Rabu, 22 Oktober 2014

Hai, Oktober!

Hai, Oktober.
Akhirnya engkau tiba.
Selamat datang!
Welcome!
Wilujeng sumping!

Hai, Oktober.
Tahukah kamu ?
9 bulan kemarin aku resah menanti kedatanganmu.
Tahukah kamu apa yang membuatku resah ?
Hmmm. Apakah perlu ku beritahu ?
Ataukah engkau sudah mengetahui nya ?
Entahlah...

Hai, Oktober.
Kembali ke pertanyaan tadi.
Tahukah kamu apa yang membuatku resah ?
Singkat.
Sederhana.
Hanya satu kata.
"Takut".

Hai, Oktober.
Pasti kau bertanya-tanya.
Apa yang aku takutkan ?
Karena kamu tidak menakutkan.
Sepertinya tidak perlu ditakuti.

Hai, Oktober.
Aku ingin jujur.
Sebenarnya aku takut menghadapi hari esok.
Tepatnya akhir bulan ini.
Engkau pasti paham kan maksudku ?

Hai, Oktober.
Tak terasa engkau semakin berlalu.
Sebentar lagi...
Sebentar lagi aku...
Eh...
Sebentar lagi kau...
Sebentar lagi kau pergi.
Hanya tinggal menghitung hari.

Hai, Oktober.
Hari itu semakin dekat.
Hari apa ?
Aku takut!
Semakin hari semakin takut.
Aku takut engkau masih marah.
Seperti oktober tahun lalu.
Masih ingatkah kamu ?

Hai, Oktober.
Aku tidak mau hal ini terjadi padaku lagi.
Tolong.
Aku mohon.
Aku ingin 25 Oktober ku berkesan.
Aku tidak ingin ada air mata kepedihan lagi.
Seperti tahun lalu.

Hai, Oktober.
Apakah engkau mendengar doaku pada Januari hingga September?
Semoga kau mendengarnya.
Aku yakin kau pasti mendengarnya.

Hai, Oktober.
Tadinya aku ingin mendapat kado terindah tahun ini.
Sungguh, aku sangat menaruh harapan padamu.
Aku mohon.
Sama seperti doa-doaku pada Januari hingga September.
Aku ingin dipertemukan dan dipersatukan dengan jodohku.
Aku teramat sangat ingin itu wahai Oktober.

Hai, Oktober.
Apakah engkau akan mengabulkan permintaanku ?
Aku mohon.
Aku harap.
Aku tahu kamu baik hati.
Engkau ingin aku bahagia bukan ?

Jadi sekali lagi ku mohon.
Tolong kabulkan permintaanku ya, Oktoberku.
Aamiin

Sabtu, 26 Juli 2014

5 Menit yang Berarti

Malam itu purnama sedang gelisah. Cahaya nya dulu terang kini mulai meredup. Mungkin ia lelah. Ataukah ia sedang menanti kehadiran sang bintang? Mungkin saja. Seperti aku yang sedang menantimu di sudut kota ini.

Aku masih duduk manis di kursi. Mendengarkan Milati bercerita. Tetapi hati dan pikiranku masih tertuju kepada mu. Sungguh, aku sangat ingin bertemu denganmu, Al. Karena berada di dekatmu sangat membuatku tenang. I need you...

Sebenarnya aku berada disini untuk menghadiri acara buka bersama dengan teman sekelasku. Tapi ada beberapa hal yang membuatku kesal. Apalagi Milati. Aku kesal dengan Milati yang tidak jujur kepadaku. Sudah mati kutu aku menunggunya di Borma. Dan ia baru jujur katanya akan bertemu dengan teman nya. Teman apa teman? Aku mulai curiga.

Adzan magrib sudah berkumandang tapi Milati tak kunjung datang! Astaghfirullah. Beberapa menit kemudian ia datang. Entah skenario apa yang dia buat. Mengaku ini mengaku itu. Ah memusingkan. Ujung-ujungnya malah janjian dengan Jefri.

Tadi saat menunggu Milati aku sempat mengirim Beni pesan BBM. saking kesalnya, aku berpikiran untuk tidak jadi datang ke acara kelas dan bertemu Beni. Tetapi dari cara Beni membalas sepertinya ia sedang malas kemana-mana. Ah lagi-lagi aku kesal! Memang aku tidak punya hak untuk memaksa bertemu.

Aku sudah tidak mood. Sumpah aku ingin nya bertemu denganmu, Al! Setibanya di KFC, ternyata sangat penuh dan kami tidak kebagian tempat duduk. Aku menyembunyikan kekecewaan dan kekesalanku di hadapan teman-temanku. Sesekali aku berbincang-bincang dengan mereka.

Setelah itu kami memutuskan untuk berpisah dengan teman sekelas dan turun ke bawah berharap ada kursi kosong. Ternyata sama saja penuh. Sambil menunggu, kami berbincang-bincang. Tapi tetap saja masih terselip rasa kesal dihatiku untuk Milati. Tapi ya sudah lah.

Setelah mendapatkan tempat duduk, kami duduk dan mulai bercerita. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Aku mendengarkan Milati bicara tapi hati dan pikiranku masih melayang-layang memikirkanmu.

Lalu terlintas dipikiranku untuk menghubungi mu. Kemudian aku mengambil handphone dan mengirimi mu pesan BBM.

A, lagi dimana ? lagi sibuk ga ?

BBM ku sudah delivered  tapi belum juga kamu read.

Tik..tok..tik..tok..
Waktu terus berlalu. 5 menit. 10 menit. 15 menit.
Hmm aku gelisah menunggu balasan darimu

PING!!!

Belum ada jawaban juga darimu. Namun aku tetap sabar menanti.

Beberapa menit kemudian kamu membalas,
Lagi di Pedepokan. Lumayan sih lagi latihan. Kenapa neng?

Secepat kilat aku membalas,
Engga, aku kangen aja. Tadinya aku pengen ketemu Aa. Aku lagi di KFC Setiabudhi nih.

20 menit kemudian kamu baru balas.
Aduh Neng, maaf Aa gabisa. Aa lg latihan di Pedepokan.

Dengan perasaan sedih aku membalas,
Ga bisa ketemu bentaran doang gitu? Aku pengen banget ketemu Aa sebentar aja. Pleasee.. :(

Is writting a message...
Aku sangat berharap kamu bisa menemuiku disini. Menenangkanku saat aku sedang sedih.

Ga bisa neng, Maaf banget ya. Maybe next time. Neng baik-baik disana ya. Hati-hati pulangnya jangan kemaleman ;)

Aku yang kesal hanya membalas,
Oh yaudah. Oke.

Dan bbm ku hanya diread  saja.
 
Butiran bening mulai runtuh di pipiku. Aku menghela napas. Hmmmmm. Ya sudahlah. Aku tidak bisa memaksa. Sepertinya ini bukan saatnya bertemu denganmu. Lagi-lagi aku mengalah. Mencoba mengerti kesibukanmu. Tetapi ini bukan kali pertama kamu tidak bisa bertemu denganku. Selalu ada halangan jika kita akan bertemu.

Mengapa kamu tak bisa menyempatkan waktumu 5 menit saja untuk bertemu denganku ? Aku sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu. Aku hanya meminta 5 menit dari 24 jam waktu yang Tuhan berikan. Itu pun hanya sesekali dalam sebulan. Begitu lebih berarti kah waktu 5 menitmu dibanding aku ?

Hmmmmm...Entahlah...

Selasa, 29 April 2014

Pengaruh Rotasi Pertemanan terhadap Loyalitas Berteman

Foto itu mengingatkanku 3 tahun yang lalu. Tepatnya saat aku baru saja menjadi mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia. Foto itu diambil di Lantai 4 Perpustakaan Ruang V sekitar pukul 09.00. Saat itu, seharusnya sedang berlangsung mata kuliah Pengantar Manajemen. Akan tetapi karena dosen tak kunjung datang kami mulai bosan. Ada yang keluar, ada yang mengobrol, ada yang mendengarkan lagu, ada yang membaca buku, ada yang sibuk sendiri, bahkan ada yang tidur.
Oh iya, aku belum mengenalkan teman-teman baruku. Yang ini namanya Safira. Badannya bagus, tinggi kayak model. Satu lagi namanya Maira. Si hijabers ini tak pernah lepas dari handphone. Kalau yang ini namanya Rafli, dia ketua kelas disini. Sebelah Rafli ada Fajar, sebelahnya lagi namanya Ahmad. Aku belum begitu mengenal sifat-sifat mereka. Tetapi aku berharap teman-teman baru ku ini bisa berteman baik denganku.
Aku mulai membuka laptop, kemudian terlintas di pikiran ku untuk web cam-an. Karena pada saat itu foto-foto lewat web cam sedang tren. Awalnya hanya aku, Maira dan Safira saja yang berfoto ria. Lama-lama kami mulai mati gaya. Pantas saja, sudah ratusan foto. Kemudian Rafli, Fajar dan Ahmad ikut berfoto juga tapi hanya beberapa kali. Maklum anak cowo tidak senarsis anak cewe.
Aku cukup menikmati menjadi mahasiswa baru disini, aku pun mulai beradaptasi dengan teman-teman baruku. Aku berharap mereka bisa menerimaku disini dan mereka bisa seperti teman-temanku sewaktu SMA yang menyenangkan dan kompak.
Oh iya berbicara soal teman SMA, ada satu teman SMA ku yang satu jurusan denganku namanya Rahmi. Tetapi sayangnya dia tidak satu kelas denganku, padahal aku dan Rahmi bersahabat sejak SMA.
Ketika hari pertama masuk kuliah, aku bertemu dengan Safira si tomboy. Dari sejak saat itu, aku mulai berteman baik dengan Safira. Karena Safira tomboy, ia lebih senang main dengan teman cowo. Memang sih, yang aku rasakan teman cowok lebih solid dibanding teman cewe. Kami pun dekat dengan teman-teman cowok dikelas yaitu Rafli, Fajar, Ahmad, Amri, Ivan, Irham, Irdham dan Arendi.
Setelah beberapa minggu kuliah, nama Rahmi tidak ada dalam absen kelas B. Ternyata Rahmi seharusnya kelas A. Aku cukup senang mendengarnya karena aku bisa sekelas lagi dengan Rahmi. Rahmi belum mempunyai teman di kelas A, maka aku menemani dia yang sedang beradaptasi dengan kelas ini.
Tetapi sayangnya yang aku rasakan lama-lama aku dan Safira semakin menjauh. Entah apa yang terjadi tetapi aku merasakan jarak yg terbentang diantara kami. Semakin hati semakin menjauh. Aku tidak tahu mengapa, sepertinya ada sesuatu yang salah dari diriku.
Sekarang Safira mulai dekat dengan Raisa, Nera, Zhafira, Windi dan Yara. Mereka terlihat sering bersamaan. Rahmi pun mulai bisa berdaptasi dan berteman dengan Raisa dkk karena Raisa satu SMA dengan kami jadi cukup mudah bagi Rahmi untuk beradaptasi dengannya.
Suatu saat, tanpa sepengetahuanku Rahmi sering hang out bersama Raisa dkk dan juga Safira. Terus aku ga diajak gitu? sekelebat pikiran negatif menyerbu pikiranku. Ini bukan kali pertama mereka pergi hang out tanpa mengajakku.
Sedih, kesal, kecewa, marah semua berkumpul menjadi satu. Bagaimana tidak, tega nya Rahmi meninggalkanku padahal aku dulu menemani nya sampai ia kenal dengan Raisa dkk. Bahkan Safira pun katanya menjauh dari aku karena menurutnya aku melupakannya setelah bertemu dengan yang baru. Padahal itu sama sekali tidak benar :( aku sangat merindukan Rahmi dan Safira yang dulu. Sekarang aku benar-benar tidak punya teman.
Singkat cerita, perlahan aku mulai bisa mendekati mereka lagi. Sekarang aku selalu diajak jika mereka hendak pergi kemanapun. Tetapi, lama kelamaan giliran Yara yang mulai dijauhi. Mereka mulai merasa kurang nyaman dengan sifat Yara dan perbedaan persepsi dalam segala hal. Kami sering sembunyi-sembunyi jika akan pergi. Rahmi dkk seperti tidak ingin ada Yara ikut. Mereka selalu membicarakan kejelekan Yara. Dan ini bukan kali pertama mereka memperlakukan Yara seperti ini.
Lama kelamaan, aku mulai kasihan dengan Yara. Aku mulai menemani Yara ketika mereka meninggalkannya. Aku tahu persis apa yang dirasakan Yara. Lalu perlahan, aku mendekati Yara dan menceritakan semua perlakuan mereka terhadap Yara. Jujur, aku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Aku kurang suka dengan sifat Raisa yang seperti itu. Jika tidak suka dengan satu orang, maka secara tidak langsung ikut mengajak teman-temannya untuk tidak suka dengan orang tersebut juga.
Aku semakin dekat dengan Yara. Kami juga mulai dekat dengan Maira. Rupanya ia memiliki nasib yang sama, bedanya ia yang pergi menjauh sedangkan aku dan Yara dijauhi. Dulu Maira dekat dengan Anis, Putik, Mayang dan Farah. Tetapi karena dirasa mulai tidak nyaman dan berbeda persepsi dengan mereka, Maira memutuskan untuk menjauh dari mereka.
Sama seperti saat SMA, kini teman-temanku mulai berkubu-kubu. Namun bedanya jika teman SMA masih bisa kompak, lain halnya dengan teman kuliah. Teman kuliah tidak seasyik, sekompak dan sesolid teman SMA.
Seperti yang tadi aku sudah ceritakan, ada 2 kubu di kelas. Selain itu ada kubu lain yaitu kubu anak kost gaul yang terdiri dari Erika, Revi, Dinda, Dianda, Ivanka, dan Nindi. Kemudia kubu anak pintar dan rajin yaitu Ami, Isye, Maya. Ada juga Liani, Arin, Elviza dan Fasya. Kemudian ada 4 serangkai Risa, Firda, Ratu dan Irham. Kurang lebih ada sekitar 6 kubu. Sisanya netral.
Berbeda dengan anak cowo yang semakin lama semakin solid. Percaya atau tidak, dalam pertemanan cewe selalu ada satu orang yang dianggap paling menyebalkan dan tidak jarang terbuang. Contohnya saja dulu aku dan Yara dibuang dari kubu Raisa. Di kubu anak kost gaul Nindi keluar dari kubu. Di kubu Putik, Anis yang sekarang dijauhi karena dianggap bossy. 4 serangkai pun mulai pecah ketika Risa dan Firda ada masalah. Bahkan sekarang kubu Raisa pecah akibat konflik yang disebabkan oleh Windi. Rahmi dan Nera pun mulai memisahkan diri karena ada konflik dengan Rahmi. Sama halnya dengan aku dan Maira yang mulai tidak suka dengan sifat Yara yang selalu beda persepsi. Maklum kami berbeda agama dan budaya. Bukannya diskriminasi, tetapi ini lah kenyataan.
Tidak terasa kami mulai memasuki semester-semester akhir. Sekarang mulai terlihat sifat dari semua anak di kelas. Karena tidak terasa sudah hampir tiga tahun juga kami sekelas, maka sifat-sifat asli mulai terlihat. Di semester akhir bisa dibilang puncak dari segala kejenuhan. Jenuh kuliah? Sudah pasti. Jenus berteman? Hmmm bisa jadi.
Seperti hal nya jabatan dalam pekerjaan, pertemanan juga ternyata bisa berotasi. Jika salah satu faktor penyebab rotasi jabatan adalah  kejenuhan dalam bekerja. Mungkin faktor yang menyebabkan  rotasi pertemanan adalah kejenuhan dalam berteman.
Sekarang mereka bisa dibilang berotasi. Kini Rahmi semakin lengket dengan Nera. Nera juga kini dekat dengan Liani, Arin dan Nindi. Sementara itu Firda kini berteman baik dengan Putik, Raisa, Farah dan Zafira. Risa dan Ratu mulai berteman baik dengan Mayang, sedangkan Irham kembali ke teman awalnya yaitu para anak cowo. Aku semakin bersahabat dengan Maira, tetapi tidak membuang Yara walaupun kadang selalu tidak sepaham.
Berbicara soal pertemanan, tentunya kita mengenal istilah loyalitas atau kesetiaan. Apakah rotasi pertemanan itu bisa mempengaruhi loyalitas seseorang dalam berteman?Menurut penelitian yang telah aku alami memunculkan hipotesis awal yaitu adanya pengaruh rotasi pertemanan terhadap loyalitas seseorang dalam berteman. Hal ini telah terbukti dengan apa yang terjadi dengan kondisi pertemanan di kelasku.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata rotasi pertemanan itu dapat mengatasi kejenuhan dalam berteman sehingga dapat meningkatkan loyalitas seseorang dalam berteman.
Sekian. . .

Rabu, 29 Januari 2014

Harkos atau Ke-GR-an?

Sang raja siang mulai kembali ke peraduan, ku lihat langit telah berwarna biru temaram. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.30 dan aku baru saja selesai rapat pengkaderan mahasiswa baru 2012. Hari ini aku berniat untuk pulang bersama Cindy, sahabatku sewaktu duduk di bangku SMA. Aku dan Cindy berbeda kampus, tetapi jarak antara kampus kami tidak begitu jauh. Bisa ditempuh sekitar 15 menit jika naik angkutan umum.

Setibanya disana aku langsung mengirim pesan singkat pada Cindy. Ia menyuruhku baik ke lantai 3 karena masih rapat. Aku menghela napas. Mengumpulkan ssgenap tenaga untuk berjalan kesana. Beberapa menkt kemudian, aku memaksakan diri berjalan kearah lapangan. Dari kejauhan aku melihat sekumpulan mahasiswa tengah mengerjakan tugas di meja depan kelas dan beberapa mahasiswa sedang gladiresik di lapangan.

Baru beberapa langkah aku melangkahkan kaki disana, rasa malu mulai menyisip. Akhirnya aku memutuskan untuk menundukkan kepala. Walaupun aku berjalan dengan menundukan kepala, namun aku bisa melihat dari sorot mata bahwa ada beberapa orang tengah memerhatikanku dari atas ke bawah seakan melihat orang asing. Maklum pakaianku sangat jauh berbeda dengan mereka. Disana semua memakai celana bahan panjang dan tidak boleh mengenakan rok. Sedangkan aku mengenakan blouse berwarna biru dongker, rok selutut berwarna serupa dengan corak polkadot putih dan sepatu hak tinggi.

Setibanya di lantai 3, aku melihat ada dua ruangan yang lampunya menyala, rupanya sedang ada rapat di kedua ruangan tersebut. Aku tidak tahu Cindy berada di ruangan yang mana, untung saja Cindy segera menunjukan batang hidungnya dari pintu salah satu ruangan tersebut, dan menyuruhku untuk duduk di kursi depan ruangan itu. Kemudian aku berjalan ke arah kursi itu dan duduk disana sambil menunggu Cindy selesai rapat.

Jarum jam bernyanyi dengan ketukan perlahan, tik tok tik tok. Waktu telah menunjukkan pukul 19.00, Cindy masih saja belum selesai rapat. Aku mulai didera rasa kantuk. mahasiswa dari ruangan sebelah telah selesai rapat dan mataku refleks mengarah pada salah satu mahasiswa disana, sepertinya ada  gelombang yang tertangkap oleh radarnya hatinya. Gelombang yang mengisyaratkan cinta! Darahku terasa berdesir. Ada yang melonjak dalam hatiku.

15 menit setelah mereka bubar, giliran ruangan Cindy. "Akhirnya bubar juga kamu Cin, udah mati kutu nih aku nungguin kamu keluar" sambil melipat kedua tanganku.  "Baru juga jam segini, biasanya gue beres rapat dan nugas tuh jam 11 malem" ujar Cindy. Kemudian mereka bergegas turun ke lantai 1. "Eh Cin, tadi ada yang rapat juga ya di ruangan sebelah? Ga sengaja aku liat cowo ganteng tuh disana. Kenalin dong.." aku menggoda Cindy sambil mengedipkan kedua mataku. "Iya, tadi ada rapat sama dosen diruang sebelah. Siapa? Paling juga Rezky. Dia kaka tingkat gue. Emang ganteng sih. Dasar kamh mah ga dimana ga dimana ngeceng terus kerjaannya" tukas Cindy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Biarin, aku kan jomblo jadi bebas dong mau ngeceng siapa juga hihi. Pokonya kamu wajib kenalin ya sama temen kamu yang manis ini" kata ku sambil memelas. "Hmm iya. Dasar kamu Jolau, Jomblo Galau" ujar Cindy sambil tertawa meledek. "Daripada kamu, punya pacar ga punya pacar selalu galau. Haha" kami pun tertawa terbahak-bahak.

Setibanya di lantai 1, Cindy pun mengajakku untuk duduk di bangku meja diskusi. Tiba-tiba ada 2 orang mahasiswa duduk di bangku sebelah, mereka adalah Furqon dan Rezky kaka tingkat Cindy. Aku langsung mencubit tangan Cindy, "Cin, cin itu ver cowo itu" aku spontan mencubit Cindy. "Aaaawwwww, sakit sih Glave! ujar Cindy kesakitan. "Bener kan dugaan gue. Itu rezky. Ya termasuk cowo ganteng di kampus, maklum cowo limited banget disini" kata Cindy sambil mengusap-ngusap tangannya.

Belum sempat aku mengeluarkan kata-kata, kemudian Rezky berbisik agak keras pada Cindy. "Cin, punya temen tuh kenalin dong sama gue"Tubuhku mematung, aku pura-pura tak mendengar ucapan Rezky. Rasanya ingin melesat menembus atap saking sumringahnya. Pipi ku merah merekah seperti tomat, ia tersipu malu. "Kenalan aja sendiri" kata Cindy sambil senyam-senyum dan melirik ke arahku dan Rezky. Tak lama kemudian mereka menghampiri Cindy dan duduk disebelahnya. Nampaknya Cindy meminta soft file tugas himpunannya. Aku pura-pura mengikat rambutku, padahal sebenarnya ia berusaha mengikat jantungnya agar berhenti berdetak tak karuan. Setelah itu Furqon dan Rezky langsung pamit pulang. Aku sedih karena tak bisa memandangi Rezky. Bola mata Rezky yang bundar berwarna hazel dengan bulu mata lentik, alis nya yang tegas, hidungnya yang mancung, serta senyumnya yang sangat manis dan ramah membuat hatiku serasa tersetrum listrik tegangan tinggi.

Setelah Furqon dan Rezky pulang, tak lama kemudian giliran aku dan Cindy yang bergegas pulang mengendarai skuter matic milik Cindy. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya melukiskan senyum di sudut bibirku. Bertubi-tubi pertanyaan tentang Rezky aku lontarkan kepadanya. "Cin, Rezky udah punya cewe belom sih?" Aku penasaran. "Setau gue, di facebooknya in relationship" jawab Cindy. Bibir ku langsung mengerut. Letupan dalam hatiku mendadak seperti dibanjur air dingin. Padam. Lagi-lagi aku jatuh cinta pada orang yang salah. Namun terlanjur ada arus perasaan yang begitu kuat seolah hendak menjebol dadaku.

Waktu terus berlalu tanpa berhenti. Rasanya aku ingin kembali pada saat pertemuanku dengan Rezky. Aku semakin penasaran dengan sosok Rezky yang selalu hadir dalam mimpiku. Kemudian aku mencari tahu tentang Rezky melalui Cindy. Ditanyakannya akun sosial media milik Rezky, "Rezky Sii Prikitiw" (PRIa Kalem Imut dan Tampan Idaman Wanita). Aku tertawa terpingkal-pingkal menahan geli di perutku. Ternyata sosok pria yang telah sukses mencuri hati ku itu tergolong alay. Tapi aku tak menghiraukan itu semua, tanpa pikir panjang langsung mengirimkan permintaan pertemanan kepada Rezky.

Beberapa hari kemudian, Rezky menerima permintaan pertemanan ku. Aku langsung melompat kegirangan. Dan dengan perasaan kepo, aku lekas membuka profil facebook Rezky. Sedikit rasa kecewa terbesit di hatiku. Apa yang dibilang Cindy itu benar, Rezky sudah punya kekasih. Namun kali ini aku tidak bisa berhenti menahan tawa, sungguh sangat mengocok perut ketika mataku tertuju pada keterangan :  "in relationship with Sulizthiiya ThaiiankBeudRezkyPrikitiwPollepel"Tapi rasa cemburu menggerogoti hatiku ketika melihat foto mesra mereka berdua. Ada kegelisahan yang nyaris tak bisa aku tahankan.

Tak terasa sebulan sudah sejak kejadian memilukan akibat rasa kepo nya itu. Namun aku masih tetap menunggu keajaiban datang. Otakku terbungkus oleh harapan-harapan. Aki merenung. Aku tertegun. Aku menatap laptop dengan pikiran melayang-layang. Tetapi Bola mataku tiba-tiba membelalak seperti mau keluar. Huruf-huruf itu menari-nari didepan mataku. Ini seperti mimpi. tapi sungguh bukan mimpi.  Saat itu Rezky sedang online. Aku langsung menyapa nya lewat chat. "Hai, kaka tingkatnya Cindy ya? :)”"Hello, iya bener. Kamu temennya Cindy ya?" Rezky membalas, "Iya ka, aku temennya Cindy yang waktu itu ke kampus kalian hehe" jawabku. Singkat cerita, kami saling bertukar nomor handphone dan berencana untuk bertemu lagi.

Tiba saatnya pertemuan kedua ku dengan Rezky. Tepat saat hari ulang tahunku yang ke-19. Sepertinya ni akan menjadi kado terindah dalamnya hidupku. Setelah janjian dengan Rezky, akhirnya kami bertemu di depan kampus Rezky karena lokasinya strategis jadi aku yang menjemput Rezky. Di dalam perjalanan aku bernyanyi-nyanyi di mobil sambil senyum-senyum sendiri layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Thanks God!

Cuaca hari ini sangat cerah, secerah hatiku. Tak sabar aku ingin cepat-cepat bertemu. Dari kejauhan aku melihat Rezky yang berdiri tegak di depan kampusnya, menanti kedatanganku. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan kami pun segera pergi. Kami memutuskan untuk pergi ke Cihampelas Walk karena itu lah mall yang terdekat dari sini. Setibanya disana, kami hanya berjalan-jalan dan fotobox.

Selepas itu kami langsung pulang karena kami ada urusan masing-masing. Aku pun langsung mengantar Rezky kembali ke kampusnya.
"Terimakasih untuk hari ini, jangan kapok main sama aku ya ka." Aku tersenyum manis.
"Iya sama2 ya, makasih juga. Engga kok, kamu juga jangan kapok ya. Iya pasti enggak lah hehe. Hati-hati di jalan." Ujar Rezky sambil tersenyum,

Kami pun berpisah namun masih tetap SMS-an. Sejak saat itu, kami jadi sering berkomunikasi baik via telepon atau sosial media. Bercerita tentang banyak hal dan mengenal diri masing-masing. Rezky pemuda yang baik. Terlihat dari caranya dalam bertindak dan memperlakukanku.

Aku jadi sering main ke kost-an Rezky. Dari situ, teman-teman Rezky menjadi banyak yang tahu mengenai kedekatan kami. Sampai teman kost Rezky bilang, katanya aku lah teman wanita pertama yang dibawa Rezky kesana selain teman kuliah. Teman-teman Rezky terutama teman-teman wanita Rezky sering menggoda kami. Entah memang iseng karena mereka sahabat dekat Rezky atau karena cemburu? Entahlah. Tapi ku rasa ada sebagian dari teman-temannya yang tidak suka dengan kedekatan kami.

Aku kaget, ternyata Pika teman SMA ku yang sekelas dengan Cindy sekarang itu juga menyukai Rezky. Bahkan sudah sejak lama, namun mereka tak pernah sedikitpun komunikasi. Saking iri dan cemburu nya Pika menerror dan menginterogasi ku lewat BBM.

Emosiku semakin memuncak melihat tingkah Pika dan Bellina yang sering menginterogasiku. Hello, memangnya Rezky punya kalian apa sampe-sampe aku harus lapor segalanya sama kalian. Kecentilan banget lagi si Pika udah punya pacar masih tetep ngeceng cowo lain. Kalo aku ngedeketin cowo nya baru dia berhak marah, lah ini kenal aja engga sama Rezky.

Lalu aku sengaja memanas-manasi mereka dengan memasang display picture BBM fotobox bersama Rezky. Tak lupa status BBM ku seperti yang sedang jatuh cinta. Aku yakin mereka pasti bakal uring-uringan sendiri melihatnya. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Aku tidak akan seperti ini jika mereka tidak memulainya.

Semakin hari aku dan Rezky semakin akrab. Kami sudah saling menunjukkan sinyal-sinyal cinta dengan saling gombal. Kami suka jalan berdua, nonton, hujan-hujanan, bahkan dinner kecil-kecilan. Tak lupa aku selalu update status untuk memanas-manasi mereka.

Berita soal kedekatanku dan Rezky rupanya sudah menyebar di segala penjuru kampus Rezky. Bagaimana tidak, mereka memiliki fotobox aku dan Rezky, entah darimana dan untuk apa aku tidak peduli. Banyak anak-anak kampus Rezky yang kepo mengintip segala akun ku di sosial media. Berasa artis dikepoin terus haha.

Sampai suatu ketika, entah apa yang terjadi dengan Rezky.  Tiba-tiba sikapnya berubah. Masih tetap baik namun terkesan menjauhiku. Tetapi karena hatiku sudah dibutakan oleh api cinta yang sangat membara hingga membakar segala akal sehatku, aku tidak peduli. Aku tetap berusaha untuk dekat dengan Rezky.

Kejadian yang kurang mengenakan pertama saat aku menemani cindy ke kampusnya untuk menonton acara lomba futsal jurusan. Aku datang kesana dengan penampilan sangat feminim, mengenakan dress berwarna ungu tak lupa aku memoles wajahku dengan make up. Entah mengapa aku jadi senang bersolek. Efek jatuh cinta mungkin. Disana aku melihat Rezky, mengenakan kaos warna ungu. Mungkin kebetulan tapi aku sangat senang. Aku merasa sangat asing, Rezky benar-benar menjauhiku. Tapi aku masih saja tetap tidak sadar.

Aku tidak pernah menyadari bahwa Rezky menjauhiku. Masalahnya kami masih berkomunikasi dengan intensif. Sampai pada puncaknya saat aku akan memberi oleh-oleh dari mama untuk Rezky. Dengan penuh percaya diri datang ke kampus Rezky ditemani oleh Milati. Kami menunggu di depan kampusnya. Saat dihubungi ia sangat susah sekali untuk ditemui. Sangat banyak alasan. Ada dosen lah, sedang mengerjakan tugas lah, dll. Sampai ia sama sekali tidak bisa meluangkan waktu untuk turun kebawah. Aku cukup kesal, tak kehabisan akal aku langsung menghubungi Cindy. Untung ia ada di kampus.

Kemudian kami diajak menyelundup ke perpustakaan tempat Rezky berada. Letaknya di lantai 3. Setibanya diatas, Rezky masih saja sulit untuk ditemui. SMS ku tak kunjung dibalas, ditelepon pun tidak diangkatnya. Padahal di ruangan itu sedang tidak ada dosen. Aku menyuruh Cindy untuk memanggil Rezky. Setelah sekian lama, akhirnya Rezky keluar sepertinya dengan terpaksa. Kemudian aku berikan bingkisan dari mama. Teman-teman Rezky mengintip dari jendela.

Krik..krik..krik.. hening. Rezky tak bersuara sedikitpun. Wajahnya pun berbeda. Sama sekali tidak mengucapkan terimakasih. Lalu Cindy menyuruh Rezky untuk mengantar aku dan Milati ke bawah. Tetapi respon nya nol besar. Sudah sangat jelas terlihat dari ekspresi dan tingkah laku nya bahwa ia tidak mau. Aku semakin kesal, air mata ku nyaris saja runtuh.

"Yaudah, aku duluan yah. Mau nganter Milati. Assalamualaikum!". Aku langsung membalikkan badan, menarik tangan Milati dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun melihat wajah Rezky. Air mata ku kini mulai meleleh dari mataku. Kesaaaaaaaal! Menyebalkaaaaaan!  Tak tahu malu! Aku langsung tancap gas meninggalkan kampus Rezky.

Tak lama kemudian handphone ku berdering. Rupanya ada pesan masuk dari Rezky.
"Makasih ya. Maaf ga bisa anter. Hati-hati di jalan."
Membaca pesan itu, tiba-tiba hatiku mencair lagi. Kemudian aku membalasnya dan SMS-an seperti biasa.

Walaupun ia sudah bersikap seperti itu, entah mengapa aku tidak bisa membenci Rezky. Aku masih saja memaafkan dan mengharapkannya. Padahal sahabat-sahabatku sudah berulang kali memperingatkanku tetapi aku menghiraukannya. Rasa benci ku pada Rezky sukses dikalahkan oleh rasa cintaku.

Setelah beberapa bulan, ternyata tidak ada perubahan. Meskipun kami sering berkomunikasi tetapi Rezky tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyatakan cinta. Padahal jutaan kode telah aku berikan. Selidik demi selidik katanya Rezky sedang dekat dengan wanita lain. Tapi aku sama sekali tidak percaya. Aku sangat yakin jika Rezky hanya dekat dengan seorang wanita, yaitu aku. Bukan yang lain.

Tetapi kali ini aku menemukan keanehan pada Rezky. Sudah berulang kali ia salah menyebut namaku. Bukan pertama kali nya ia memanggilku Glad, padahal huruf "V" dan "D" tidak terlalu dekat jaraknya. Jika memang Rezky typo mengapa bisa berulang kali dan sama?

Beberapa lama aku tidak kontekan dengan Rezky. Kangen sih, tapi ya sudah lah. Kemudian aku sedang bosan dan berniat untuk mengintip sosial media milik Rezky. Di mulai dari twitter. Aku lihat timeline Rezky dipenuhi dengan akun twitter wanita bernama Gladys Octavia. Oh jadi emang Glad ity Gladys, bukan Glaverina yang typo. Dadaku mulai sesak. Hatiku panas. Tetapi masih penasaran.

Kemudian aku buka facebook Rezky. Dan Oh my God! Mataku seperti diolesi balsam. Tubuhku membeku. Hatiku menjerit ketika melihat status Rezky "in relationship with Gladys Oktavia ". Aku penasaran lalu membuka facebook wanita itu. Air mataku semakin deras. Aku akui, wanita itu memang cantik, kulitnya putih, badannya bagus, modis. Wanita kekinian. Pantas Rezky menyukainya. Aaaaaaaah! Aku membantingkan handphone dan menangis sejadi-jadinya.

Jahaaaaaat! Sialan! Brengsek kamu Rezky! Tega-teganya kamu sama aku. Jadi selama ini kamu anggap aku ini apa?

Aku semakin menangis histeris. Hatiku seperti teriris-iris oleh pisau cinta yang ia tanamkan. Badanku melemas seperti ditembak oleh pistol cinta yang membumihanguskan seluruh harapanku.

Harkos! PHP (Pemberi Harapan Palsu)!
Aku salah apa sama kamu Rezky? Kamu jahat! Kamu tega! Aku benci kamu! Benciiii banget!

Kini aku baru menyadari, ternyata Rezky tidak sebaik dan semanis yang aku kira. Aku sungguh bodoh telah mencintai dan mengharapkan Rezky yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Lalu aku berpikir, jika melihat perlakuannya kepadaku apakah ini yang disebut harapan kosong? Atau aku yang terlalu ke-GR-an? Entahlah.

Senin, 16 Desember 2013

Orang Ketiga

Hujan masih memayungi kota Cimahi. Iramanya berdentam-dentam mengetuk atap dan menyentuh tanah. Kata orang, hujan identik dengan perasaan melow dan galau. Entah itu teori dari mana tapi aku benar-benar merasakannya. Aku suka hujan di malam hari. Begitu menenangkan, membuatku terlelap dalam tidur. Ku matikan lampu kamarku dan menyetel lagu melow pengiring tidur.

Tiba-tiba aku merindukan Beni, adik tingkat ku di kampus. Sosoknya yang belakangan ini selalu menemaniku setiap hari membuat waktu ku tersita karena memikirkannya. Aku teringat kali pertama aku bertemu dengannya di Kantin FPEB, saat aku pulang survey villa untuk acara Riung Mumpulung dengan teman-temanku angkatan 2012. Beni adalah mahasiswa baru angkatan 2013 yang sedang berdiskusi tentang acara RM dengan panitia angkatan 2012. Setelah pulang dari sana, BBM ku bergetar. Ada undangan permintaan teman masuk: Moch. Beni Rahadian. Tanpa pikir panjang aku langsung menerima permintaan teman itu. Ku lihat display picture nya ternyata itu adik kelas yang aku lihat di kantin FPEB barusan.

Awal-awal kami tidak chating. Aku malas menyapa duluan. Lagian di status BBM Beni tercantum nama pacarnya. Membuatku berpikiran bahwa Ia hanya ingin menambah relasi senior. Sekitar seminggu kemudian, aku bertemu lagi dengan Beni di PKM usai acara Meet and Greet DPM Himapena. Saat itu Ia menyapaku dan berkata bahwa Ia akan mengobrol denganku di BBM. Dan benar saja beberapa hari kemudian Beni mengirimku pesan BBM.

Dari situ kami cukup sering BBM-an, malahan menyinggung soal status. Ternyata esok hari nya Beni dan pacarnya merayakan anniversary 19 bulan. Entah mengapa sedikit membuat hatiku tidak nyaman. Kami terus BBM-an sampai keesokan harinya aku sempat meminta Beni menemaniku ke Bandung Electronic Centre untuk memperbaiki tablet ku yang error. Aku sedikit salah tingkah, tapi aku berusaha untuk menutupinya agar Beni tidak menyadarinya. Pulang dari BEC aku menemani Beni latihan futsal. Ada rasa malu yang menyergap ketika bertemu anak-anak 2013 disana, tapi tak apa lah anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku pada Beni

Tiba lah saatnya acara Riung Mumpulung yang bertempat di Villa Pleasant Hill Lembang. Aku bukan panitia karena ini acara angkatan 2012, tetapi mereka meminta bantuanku. Oleh karena itu, aku harus datang ke kampus pagi-pagi karena aku mengaku panitia kepada kedua orang tuaku. Dengan wajah masih mengantuk aku melesat menuju kampus. Tapi ternyata aku terlambat, disana aku tidak bertemu dengan Beni karena mahasiswa baru sudah diperintahkan untuk masuk ke dalam angkot dan melesat menuju villa.

Aku, panitia lain, teman seangkatan dan anak 2013 yang terlambat berangkat menyusul mereka. Setibanya di gerbang villa, aku melihat angkatan 2013 sedang menunggu untuk post to post, termasuk Beni. Sejurus kemudian aku langsung melukiskan senyuman manis di bibirku. Lagi-lagi Ia membuat hatiku menghangat, sehangat mentari yang masih malu-malu muncul di langit.

Selama acara berlangsung, aku masih BBM-an dengan Beni. Jika ada waktu luang, kami juga selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Namun ada segelintir kabar yang tidak mengenakan hati mengenai Beni yang terlontar lewat bibir Siska. Aku cukup terkejut mendengarnya. Menurut pandangan Siska, Beni cukup banyak mendekati wanita. Sekejap membuatku ragu pada Beni. Apa aku bilang tadi? Ragu? Ragu apanya? Mengapa harus ragu? Beni kan pacar orang. Apa urusannya denganku? Oh iya aku lupa. Lagi-lagi aku harus menyadarkan diriku sendiri.

Acara berlangsung meriah, semakin malam semakin ramai karena kedatangan senior-senior angkatan atas. Setelah acara perkenalan senior usai, aku meninggalkan aula dan berencana untuk tidur di mobil karena tidak memungkinkan tidur di villa. Beni sempat menemaniku sebelum tidur, kami mengobrol di depan mobil. Tetapi itupun tidak lama karena tidak enak pada panitia, seharusnya mahasiswa baru berada di dalam kamar untuk beristirahat.

Setelah Beni beranjak ke kamar, aku dan Melisa tidak bisa tidur karena takut mendengar suara senior-senior yang sedang mabuk-mabukan seperti orang gila. Saat itu sudah dini hari, aku masih terjaga sambil mendengarkan lagu. Galau! Ya, tiba-tiba hatiku diserang rasa galau. Apalagi BBM-an aku dengan Beni sedang menyinggung soal perasaan. Karena kehujanan, kaca mobilku diselimuti embun. Seketika aku langsung menempelkan jariku di kaca mobil dan mulai menggoreskan sebuah nama. BENI.

Kenapa nama Beni yang aku tuliskan disana? Dia pacar orang Glave! Ya Tuhaaaaaan, apakah aku benar-benar ada rasa pada Beni? Damn! Harusnya aku tidak boleh seperti ini. Kemudian ku foto tulisan yang menempel di kaca mobil lalu mengirimkannya pada Beni. Setelah menerima fotonya Bintara berkata bahwa Ia akan menjadikannya sebagai display picture esok hari. Hmmm entahlah kita lihat saja esok. Semakin larut aku BBM-an dengan Beni, kawah hati ini semakin tidak sanggup untuk menahan gelegar air mata. Sunyi, sepi, gelap, ditambah lagu melow membuat suasana semakin membuatku kacau. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobil saat ketiga temanku sedang terlelap. Aku menangis sampai tertidur. 2 jam kemudian aku terbangun karena mendengar suara mobil dosen yang menderu di sebelah. Ternyata rasa sesak itu masih membekas.

Selama acara RM, Beni lah orang yang paling perhatian dan peduli kepadaku dibandingkan dengan teman-teman dan panitia lain. Saat aku kesal kepada panitia, Beni lah orang pertama yang peduli dan menenangkan ku. Bagaimana aku tidak jatuh cinta jika Beni terus memperlakukan ku seperti ini? Ya Tuhaaaaaan. Aku semakin bingung untuk bertindak. Bibirku berkata untuk pergi menjauh dari Beni, namun apa daya hati ini selalu menjadi penghianat. Aku tidak bisa jauh dari Beni. Ditambah lagi Beni benar-benar mengganti display picture nya dengan tulisan di kaca mobil itu. Membuatku semakin melemah. Campur aduk rasanya. Aku semakin dilema.

Hari terus berganti, ku kira rasa itu akan menghilang. Tetapi ternyata aku salah besar. Semakin hari rasa itu semakin tumbuh dan berkembang. Seperti amoeba yang terus membelah diri semakin bertambah banyak dan aku tidak bisa menghentikannya. Ya Tuhaaaaaan, ternyata aku memang benar-benar sayang Beni yang berstatus pacar orang :(

Kasih maaf bila aku jatuh cinta, maaf bila saja ku suka saat kau ada yang punya.
Haruskah ku pendam rasa ini saja ataukah ku teruskan saja hingga kau meninggalkannya dan kita bersama?

(HiVi-Orang Ketiga)

Lagu itu sedikit menyentak rasa. Biar bagaimanapun, aku adalah orang ketiga. Menurut pandangan orang, orang ketiga itu memiliki kesan yang buruk. Perusak hubungan orang, perebut pacar orang. Dan image seperti itulah yang akan melekat pada diriku jika aku tidak segera menghentikan semua ini. Bagaimana tidak, hampir anak-anak di jurusan ku dari berbagai angkatan sering melihatku berdua dengan Beni sedangkan yang tertulis di status BBM Beni nama perempuan lain. Bagaimana tidak menyesakkan dada?

Keesokan harinya Beni menceritakan sisi gelap kehidupannya. Ia tidak ingin aku menilainya terlalu baik Tapi sayangnya, itu sama sekali tidak mengurangi perasaanku. Beni terkesan ingin membuatku ilfeel. Ya mungkin saja Ia tidak ingin aku semakin terperosok ke dalam cintanya yang kelak menghancurkanku.

Sungguh anehnya cinta, kadang tak berlogika. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai Beni. Dia sama sekali bukan tipe lelaki yang ku harapkan. Dia itu bad boy. Aku mengharapkan sosok lelaki yang taat beragama untuk menjadi imamku. Umurnya pun beda 2 tahun dibawahku. Aku berharap lelaki yang akan menjadi suamiku lebih tua dariku sehingga bisa mapan lebih dulu. Sedangkan Beni? Mungkin aku harus menunggu sampai umur 29 tahun baru aku bisa menikah. Haha aku sudah berpikiran menikah? Sesungguhnya aku sudah malas bermain cinta, aku ingin pacaran yang serius. Tidak main-main seperti anak labil.

Kata orang cinta itu anugerah. Tapi mengapa cinta datang pada orang yang salah? Malah akan ada yang tersakiti. Aku harus segera menghentikannya, sebelum semuanya terlambat. Aku dan pacar Beni sama-sama wanita, tentu aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi dia. Beni bilang, hubungannya dengan pacar nya itu susah dijelaskan. Mungkin karena Beni sudah tidak nyaman dengan semuanya. Namun yang masih menjadi tanda tanya besar di benakku, mengapa sampai saat ini Ia masih mempertahankan hubungannya? Entahlah, hanya Ia dan Tuhan yang tahu.

Lupakan aku, kembali padanya. Aku bukan siapa-siapa untukmu.
Ku cintai mu tak berarti bahwa ku harus memilikimu selamanya.

(D'Masiv-Diantara Kalian)

Lagu ini sangat menggambarkan isi hatiku. Berulang kali ku putar lagu ini hingga aku selalu menangis dibuatnya. Ah Bennnnnnniiiii! Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini :(. Sekarang aku sudah terlanjur larut dalam cinta Beni. Tak bisa kupungkiri lagi, AKU SAYANG BENI!

Aku berusaha menjauhinya, salah satunya dengan cara mengalihkan pandangan jika bertemu dengan Beni. Tetapi percuma, itu tak berhasil. Itu hanya berlangsung 10 menit setelah Beni pergi. Jari-jariku selalu gatal ingin mengirimnya pesan BBM. Entah mengapa aku selalu ingin bertemu dengannya, apalagi menjelang liburan pekan sunyi ini. Aku harus bertemu dan melepaskan rasa rindu sebelum Ia pulang ke Sumedang.

Ada suatu kebodohan yang aku lakukan: aku memeluk Beni. Ia pun nampak menikmati pelukan itu. Rasa nyaman mengaliri peredaran darahku. Rasanya tak ingin melepasnya. Tetapi sedetik kemudian aku teringat pacarnya Beni. Ya Tuhaaaan, tak sepantasnya aku seperti ini, aku sama sekali tidak punya hak untuk memeluk Beni. Itu akan menyakiti hati perempuan itu. Tapi apa daya, aku sangat membutuhkan pelukan itu. Pada dasarnya suka dipeluk, karena itu bisa sedikit meringankan beban dan menenangkan pikiran. Maafkan aku! Aku memang jahat.

Sampai detik ini, aku masih memikirkan Beni. Aku merindukannya, aku membutuhkannya, aku menginginkan pelukan nyamannya. Aku sayang Beni. Aku tak mau kehilangannya. Aku tahu, ini salah besar. Tetapi bukankah setiap orang berhak jatuh cinta? Andai saja waktu itu aku tak bertemu dan Beni tidak menghubungiku mungkin semua tidak akan menjadi serumit ini.

Jadi orang ketiga itu memang menyakitkan. Selalu dipandang jahat, namun tidak selamanya orang ketiga itu sejahat yang kau pikirkan. Bisa saja sebenarnya ia tidak berniat mengganggu hubungan orang lain, tetapi keadaan lah yang membuatnya seperti itu. Jangan sepenuhnya menyalahkan orang ketiga, karena tamu tak akan datang jika tak diundang oleh pemilik rumah.

This song is for you: Moch. Beni Rahadian

Seandainya dapat ku melukiskan isi hatiku untukmu
Seandainya kau pun harus tahu lelah hatiku bila kau jauh
Namun ku pendam rasa
Ku hanya ingin kau bahagia jalani yang kau pilih
Jangan risaukan aku

Percayalah kasih cinta tak harus memiliki
Walau kau dengannya namun ku yakin hatimu untukku
Percayalah kasih cinta tak harus memiliki
Walau kau coba lupakan aku tapi ku kan selalu ada untukmu

Seharusnya kau pun menyadari resah hatiku bila kau jauh
Seharusnya aku pun tak berharap miliki dirimu seutuhnya
Namun ku pendam rasa
Ku hanya ingin kau bahagia jalani yang kau pilih
Jangan risaukan aku

Percayalah kasih cinta tak harus memiliki
Walau kau dengannya namun ku yakin hatimu untukku
Percayalah kasih cinta tak harus memiliki
Walau kau coba lupakan aku tapi ku kan selalu ada untukmu

Selasa, 10 Desember 2013

First Time I Knew You

Aku terdiam di pesisir pantai barat Pangandaran, melihat ombak yang melompat-lompat dengan indah disertai angin semilir yang membelai-belai rambut panjangku. Tidak terlalu banyak wisatawan yang datang kesana sehingga pantai cukup lengang. Cuaca disana cukup terik, tetapi tidak dengan hatiku. Seperti ada awan mendung yang menggelayuti kepalaku saat itu.

Tidak ada yang bisa membuat mood ku kembali stabil disana. Untung aku membawa blackberry dan tablet ku. Mataku menyapu recent updates, hal yang selalu dilakukan pengguna blackberry jika sedang mati gaya. Tidak ada yang asyik. Membosankan! Lalu aku meraih tablet dari pangkuanku kemudian ku buka aplikasi Path. Ku tekan lambang check-in dan ku pilih Pantai Barat Pangandaran. Tak lupa aku connect ke akun twitter dan foursquare ku.

Beberapa lama kemudian tablet ku bergetar. Ku lihat notifikasi nya ternyata ada yang me-mention ku di twitter dan itu Fiki! Aku masih terdiam, otakku blm sepenuhnya mencerna informasi yang ku lihat. Sedetik kemudian aku langsung tersadar, seperti disengat ribuan lebah mataku terbelalak. Fiki Angga Gantira mention aku? Hatiku berjingkat-jingkat kegirangan. Seolah tak percaya aku membaca lagi mention yang masuk ke twitterku, khawatir aku salah baca. Dan ternyata benar, Fiki lah yang me-mention ku! Rasa senang menggelayuti jiwaku. Jantungku berdetak tak karuan disertai senyum manis terukir di bibirku.

@glaverinareiska anak manper 2011 ya ? ._.

Kemudian aku balas :
@fikigantira Iyaaaa hehehe kenapa emang? RT @glaverinareiska anak manper 2011 ya ? ._.

Fiki membalas lagi :
@glaverinareiska Pantes suka liat kalo di mobil atau di FPEB lama RT @fikigantira Iyaaaa hehehe kenapa emang?

Jelas Fik kamu suka liat aku, kan aku suka liatin kamu kalo papasan sama kamu. :)

@fikigantira aku juga suka liat kamu tapi kamu suka pura2 ga liat -_- RT @glaverinareiska Pantes suka liat kalo di mobil atau di FPEB lama

........................

Kami masih lanjut twitter-an sampai terlintas dipikiranku untuk meminta pin BB Fiki. Tanpa di sangka-sangka, Fiki langsung mengirimkan pin nya lewat direct message. Horeeeeee! Ah tak bisa ku gambarkan rasa bahagia ini. Thanks God! Akhirnya ada jalan juga buat deket sama Fiki. Secepat kilat aku invite Fiki dan langsung di accept. Rasanya jari ini sudah gatal untuk chating dengan Fiki. Tapi aku malu untuk memulainya. Ah tak peduli, aku segera menyingkirkan rasa malu dan gengsi itu dan langsung menyapa Fiki di BBM.

Aku dan Fiki BBM-an sampai koneksi memutuskan kami. BBM di android memang signal nya masih labil. Jadi ku invite Fiki melalui blackberry ku. Kemudian aku memulai kembali obrolan yang terputus. Aku tak pernah kehabisan topik pembicaraan, karena aku dan Fiki sama-sama berasal dari Cimahi. Satu hal yang membuat hatiku tak bisa berhenti merasa bahagia, ternyata wanita yang tempo hari nempel-nempel Fiki bagai perangko itu bukan pacar Fiki. Tetapi sahabatnya Fiki yang ternyata orang Cimahi juga dan adik kelasku waktu SMA. God, dunia itu sempit! Haha

Beberapa hari kami sempat putus komunikasi, tetapi kemudian Fiki menyapa ku duluan di BBM. Woooow, seketika mood ku langsung berubah drastis! Keesokan harinya saat aku sedang berjalan menuju mesjid Al-Furqon bersama Maira dan Yesi, aku berpapasan dengan Fiki yang sedang berjalan dari arah berlawanan bersama Rasti dan satu temannya lagi. Deg! Aku langsung salah tingkah dan mengalihkan pandangan. Padahal mata ini tak kuasa ingin melirik ke arah Fiki. Ia pun nampak salah tingkah dan Rasti mulai cari perhatian dengan memukul-mukul punggung Fiki. Aku masih malu untuk menyapa Fiki, seperti biasa Fiki masih pura-pura tak melihatku.

Hari berikutnya aku tidak sengaja bertemu Fiki di kantin FPEB. Tumben Rasti tidak nempel-nempel Fiki, malahan menggoda Fiki dan aku. Tanpa ku sangka, Fiki menyapaku. Semburat merah merona di pipiku, malu sekali rasanya sampai-sampai aku salah tingkah. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kelas. Di perjalanan menuju kelas, sekelibat ide muncul di benakku. Aku mengajak Fiki makan siang (ini namanya modus. haha). Aku bbm Fiki dan ternyata dia ada waktu siang ini. Yes! Rasanya ingin melesat menembus atap saking senangnya! Hihi

Jam berdentang menunjukkan angka jam 12. Waktunya pulang dan makan siang bersama Fiki. Horeeeee! Secepat kilat aku bbm Fiki tetapi delay! Damn! Oh my God! Kenapa harus delay sih? Rasa khawatir menggelayuti hatiku. Hanya lewat BBM Fiki satu-satunya cara untuk aku berkomunikasi dengan Fiki. Aku tidak punya nomor ponsel, whatsapp, line, wechat, ataupun kakaotalk Fiki. Hanya berteman di path dan twitter, tapi rasanya tak mungkin menghubungi Fiki lewat path atau twitter. Kemudian ku berjalan gontai menuju mobil dan menunggu Fiki disana dengan penuh harapan.

Aku hanya bisa pasrah. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku kemudian meninggalkan pesan, "Aku tunggu di parkiran garnadi". Berharap jaringan kembali normal sehingga BBM ku pada Fiki delivered. Tik..tok..tik..tok.. waktu terasa bergulir begitu lama. Aku menanti dengan penuh harapan. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya ponsel ku bergetar, BBM dari Fiki! Ternyata Ia baru keluar kelas dan bergegas menemuiku. Dari kejauhan aku melihat siluet Fiki yang sedang berjalan mendekat.

Fiki kemudian membuka pintu mobil dan duduk di sebelahku. Ini kali pertama aku berada di dekat Fiki, hanya aku dan Fiki saja. Tak ada yang lain. Tentu saja membuatku sangat menikmati hati yang berdentam-dentam dibuatnya. Kami masih sedikit canggung tapi perlahan aku mulai mencairkan suasana. Mencari topik pembicaraan kemana kami akan makan siang. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan di Wale, daerah Dago Pakar. Sesampainya di sana kami langsung disuguhi pemandangan alam yang hijau menyejukkan. Kami asyik berbincang-bincang sambil makan mie ayam. Hatiku terus memproduksi rasa nyaman saat didekatnya. Rasanya ingin menghentikan waktu saat bersamanya. Namun tak terasa waktu yang bergulir harus memisahkan kebersamaan kami, aku harus segera pulang karena harus menjemput ayahku.

Dua hari kemudian, setelah mata kuliah Stenografi aku dengan senang hati kembali menawarkan diri untuk menemani Fiki yang akan mengurus perizinan tempat acara Riung Mumpulung jurusannya. Kebetulan Fiki adalah ketua nya, sehingga Ia terpaksa skip kuliah demi mengurus acara yang semakin dekat ini. Tempat pertama yang kami tuju masih sekitar kampus, yaitu Lapangan Tennis Indoor dan Sport Hall tetapi tidak mendapat izin. Lalu kami bergegas ke tempat penyewaan kursi di daerah Gerlong. Tidak terasa, perut kami meronta-ronta minta diisi. Akhirnya kami mencari tempat makan di sekitaran Trunojoyo. Setelah makan kami kembali ke kampus karena aku ada kelas pemrograman jam 1. Kami tiba di kampus pukul 11, masih ada waktu 2 jam untuk bersama Fiki. Kami lalu mencari tempat parkir di bawah pohon Garnadi, tetapi penuh jadinya kami parkir di parkiran Kolam Renang UPI.

Sesampainya disana, aku tidak mematikan mesin mobil. Cuaca yang panas membuat kami harus menyalakan AC terus menerus. Entah efek AC, entah hatiku yang berdesir dingin yang membuat tubuhku merasakan kesejukan yang menyenangkan. Pandangan kami bertubrukan membuat ku semakin tertusuk bola matanya lebih dalam. Tiba-tiba Fiki memegang tanganku yang mulai kedinginan membuat kehangatan menjalar ke sekujur tubuhku.

Waktu telah menunjukkan pukul 1, aku harus kuliah tetapi rasanya berat untuk berpisah dengan Fiki. Ah! Ingin rasanya lebih lama bersama Fiki. Setan mulai menggoda ku untuk skip kuliah. Disamping masih ingin bersama Fiki, aku juga sudah jenuh kuliah. Apalagi aku belum pernah absen sama sekali. Setelah ku pikir-pikir rasanya tidak apa-apa jika aku mengambil jatah tidak hadir satu kali. Kemudian kami pergi ke Indomaret Convention Center Sukajadi, tempat nongkrong Fiki. Di perjalanan menuju kesana, Fiki memutarkan lagu Maliq and D'essentials-Sampai Kapan. Lagu yang tepat untuk menggambarkan perasaan kami berdua.

Pantaskah diriku ini mengharapkan suatu yang lebih dari hanya sekedar perhatian dari dirimu yang kau anggap biasa saja.
Atau haruskah ku simpan dalam diri lalu ku endapkan rasa ini terus selama-lamanya.
Diriku cinta dirimu dan hanya itu lah satu yang aku tak jujur kepadamu.
Ku ingin engkau mengerti.
Mungkinkah engkau sadari cinta yang ada dihatiku?

Itulah kali terakhir aku bertemu Fiki. Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengannya lagi. Kesibukan masing-masing lah yang membentengi kami. Kami jadi jarang sekali berkomunikasi. Aku kangen Fiki, kangen Wale, kangen mie ayam, kangen parkiran kolam renang, kangen Indomaret, kangen lagu Maliq, kangen semua tempat yang pernah kami kunjungi. Kapan kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi Fik? Mungkin setelah acara Riung Mumpulung :)

Minggu, 24 November 2013

Garnadi Punya Cerita Tentang Kita

Siang itu sangat terik. Kulitku seperti terpanggang matahari. Benar saja, matahari sedang berada tegak lurus diatas kepalaku. Nampaknya sekarang tepat pukul 12.00 WIB. Aku melangkahkan kaki dengan gontai menuju mobilku yang terparkir di bawah pohon garnadi bersama Milati sahabatku. Untung saja tadi pagi aku memarkirkan mobilku dibawah pohon, sehingga walaupun siang yang terik ini, aku masih merasakan semilir angin menyejukkan yang membelai-belai rambutku.

Saat kami sedang asyik bercerita,  tiba-tiba ada sekumpulan mahasiswa berdiri tak jauh dari mobilku. Sudut mataku seperti tertarik oleh magnet yang mengarahkan pandangan kepada salah satu pria disitu. Beberapa detik aku seperti terhipnotis oleh pesona nya. Ia begitu manis, menggoda hatiku untuk berkata: Aku suka dia!

Siapakah dia? Jurusan apa? Angkatan berapa? Pertanyaan itu berputar-putar di otakku. Sampai kemudian suara Milati membuyarkan lamunanku. Lantas aku mengarahkan jemariku kepada pria itu. Memberi tahu Milati bahwa ada seseorang yang membuat mataku tak bisa berkedip sedetikpun.

Pria itu sepertinya menyadari bahwa ada yang memperhatikannya di dalam Terios hitam yang parkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ku rasa Ia juga mulai mencuri-curi kepadaku. Aku tak kuasa menatap matanya. Begitu tenteram dan menyejukkan. Aku kemudian mengalihkan pandanganku. Tak ingin pria itu sampai tahu jika aku memperhatikannya. Tetapi aku kembali memandangnya saat Ia tak melihatku.

Sesaat kemudian, seorang wanita tiba-tiba berdiri di hadapannya. Seolah menghalangi pria itu untuk melihat ke arahku. Wanita itu seperti mengalihkan perhatian si pria manis kepadanya. Menyebalkan! Apakah wanita itu kekasihnya? Sebersit rasa cemburu menyelimuti hatiku. Setitik kecewa datang menyergap.

Beberapa lama kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Sialnya aku kehilangan jejak. Ya sudah lah, aku pasrah. Mungkin kami tidak berjodoh hari ini. Tetapi Tuhan berkata lain, saat aku melihat spion rupanya mereka berada di belakang mobilku. Seulas senyum bahagia mengembang di wajahku.

Tak kehilangan akal, aku dan Milati mencuri perhatian dengan berpura-pura ke kamar mandi. Kami pun keluar dari mobil dan berjalan melewati mereka. Mataku tak luput memandangnya. Begitu pun si pria manis itu sedikit mencuri-curi pandang karena menyadari aku memperhatikannya. Tapi bibirku selalu lupa untuk melukiskan senyum manis kepadanya karena bawaan lahir yang mebuatku kurang bisa ramah kepada orang yang tidak dikenal.

Setelah kembali dari kamar mandi, ternyata mereka masih ada. Kali ini wanita itu yang melihat kami, karena posisi si pria manis membelakangi kami. Saat kami berjalan melewati mereka, tiba-tiba wanita itu memeluk si pria manis sambil menyunggingkan senyum kemenangan. Sial. Menyebalkan! Lagi-lagi hatiku terbakar cemburu untuk pria yang tidak ku kenal itu.

Itu bukan kali pertama wanita itu berulah di depan si pria manis. Ia seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa pria manis itu miliknya, dan barang siapa yang ingin merebut pria manis itu harus berurusan dengannya. Sungguh-sungguh menyebalkan! Ingin rasanya menjambak rambutnya tapi apa daya aku tak punya hak. Kenal mereka pun tidak.

Karena kami satu fakultas, kami sering berpapasan. Entah itu di garnadi, di perpus atau di FPEB lama. Dan tentu saja kami selalu mencuri-curi pandang. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang benar. Aku tidak mau terlalu ke-GR-an. Tetapi aku selalu salah tingkah saat bertemu dengannya. Dan setiap kami berpapasan, wanita itu selalu mencari perhatian dengan menggandeng tangan si pria manis dan menunjukkan kemesraan mereka dihadapanku. Menyebalkan!

Lama kelamaan aku tidak terlalu memikirkannya, karena aku capek jika harus bertemu dengan mereka dan melihat kemesraan mereka. Rasanya ingin menciut menjadi makhluk super kecil dan berlari menghindari mereka.

Suatu malam aku sedang online facebook, aku penasaran dengan pria yang sedang mendekati Rima yang kebetulan sedang online. Aku buka facebooknya dan tiba-tiba mataku terbelalak. Ku lihat foto profilnya yang ternyata bersama si pria manis! Secepat kilat aku chatting dengan nya dan menanyakan perihal si pria manis itu.

Ternyata, si pria manis itu bernama Fiki Angga Gantira jurusan Pendidikan Akuntansi angkatan 2012. Satu tahun lebih muda dariku. Kemudian aku mengirim permintaan pertemanan ke akun facebooknya Fiki atas informasi dari teman nya Rima itu. Thanks God! Ini adalah awal yang baik. Hatiku melompat-lompat kegirangan.

Beberapa minggu kemudian, Fiki mengkonfirm permintaan pertemananku. Dengan jantung yang berdentum-dentum mengikuti irama hati, aku membuka profil facebooknya. Tetapi sesaat kemudian aku tercekat. Hatiku terasa ngilu. Ternyata Fiki pacarnya Sheila, teman SMA ku. Damn!  Dunia sebegitu sempitkah? Saat aku baru saja akan mengenal pria itu ternyata ia malah pacar teman SMA ku. Hatiku kembali bersedih.

To be continued....