Sabtu, 20 Juni 2015

Lelaki Ambigu

Kamu seperti kata ambigu. Menjebak otakku ke dalam siklus menerka-nerka tiada batas. Memaksa alam bawah sadarku untuk menemukan arti dirimu yang sebenarnya.

Menuliskanmu ke dalam kata-kata, seperti tersesat pada ribuan kata ambigu dalam ensiklopedia. Perlu menjelajahi ruang dan waktu demi menemukan arti yang tepat untuk dirimu.

Sekali lagi, kamu ambigu. Seperti tulisan stenografi, yang begitu rumit dan tidak dapat dicerna oleh kadar intelektual manusia biasa. Bahkan seorang stenografer yang handal sekalipun tidak dapat memahami apa arti dirimu sebenarnya.

Kamu memang benar-benar ambigu. Bahkan logika saja tak cukup pandai untuk mengartikan dirimu. Ku pikir mungkin kinerja emosionalku bisa membantu mengartikannya. 
Sayang sekali, ternyata tidak.

Banyak rasa yang kau tawarkan. Banyak sikap yang kau suguhkan. Kamu adalah ambiguitas cinta yang indah. Meski terlalu banyak arti yang harus aku mengerti dan membuat hatiku porak poranda kebingungan, aku tetap menikmatinya. Tak peduli seberapa akurat hasil aku menerka-nerka, yang penting aku bahagia.

Hey lelaki ambigu...

Senin, 01 Juni 2015

Rahasia

Jangan pernah menyimpan rahasia dibelakangku.
Jangan pernah membohongiku.
Jangan pernah berpura-pura dihadapanku.
Jangan pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.
Jangan pernah sekali-kali.
Tolong jangan.

Aku tidak suka rahasia.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku tidak suka kepura-puraan.
Aku tidak suka sembunyi-sembunyi.
Aku tidak suka.
Aku benci itu.

Aku bukan Tuhan yang maha tahu.
Aku bukan paranormal yang bisa meramal.
Aku bukan orang yang suka menerka-nerka.
Aku bukan orang yang suka menebak.
Aku bukan seperti itu.
Itu bukan aku.

Katakanlah jika kau mencintaiku.
Katakanlah jika kau membenciku.
Katakanlah jika aku salah.
Katakanlah jika aku khilaf.
Katakanlah.
Tolong katakanlah.

Tak perlu bersandiwara untuk mendapatkan perhatianku.
Tak perlu meninggikanku untuk menjatuhkanku.
Tak perlu pura-pura baik untuk mendapat belas kasihanku.
Tak perlu pura-pura manis untuk menusukku dari belakang.
Tak perlu kau lakukan.
Sungguh tak perlu.

Rahasia apalagi yang kau sembunyikan?
Teka-teki apalagi yang kau berikan?
Permainan apalagi yang kau lakukan?
Modus apalagi yang kau jalankan?
Apalagi?
Apalagi?

Tolong jangan sembunyi dibalik rahasia.
Tolong jangan berkelit dibalik rahasia.
Tolong jangan permainkan aku dengan rahasia.
Tolong jangan selalu ada rahasia.

Kamu hanya perlu mengatakannya padaku.
Baik atau buruk nya akan aku terima.
Jujur itu indah walaupun terkadang menyakitkan.
Jangan pernah merahasiakan sesuatu untuk menjaga perasaanku.
Malah akan semakin menyakitiku jika kamu terus-terusan merahasiakannya.

Jadi ku mohon katakan sajalah, tak perlu ada rahasia.

Jumat, 29 Mei 2015

Cinta Lama Belum Kelar

Hari ini mungkin adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, sudah sekian lama kami merencanakan pertemuan kami untuk membahas masa lalu yang mungkin rasanya sekarang sudah basi bahkan kadaluarsa.

Rasanya campur aduk. Jantungku seperti mau copot. Ribuan hipotesis melayang-layang dipikiranku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksiku jika bertemu dengannya. Apa aku akan semakin membencinya karena teringat kembali tragedi pertumpahan air mata tempo lalu? Atau bahkan nanti aku akan luluh lalu jatuh cinta kembali kepadanya? Entahlah. Aku tidak tahu.

Yang jelas aku benar-benar bingung. Apakah keputusanku untuk bertemu dengannya adalah benar. Atau mungkin malah mendapat masalah baru? Ya Allah, semoga saja ini keputusan yang tepat. Aku niatkan untuk silaturahmi. Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Hari ini rencananya kami janjian pukul 16.00 setelah Ia beres ujian. Aku putuskan untuk bertemu dengannya di kampus saja. Karena aku malas pulang ke rumah. Kemudian aku duduk manis di fakultas dan menunggunya datang. Tiga puluh menit kemudian dia datang. Tanpa pikir panjang aku langsung menemuinya di parkiran.

Setelah melihatnya dari jauh, aku berjalan perlahan untuk menemuinya. Aku berusaha untuk tidak terlihat canggung. Tapi aku gagal. Aku masih saja kaku. Dan sikapku itu tebaca olehnya yang terlihat santai. Ah mungkin saja dia juga sebenarnya grogi, tapi dia bisa menutupinya. Bisa jadi.

Kemudian kami memutuskan untuk ke tempat makan daerah dago pakar. Tempat favoritku. Entah apa yang akan dibicarakan tetapi aku memilih tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran.

Di dalam perjalanan, kami berbincang-bincang. Hello... long time no see. Kemana saja kamu setelah 5 tahun ini menghilang? Begitulah kira-kira inti dari percakapan kami. Lama kelamaan, suasana mulai bersahabat. Aku berhasil untuk bersikap biasa saja.

Setibanya disana pukul 17.00, langit memunculkan semburat biru tua. Tidak ada senja disana. Tetapi suasana cukup indah untuk dinikmati. Kami mulai membahas masa lalu, walaupun rasanya sudah basi untuk dibahas tapi sedikitnya mengobati rasa penasaran kami.

Lalu kami memesan makanan. Beberapa saat kemudian, adzan magrib berkumandang. Dia mengajakku untuk melaksanakan sholat magrib. Subhanallah, ternyata dia rajin ibadah.  Lantas kami bergantian untuk sholat.

Waktu menunjukkan pukul 18.30. Langit biru tua kini berubah menjadi hitam pekat dihiasi oleh kerlipnya bintang yang menggantung disana. Tak lupa juga dilengkapi oleh lampu-lampu kehidupan Kota Bandung yang berkilauan. Kami bisa melihat keindahan Kota Bandung pada malam hari disini.

Tak lama kemudian kami pun menyantap makanan yang sudah sedari tadi disajikan. Sambil makan, ia bercerita seputar kehidupannya selama 5 tahun terakhir sejak kejadian itu. Ternyata, ia tidak mempunyai pacar lagi setelah itu. Entah ekspresi apa yang harus aku perlihatkan. Tetapi aku mengambil kesimpulan sendiri, bahwa mungkin ini karma.

Tadinya ku pikir, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya. Karena ia adalah orang terjahat yang pernah aku kenal. Aku menyesal pernah menangisinya. Air mataku terlalu berharga untuk itu. Dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun. Tapi entah mengapa aku sudah tidak memperdulikannya. Memaksa otakku untuk mengingat-ngingat juga tidak berpengaruh apapun. Sepertinya aku sudah mengubur dalam-dalam kenangan buruk itu. Setiap orang pernah punya kesalahan. Mungkin salahku juga dulu terkesan memaksa.

Bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata ada yang berubah darinya. Sekarang ia terlihat lebih kurus dan manis. Penampilannya yang rapi dan tidak merokok menambah nilai plus dimataku. Sekarang ia telah berubah seperti lelaki idamanku. Oh tidak, bisa-bisa aku jatuh cinta lagi. Semoga saja tidak.

Melihat suasana yang indah, aku tidak mau melewatkan momen berharga ini. Lantas aku mengabadikannya dengan berfoto bersamanya. Untuk kenang-kenangan barangkali atau untuk stok display picture bbm ataupun koleksi foto di instagramku.

Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk pulang. Sekarang sudah malam. Aku harus pulang dan kami pun harus berpisah. Rasanya ingin aku memohon-mohon pada waktu agar mengizinkan kami bertemu lebih lama lagi. Tetapi sepertinya waktu berkata lain. Sekarang kami harus berpisah. Mungkin suatu saat waktu akan mempertemukan kami lagi. Tenang saja, waktu tidak pernah berkhianat. Kami hanya perlu bersabar menunggu saat yang tepat. Sampai bertemu lagi.

Thanks for today, I'm happy. 😊

To be continued......

Sabtu, 11 April 2015

Andhika

Kita bertemu secara tidak sengaja
Saat rembulan sudah lama bertengger di langit menggantikan matahari
Saat itu aku melihatmu, pun dengan kamu.
Pandangan kita saling bertubrukan
Tetapi kita tak saling begeming
Tak menyimpulkan segaris senyum dibibir kita
Kita hanya terdiam tetapi hati kita saling berbicara

Saat itu juga aku tahu namamu, Andhika.
Nama yang indah. Seindah pemiliknya.
Ya. Aku akui kamu memang indah.
Kamu sangat mempesona dibalik rasa letihmu

Kita masih berada di tempat itu
Tetapi aku tidak berani menatapmu
Sama sekali tak berani
Aku masih bisa mendengar deru suaramu yang menentramkan jiwaku
Membuatku tersenyum didalam hati

Dhika. Apa kau tahu?
Aku telah jatuh cinta padamu kurang dari sepersekian detik saat aku melihatmu.
Apa kau merasakan hal yang sama?
Ku harap begitu.

Tak lama kemudian kita berpisah
Pertemuan kita hanya sebentar saja
Aku tak menyangka berpisah denganmu akan memikul rindu yang tak tertahankan
Aku masih ingin bertemu denganmu
Apakah kita masih bisa bertemu?

Tentu saja.
Sang Maha Cinta begitu baik
Kita dipertemukan kembali di sosial media
Sampai akhirnya kita bertukar nomor telepon
Dan saling berbincang hingga pagi bertemu malam
Begitu terus setiap hari

Kemudian kita bertemu lagi
Pertemuan kali ini begitu istimewa
Karena hari ini aku genap berusia 19 tahun
Dan aku sedang bersamamu
Ini adalah kado terindah untukku

Kebersamaan kita tak cukup sampai disini
Kita jadi sering bertemu
Tak jarang kita menghabiskan waktu berdua
Aku sangat bahagia bersamamu
Aku ingin terus bersamamu

Kini kita pun menjadi dekat
Semakin hari semakin dekat
Semakin hari semakin mesra
Semakin hari semakin romantis
Seperti kedua insan yang sedang dimabuk cinta

Aku tahu diluar sana ada yang tidak menyukai kedekatan kita
Aku sama sekali tidak peduli
Aku malah sengaja menjadi api yang membakar hati mereka lewat kemesraan kita
Semakin mereka panas
Semakin aku senang

Dhika, Apa kau tahu mengapa aku melakukan itu pada mereka?
Aku takut kehilanganmu
Ketakutanku semakin lama semakin besar
Aku berusaha untuk terus bisa bersamamu
Bagaimanapun caranya aku lakukan agar bisa bersamamu
Mungkin kamu sedikit risih
Tetapi semua ku lakukan karena aku tak ingin kehilanganmu

Waktu semakin berlalu
Seharusnya aku dan kamu sudah menjadi kita
Seperti yang selalu aku harapkan
Tapi kamu belum juga menyatakannya
Mungkin memang belum waktunya
Dan aku harus bersabar

Tetapi mengapa ku rasa kamu malah menjauh?
Saat aku mencuri-curi kesempatan untuk bertemu denganmu, saat itu pula kamu menjauh
SMS ku tak pernah di balas
Telpon ku pun tak pernah di angkat

Kamu berubah!
Tak seperti dulu,
Kini kamu memberikan jarak diantara kita
Seperti membentengi diri setinggi-tingginya agar aku tidak bisa lagi menyentuhmu

Dhika, mengapa kamu berubah?
Kau tahu ini teramat menyakitkan bagiku.
Kini aku tak bisa lagi melihat wajah rupawanmu yang mempesona,
Mendengar tawa candamu yang menggelitik hati,
Mencium aroma parfum mu yang memanjakan hidungku
Merasakan nyamannya dekapan tubuhmu 
Semua itu tidak akan pernah bisa aku rasakan lagi.
Semua telah berbeda
Semua telah hilang

Tetapi cinta di hati ini tidak akan pernah bisa hilang.
Aku masih tetap saja mencintaimu.
Walaupun mungkin kamu tidak mencintaiku
Dan aku masih saja mengharapkanmu
Walaupun mungkin kamu tidak mengharapkanku

Jumat, 10 April 2015

Tak Ingin Seperti Bunga Mawar

Setangkai bunga mawar. Dulu kamu pernah memberikannya kepadaku. Tepatnya dua kali. Pertama, kamu memberikannya kepadaku dengan terburu-buru. Tapi kau anggap sebagai tanda pertemanan, awal mula kau mendekatiku. Kedua, pada saat hari dimana kamu hendak menyatakan cinta kepadaku yang ternyata gagal  berantakan gara-gara ulah polosku.

Apakah kamu ingat? Aku sempat mengatakannya kepadamu pada saat kau memberikannya padaku pertama kali. Sudah ku bilang, aku tidak menyukai bunga mawar. Jangan lagi beri aku bunga mawar. Tetapi tetap saja kau memberiku bunga mawar lagi untuk kedua kalinya walaupun hasil nya tak sesuai dengan yang kau harapkan. Mungkin kau pikir aku langsung membuangnya ke tong sampah.

Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku tidak suka bunga mawar?

Jawabannya sederhana. Bunga mawar seperti yang kau beri itu cantik, indah, harum, selalu dipuja, disanjung dan membawa kebahagiaan. Seiring dengan berjalannya waktu, lihatlah bunga darimu itu berubah jadi jelek, rapuh, kering, dibuang, dilupakan  dan menyisakan kesedihan. Aku tidak ingin mempunyai nasib yang sama dengan bunga mawar itu.  Makannya dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah menyukainya.

Tetapi harus kau tahu, sampai saat ini aku masih menyimpan bunga mawar darimu. Itu bukti bahwa aku menghargai pemberian darimu. Kau salah besar jika mengira aku sudah membuangnya. Aku tidak sejahat itu.

Kau juga harus tahu, aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikanmu juga kenangan buruk denganmu. Semua akan tertanam dihati dan pikiranku untuk selamanya. Biarkan aku menyimpan bunga mawar darimu yang sudah mati ini. Akan ku simpan sampai ia hilang. Seperti cintaku padamu yang sudah mati, lama-lama akan hilang.

Sabtu, 14 Maret 2015

Tentang Aku, Kamu dan Dia (Sahabatmu)

Ini kisahku, kamu dan dia.
Kita bertiga bertemu di tempat dan waktu yang berbeda.
Awalnya aku melihat dia.
Kemudian aku cukup sering melihat dia.
Tetapi aku tidak pernah tahu siapa nama dia.
Aku dan dia tidak pernah saling mengenal.
Hingga aku tidak pernah melihat dia lagi.

Suatu saat aku bertemu denganmu.
Kita dipertemukan di sudut sekolah.
Berbeda dengan dia,
Aku dan kamu akhirnya saling mengenal.
Sampai suatu ketika,
Aku tidak pernah tahu ternyata kamu mencintaiku.
Kamu mengumpulkan keberanian untuk mendekatiku.
Kemudian aku dan kamu menjadi dekat.
Tetapi aku dan kamu belum menjadi kita.

Sebelum kamu mendekatiku.
Aku melihat dia lagi.
Aku bertemu dengannya di sekolah.
Rupanya dunia begitu sempit,
Kamu dan dia adalah sahabat sejati.
Seperti bintang dan malam hari,
Tidak pernah bisa dipisahkan.

Saat aku sedang bersamamu, aku bertemu dia lagi.
Saat itu juga aku tahu dia adalah Pijar.
Aku, kamu dan dia kemudian sering bersama.
Kamu selalu dengan dia,
Sedangkan aku hanya dengan diriku yang sibuk mencintai dia dalam diam.

Semakin lama aku, kamu dan dia semakin dekat.
Kami sering menghabiskan waktu bersama dan bercerita banyak hal.
Aku baru tahu,
Ternyata aku dan dia memiliki nasib yang sama: sama-sama selalu menjadi orang ketiga.

Pantas saja aku mencintai dia.
Aku dan dia memiliki kesamaan.
Semua yang aku inginkan ada di dia.
Aku nyaris saja ingin merubah kamu seperti dia.
Tetapi tentu saja itu tidak bisa karena kamu bukan dia.

Makin lama kamu makin mencintaiku.
Makin lama pula aku harus berusaha menyingkirkan perasaan terlarang ini untuk dia.
Karena aku tidak mungkin mencintai dia.
Aku tidak ingin membuat persahabatan kamu dan dia menjadi hancur.
Tetapi aku juga tidak mau membohongi perasaanku sendiri.
Bahwa ternyata aku mencintai dia, bukan kamu.

Mungkin dia tidak pernah tahu bahwa sebenarnya aku mencintai dia.
Karena sebenarnya jika dia tahu pun itu tidak akan berarti apa-apa.
Walaupun ternyata dia juga mencintaiku,
Tetapi aku dan dia tidak mungkin bisa bersama.
Karena akan mengkhianati persahabatan kalian.

Kemudian ku putuskan sesuatu,
Aku akan melupakan dia dan mulai mencintaimu.
Tetapi saat aku mencintaimu saat itu juga kamu malah meninggalkan ku.
Berbeda dengan dia yang berusaha menenangkanku, kamu malah tega membiarkanku menangis.

Akhirnya aku dan kamu menjauh.
Aku tidak ingin semakin terluka jika terus bersamamu.
Tapi aku juga tidak ingin jauh dari dia.
Mau bagaimana lagi
Memang sudah takdirnya aku tidak diizinkan untuk mencintai kamu ataupun dia
Makannya Tuhan memisahkan kita
Mungkin itu jalan terbaik untuk aku kamu dan dia.

Aku yakin satu saat pasti aku akan bahagia, bukan dengan kamu. Tetapi dengan dia. Entah dia Pijar ataupun dia-dia yang lain.

Selasa, 03 Maret 2015

Dia Bukan Kamu

Hari ini aku cukup lelah. Tadinya aku akan melampiaskannya pada rentetan buku-buku tak berdosa. Aku ingin membacanya sampai habis tak tersisa agar otakku dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat. Bukan malah memikirkan hal-hal yang tidak penting (dibaca: kamu).

Jujur aku masih belum bisa terima atas keputusanmu tempo lalu. Semudah itu berpaling dan berkata maaf. Mengatasnamakan logika tapi melupakan emosi. Ah sudahlah, Aku semakin benci dengan logika! Bukannya aku terlalu larut ke dalam perasaan. Tetapi unsur emosi disini sangat berperan penting dibandingkan hanya dengan logika semata.

Sore yang lelah ini, aku seperti mendapatkan sentilan semangat dari ponselku. Dia yang dulu pernah singgah dihati mengajakku untuk bertemu. Entah ada angin apa. Tapi aku merasa senang. Ku batalkan rencana untuk membaca buku lalu aku bergegas menemuinya.

Padepokan Jati Rasa. Tempat ini masih saja sama seperti dulu terakhir kali dia mengajakku kesini. Sebuah rumah kecil yang dilengkapi dengan ornamen dan alat musik sunda yang khas. Dia mengajakku untuk menyaksikannya memainkan alat musik itu. Telingaku dimanjakan oleh alunan lagu sunda yang indah. Dia memang hebat dalam hal ini. Salut! Jaman sekarang masih ada pemuda yang dengan bangga nya melestarikan budaya sunda.

Cukup! Jangan sampai aku terhinotis lagi. Tapi kali ini aku hanya ingin mengobati hatiku yang terluka karenamu. Mengingatmu membuatku sakit tapi ada kalanya bertemu itu menyembuhkan luka. Tentu saja bukan bertemu denganmu. Tapi dengan dia. Ahmadireja Ginan.

Namun aku juga pernah terluka karena dia. Kamu dan dia sama-sama jahat. Tetapi setidaknya dia masih punya perasaan. Dia berhasil memainkan emosi, mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Ditemani alunan instrumen lagu sunda, aku dan dia saling melepas rindu satu sama lain. Aku tahu dia merindukanku. Begitupun dengan aku yang sedari tadi memperhatikan dia. Aku suka cara dia menatapku dengan segaris senyuman yang menenangkan jiwa.

Suasana berubah menjadi sedikit canggung ketika aku dan dia mulai melibatkan orang lain masuk ke dalam obrolan. Aku tahu dia tidak suka itu. Begitupun dengan aku. Tetapi rasa penasaranku mengalahkan segalanya. Aku masih penasaran dengan teman KKN nya yang katanya sampai sekarang masih setia mencintainya. Tak lupa dia juga menanyakan soal kamu. Rupanya hatinya teramat cemburu ketika melihat foto kita berdua.

Apa ? Cemburu ?Mengapa dia cemburu ? Apa mungkin dia mencintaiku ? Disitu aku terdiam tak banyak bicara. Aku tidak menyangka dia ternyata benar cemburu tapi dia menyembunyikannya dariku. Aku kira dia sudah tidak peduli denganku karena kita sudah lama tidak kontekan. Aku menyesal pernah mengumbar foto bersamamu. Seharusnya dengan dia. Karena memang sebenarnya yang aku inginkan adalah dia. Bukan kamu.

Aku tahu dia sudah mengetahui semuanya. Dia hanya memastikan bahwa apa yang diketahuinya itu benar dari sumbernya langsung. Aku terpancing untuk menceritakan tentang kamu kepadanya. Belum selesai aku bercerita dia tiba-tiba terlihat beda. Dia bilang jangan diteruskan. Aku tahu dia cemburu. Aku senang dia cemburu. Itu berarti dia mencintaiku ?

Kemudian dia menyentuh tanganku. Tangannya terasa hangat. Nyaman sekali rasanya. Aku tidak mau melepaskannya.  Aku bisa merasakan desiran darah dan detak jantungnya disini. Seperti menyatu dengan darahku, jantungku ikut berdegup. Apakah dia merasakan hal yang sama ?

Ginan. Aku sayang Ginan. Walau dulu aku sempat membencinya dan mencoba berpaling tetapi aku dan dia memiliki banyak kesamaan. Itu yang membuatku nyaman bersamanya. Karena sifatnya sifatku juga. Aku dan dia hampir sama. Aku menemukan diriku di dalam dirinya.

Ginan Ahmadireja. Di dalam namanya ada namaku. Di dalam hatinya apa ada aku ? :)