku memang emosian.
Aku memang "rudet".
Tanpa memikirkan betapa kesalnya perasaanmu.
Tetapi lagi-lagi kamu selalu sabar menghadapiku.

Maaf.
Maafkan aku.
Maafkan aku yang bodoh.
Maafkan aku yang jahat.
Maafkan aku yang egois.
Maafkan aku yang bodoh, jahat dan egois.

Aku terlalu terbelenggu oleh ilusi, emosi dan ego ku sendiri.
Aku terlalu dibutakan oleh kesakithatianku terhadap masa lalu.
Aku terlalu tunduk dengan rasa penasaran dengan masa lalu.
Aku terlalu naif, egois, dan keras kepala.
Aku terlalu terobsesi dengan masa laluku.

Kini aku sadar.
Aku tidak perlu menunggu seseorang yang tidak pasti.
Aku tidak perlu menanti sesuatu yang tidak pasti
Aku tidak perlu memperjuangkan sesuatu yang tidak patut untuk diperjuangkan.
Aku tidak perlu berkorban demi orang yang tidak mempedulikanku.
Aku tidak perlu mencintai seseorang yang tidak tulus mencintaiku.

Kini aku sadar.
Ada hati yang sedang menunggu ku.
Ada hati yang sedang menanti.
Ada hati yang sedang memperjuangkan ku.
Ada hati yang rela berkorban untukku.
Ada hati yang benar-benar tulus mencintaiku.

Siapakah dia ?
Kamu.
Iya kamu.
Kamulah orangnya.
Andi Wira Saputra :)

With Love,
Glaverina Reiska.

Sabtu, 06 Desember 2014

Thinking of You, Rez!

Hari itu langit sedang meneteskan buli-bulir air kegalauan. Aku terpaksa berhenti di salah satu mall yang aku lewati untuk berteduh. Daripada hujan-hujanan, lebih baik aku berteduh sambil memanjakan perut yang meronta-ronta minta diisi pikirku. Entah mengapa aku sedang tidak mood hujan-hujanan. Padahal biasanya aku suka berdiam diri dibawah hujan. Membiarkan tubuhku dialiri bulir-bulir air yang akan membunuh segenap perasaan gundah gulana.

Saat sedang antri membeli makan, tiba2 handphone ku berbunyi. Rupanya ada bbm dari Milati.
Glave lagi dimana ? Bisa ke rumah Andi ngga ? Aku ingin main.

Secepat kilat aku membalas,
Di BTC say. Hayu aja tapi sebentar aku mau makan dulu.

Kemudian handphone ku bergetar,
Ga usah makan dulu ih bareng aja aku juga laper belum makan.

Aku terpaksa meninggalkan antrian dengan pura2 ditelepon karena malu. Seperti orang aneh sudah mengantri panjang-panjang saat sudah didepan kasir malah pergi.

Kemudian aku langsung berjalan ke parkiran. Setibanya disana ternyata hujan. Aku lantas menghubungi Milati. Setelah berkompromi akhirnya aku menunggu dijemput oleh mereka.

Sambil menunggu aku berjalan ke arah mushola. Tiba-tiba pikiranku terlempar pada 2 tahun yang lalu. Tempat ini mengingatkanku pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rezky. Tempat ini memang banyak menyimpan kenangan ku bersamanya.

Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai juga. Aku yang sedang berdiri dipinggir jalan lantas masuk ke mobil. Ternyata Milati datang bersama Andi dan Novan. Ku harap setelah bertemu mereka aku bisa terlepas dari ilusiku. Ternyata aku salah. Aku malah semakin terjerat ke dalam ilusiku. Bahkan bertambah parah. Selama di perjalanan aku masih terbayang Rezky.

Saat melihat ke belakang ternyata Milati dan Novan sedang bermesraan. Mengingatkan ku pada Rezky. Dulu kami pernah melakukan hal yang sama. Hah tambah galau!

Entah efek setelah hujan atau memang aku yang masih belum bisa mengontrol perasaanku yang sedang tidak karuan. Aku masih menatap ke luar jendela. Tetapi pikiranku jauh melayang-layang memikirkan Rezky. Hanya Rezky, Rezky dan Rezky. Kedengarannya seperti berlebihan. Tapi inilah yang ku rasakan.

Sesekali Andi berusaha menghibur, tapi aku hanya tertawa seperti terpaksa. Ngomong-ngomong soal Andi, belakangan ini aku merasa ada yang aneh dengannya. Dia jadi sering bbm dan memujiku seperti memberi kode bahwa ia tertarik kepadaku. Entahlah. Mungkin ia hanya bercanda. Andi memang sangat humoris. Walau terkadang humornya membuat ku hilang selera.

Aku mematung. Benar-benar kaku. Canggung. Malu. Bingung. Semuanya campur aduk.

Cause when I'm with him I'm thinking of you...

Lagu Katy Perri itu serasa mewakili perasaanku. Ragaku memang disini. Berada di dekat Andi. Tetapi pikiranku sedang menjelajah kemana-mana.

Aku tahu Andi pasti menyimpan rasa padaku. Terlihat jelas dari bbm nya dan tingkah lakunya yang berbeda belakangan ini. Selidik demi selidik, ternyata Andi sudah mengincarku dari sejak awal PPL. Tetapi ia belum mempunyai keberanian untuk mendekatiku.

Kami memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan di kota Bandung. Makanannya memang terkenal enak tapi bagiku terasa hambar.

Mengapa aku kurang menikmati perjalanan ini. Pikiranku masih saja bercabang. Memikirkan ini itu yang membuat kegalauan yang dibuat sendiri oleh ilusiku.

Setelah makan, kami mengisi bensin dan mampir ke toko bunga. Sebenarnya aku sudah feeling pasti Andi akan memberikannya padaku. Aku ingin melarangnya tetapi takut dikira terlalu percaya diri.

Kemudian kami memutuskan untuk pulang. Aku minta diturunkan di BTC untuk mengambil motorku. Tadinya Andi ingin mengantarkanku pulang karena tidak tega membiarkanku pulang sendirian malam-malam. Tetapi aku menolak. Aku tidak ingin merepotkan Andi. Lagi pula aku sedang ingin sedirian.

Saat akan turun dari mobil, ternyata Andi memberikan bunga mawar merah padaku. Aku terkejut. Bingung. Perasaanku campur aduk seperti gado-gado. Satu sisi aku senang, satu sisi aku berharap Rezky yang memberikannya padaku. Otakku dipenuhi oleh buaian ilusi-ilusi.

Setibanya di rumah. Aku langsung menghubungi Andi.
Terimakasih ya. Maaf ngerepotin.

Aku lantas memandangi bunga mawar pemberian Andi. Terdiam. Perasaan berdosa menyelimuti pikiranku. Aku menyesal. Mengapa aku tidak profesional. Mengapa aku bertindak seperti itu? Mengapa aku terlalu terbawa suasana? Pasti itu akan melukai perasaan Andi. Bodoh memang aku ini. Jahat memang. Aku memang jahat.

Aku menyesali diriku sendiri. Mengapa setiap kali menatap Andi bayang-bayang Rezky selalu menghantui? 

To be continued...

Selasa, 02 Desember 2014

Sajak Kesepian

Sendiri
Aku sendiri
Selalu sendiri
Lebih senang menyendiri
Kemana-mana sendiri
Sudah terbiasa sendiri
Mungkin aku terlalu mandiri

Sendirian
Aku sendirian
Hanya aku dan diriku
Berkawan dengan kesendirian
Bersahabat dengan kesepian
Sendiri sama dengan sepi

Apakah aku seperti matahari?
Bercahaya tapi sendirian
Ataukah aku seperti rembulan?
Bersinar tapi sendirian

Sendirian
Lagi-lagi sendirian
Apa kalian pernah berpikir?
Matahari dan rembulan yang berkilauan itu
Ternyata kesepian
Menatap dunia yang ramai
Sementara mereka hanya sendirian

Matahari sendirian
Rembulan sendirian
Bisa jadi mereka ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang siang dan malam

Aku sendirian
Kamu sendirian
Bisa jadi kita ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang ego masing-masing

Aku sendirian
Kamu sendirian
Aku dengan ego ku
Kamu dengan ego mu

Aku sendiri
Kamu sendiri
Aku dan kamu
Sama dengan kita

Aku tahu aku kesepian
Aku tahu kamu kesepian
Sendiri itu sepi
Berdua itu saling melengkapi

Tetapi mengapa kita memilih untuk sendiri ?