Minggu, 04 Januari 2015

Saya Berjanji, Suatu Saat Saya Akan Sukses!

Main-hang out-senang-malas-mencari kebahagiaan.

Setiap hari terus begitu. Seperti siklus kehidupan yang tidak pernah berhenti. Hanya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.

Mau sampai kapan main terus ?
Mau sampai kapan hang out terus ?
Mau sampai kapan bersenang-senang terus ?
Mau sampai kapan bermalas-malasan terus ?
Mau sampai kapan mencari kebahagiaan terus ?

Kebahagiaan ?
Sudah ketemu kebahagiaannya ?
Sudah selesai senang-senangnya ?
Katanya ingin bahagia, ingin hidup senang.
Seperti ini sudah bahagia ?
Yakin sudah bahagia ?

Bahagia itu ketika apa yang kita inginkan sudah di depan mata.
Hal kecilnya wisuda.
Hai Glaverina Reiska...
Skripsi apa kabar ?
Skripsi sudah dikerjakan ?
Skripsi sudah beres ?
Kapan wisuda ?

Hmmm...Hmmm...Hmmm..
Tentu kamu tidak bisa menjawab kan ?
Selama ini kamu kemana saja ?
Orang lain sudah seminar skripsi, kamu belum.
Kemarin-kemarin sibuk PPL ?
Apa kabar dengan mereka yang sudah seminar ?
Oh. Kan kamu pegang 5 kelas. Sibuk sekali ya ?
Memang ke sekolah hari apa saja ?
Full satu minggu ?
Tidak sih. Rabu, jumat, sabtu, minggu libur.
Mengapa tidak dimanfaatkan ?
Menyesal bukan ?
Ya, sangat menyesal :(

Terus bagaimana ?
Sekarang sudah bulan januari 2015.
WISUDA APRIL 2015 GAGAL!!!
Seminar bulan ini ? Memang bisa ?
Datanya belum ada :(
Alasan !
Kan masih bisa mengerjakan Bab 2 dan Bab 3. Punyamu masih copas bukan ?
Iya :( maaf :(

Mengapa ini bisa terjadi ?
Mau alasan apalagi ?
Karena JOMBLO ?
Mau pakai alasan itu ? BULLSHIT !
Kalau memang kamu pengen punya pacar untuk menyemangati, lihat disana ada Andi di depan mata.
Mau pacaran ?
Bukannya itu doa mu agar ada penyemangat skripsi kan ?

Hmmmm. Aku terdiam tak bisa menjawab.

Sekarang sudah tidak ada waktu lagi.
Kamu sudah terlalu banyak membuang waktu.
Sekarang wakunya kamu berjuang.
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan ditangan orang lain.
Walaupun ada orang yang bilang,
Masa depanmu ada di tanganmu, bukan di tangan perguruan tinggi.
Tapi setidaknya suatu saat kamu akan bangga,
Kelak namamu akan menjadi Glaverina Reiska, S,Pd

Bayangkan betapa bahagianya orang tua mu melihatmu memakai toga.
Betapa bangganya mereka melihat anaknya mempunyai gelar Sarjana Pendidikan.

Sampai detik ini apa yang sudah kamu berikan kepada mereka ?
Belum :(
Kapan kamu akan memberikannya ?
Ingat Glave, waktu terus berputar.
Semakin lama mereka semakin tua.
Semakin hari umur mereka pun akan bertambah.
Sebentar lagi mereka pensiun.
Kamu ingin kan melihat mereka bahagia dan bangga karena memiliki anak sepertimu ?

Satu pesanku untukmu hai diriku.
Jangan pernah sia-siakan waktu mu.
Jangan sampai kamu menyesal.

Ingat umurmu juga Glave, sekarang kamu sudah 21 tahun.
Tahun ini sudah 22 tahun.
Beberapa tahun lagi kamu pasti menginginkan punya pendamping hidup, tinggal di istana, punya malaikat kecil,hidup bahagia, dan sukses.

Jadi tunggu apalagi ?
Ayo kerjakan skripsi.
Bismillah "Pengaruh Rotasi Pekerjaan terhadap Produktivitas Kerja Karyawan dengan Variabel Kontrol Umur dan Masa Kerja"
Kejar wisuda agustus 2015.
Bikin semua orang bangga padamu.

Janji mau berusaha untuk sukses ?

OKE SAYA BERJANJI MULAI DETIK INI AKAN MENGERJAKAN SKRIPSI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH. SAYA AKAN MERAIH GELAR SARJANA PENDIDIKAN. SAYA AKAN KEJAR IMPIAN SAYA UNTUK MERAIH KESUKSESAN. SAYA BERJANJI, SUATU SAAT SAYA AKAN SUKSES!!!!! AAMIIN...

Tanimulya, 5 Januari 2015

Glaverina Reiska
1102768

Kamis, 25 Desember 2014

Kekasih Masa Depan

Wahai kekasih masa depan
Mendekatlah padaku
Jangan terus bersembunyi
Aku ingin bertemu denganmu

Wahai kekasih masa depan
Jika kita bertemu kelak
Aku tidak akan melupakan momen terindah itu
Pertemuan itu akan menjadi gerbang awal kebahagiaan kita

Wahai kekasih masa depan
Jika kita telah bertemu dan saling jatuh cinta
Aku bisa pastikan kita akan menjadi pasangan paling bahagia sedunia
Kita adalah takdir cinta yang terindah

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah kau ragu padaku
Aku adalah orang yang Tuhan kirim untuk mencintaimu sepenuh hati
Aku akan menyayangimu setulus hatiku

Wahai kekasih masa depan
Jangan pernah mengkhawatirkanku
Aku bukan gadis manja yang selalu ingin ditemani sepanjang hari
Aku sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendirian

Wahai kekasih masa depan
Aku tidak akan menuntut apapun darimu
Aku hanya ingin kau mencintaiku sepenuh hati
Dan aku ingin kita bersama selamanya

Wahai kekasih masa depan
Walau entah kapan kita bisa bertemu
Tetapi tak pernah terlewat doa di sepertiga malamku
Semoga takdir akan mempertemukan kita dalam satu ikatan suci

Aamiin :)

Sabtu, 20 Desember 2014

Dear You

Dear You,

Hey kamu.
Iya kamu.
Kamu yang belakangan ini selalu mengisi hari-hariku.
Entah mengapa detik ini aku memikirkanmu.

Aku tahu.
Aku memang bodoh.
Dan aku sadari itu.
Aku terlalu terbelenggu oleh bayang-bayang masa laluku.
Aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
Aku terlalu sibuk mencari seseorang yang sempurna.
Aku tidak pernah sadar dengan ketulusan hatimu.
Tetapi kamu selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Aku tahu.
Aku memang jahat.
Dan aku sadari itu.
Bahkan saat aku sedang bersamamu,
aku masih memikirkan dan membahas sosok masa laluku.
Tanpa memikirkan betapa teriris-irisnya hatimu.
Tetapi kamu masih bisa tersenyum untukku.

Aku tahu.
Aku memang egois.
Dan aku sadari itu.
Aku masih ingin bersenang-senang dengan pria lain.
Aku masih ingin jalan bersama pria lain.
Aku masih ingin bebas melakukan apapun dengan pria lain.
Tanpa memikirkan betapa terbakarnya hatimu saat itu.
Tetapi kamu selalu sabar.

Aku tahu.
Aku memang kekanak-kanakan.
Dan aku sadari itu.
Aku memang labil.
Aku memang emosian.
Aku memang "rudet".
Tanpa memikirkan betapa kesalnya perasaanmu.
Tetapi lagi-lagi kamu selalu sabar menghadapiku.

Maaf.
Maafkan aku.
Maafkan aku yang bodoh.
Maafkan aku yang jahat.
Maafkan aku yang egois.
Maafkan aku yang bodoh, jahat dan egois.

Aku terlalu terbelenggu oleh ilusi, emosi dan ego ku sendiri.
Aku terlalu dibutakan oleh kesakithatianku terhadap masa lalu.
Aku terlalu tunduk dengan rasa penasaran dengan masa lalu.
Aku terlalu naif, egois, dan keras kepala.
Aku terlalu terobsesi dengan masa laluku.

Kini aku sadar.
Aku tidak perlu menunggu seseorang yang tidak pasti.
Aku tidak perlu menanti sesuatu yang tidak pasti
Aku tidak perlu memperjuangkan sesuatu yang tidak patut untuk diperjuangkan.
Aku tidak perlu berkorban demi orang yang tidak mempedulikanku.
Aku tidak perlu mencintai seseorang yang tidak tulus mencintaiku.

Kini aku sadar.
Ada hati yang sedang menunggu ku.
Ada hati yang sedang menanti.
Ada hati yang sedang memperjuangkan ku.
Ada hati yang rela berkorban untukku.
Ada hati yang benar-benar tulus mencintaiku.

Siapakah dia ?
Kamu.
Iya kamu.
Kamulah orangnya.
Andi Wira Saputra :)

With Love,
Glaverina Reiska.

Sabtu, 06 Desember 2014

Thinking of You, Rez!

Hari itu langit sedang meneteskan buli-bulir air kegalauan. Aku terpaksa berhenti di salah satu mall yang aku lewati untuk berteduh. Daripada hujan-hujanan, lebih baik aku berteduh sambil memanjakan perut yang meronta-ronta minta diisi pikirku. Entah mengapa aku sedang tidak mood hujan-hujanan. Padahal biasanya aku suka berdiam diri dibawah hujan. Membiarkan tubuhku dialiri bulir-bulir air yang akan membunuh segenap perasaan gundah gulana.

Saat sedang antri membeli makan, tiba2 handphone ku berbunyi. Rupanya ada bbm dari Milati.
Glave lagi dimana ? Bisa ke rumah Andi ngga ? Aku ingin main.

Secepat kilat aku membalas,
Di BTC say. Hayu aja tapi sebentar aku mau makan dulu.

Kemudian handphone ku bergetar,
Ga usah makan dulu ih bareng aja aku juga laper belum makan.

Aku terpaksa meninggalkan antrian dengan pura2 ditelepon karena malu. Seperti orang aneh sudah mengantri panjang-panjang saat sudah didepan kasir malah pergi.

Kemudian aku langsung berjalan ke parkiran. Setibanya disana ternyata hujan. Aku lantas menghubungi Milati. Setelah berkompromi akhirnya aku menunggu dijemput oleh mereka.

Sambil menunggu aku berjalan ke arah mushola. Tiba-tiba pikiranku terlempar pada 2 tahun yang lalu. Tempat ini mengingatkanku pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rezky. Tempat ini memang banyak menyimpan kenangan ku bersamanya.

Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai juga. Aku yang sedang berdiri dipinggir jalan lantas masuk ke mobil. Ternyata Milati datang bersama Andi dan Novan. Ku harap setelah bertemu mereka aku bisa terlepas dari ilusiku. Ternyata aku salah. Aku malah semakin terjerat ke dalam ilusiku. Bahkan bertambah parah. Selama di perjalanan aku masih terbayang Rezky.

Saat melihat ke belakang ternyata Milati dan Novan sedang bermesraan. Mengingatkan ku pada Rezky. Dulu kami pernah melakukan hal yang sama. Hah tambah galau!

Entah efek setelah hujan atau memang aku yang masih belum bisa mengontrol perasaanku yang sedang tidak karuan. Aku masih menatap ke luar jendela. Tetapi pikiranku jauh melayang-layang memikirkan Rezky. Hanya Rezky, Rezky dan Rezky. Kedengarannya seperti berlebihan. Tapi inilah yang ku rasakan.

Sesekali Andi berusaha menghibur, tapi aku hanya tertawa seperti terpaksa. Ngomong-ngomong soal Andi, belakangan ini aku merasa ada yang aneh dengannya. Dia jadi sering bbm dan memujiku seperti memberi kode bahwa ia tertarik kepadaku. Entahlah. Mungkin ia hanya bercanda. Andi memang sangat humoris. Walau terkadang humornya membuat ku hilang selera.

Aku mematung. Benar-benar kaku. Canggung. Malu. Bingung. Semuanya campur aduk.

Cause when I'm with him I'm thinking of you...

Lagu Katy Perri itu serasa mewakili perasaanku. Ragaku memang disini. Berada di dekat Andi. Tetapi pikiranku sedang menjelajah kemana-mana.

Aku tahu Andi pasti menyimpan rasa padaku. Terlihat jelas dari bbm nya dan tingkah lakunya yang berbeda belakangan ini. Selidik demi selidik, ternyata Andi sudah mengincarku dari sejak awal PPL. Tetapi ia belum mempunyai keberanian untuk mendekatiku.

Kami memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan di kota Bandung. Makanannya memang terkenal enak tapi bagiku terasa hambar.

Mengapa aku kurang menikmati perjalanan ini. Pikiranku masih saja bercabang. Memikirkan ini itu yang membuat kegalauan yang dibuat sendiri oleh ilusiku.

Setelah makan, kami mengisi bensin dan mampir ke toko bunga. Sebenarnya aku sudah feeling pasti Andi akan memberikannya padaku. Aku ingin melarangnya tetapi takut dikira terlalu percaya diri.

Kemudian kami memutuskan untuk pulang. Aku minta diturunkan di BTC untuk mengambil motorku. Tadinya Andi ingin mengantarkanku pulang karena tidak tega membiarkanku pulang sendirian malam-malam. Tetapi aku menolak. Aku tidak ingin merepotkan Andi. Lagi pula aku sedang ingin sedirian.

Saat akan turun dari mobil, ternyata Andi memberikan bunga mawar merah padaku. Aku terkejut. Bingung. Perasaanku campur aduk seperti gado-gado. Satu sisi aku senang, satu sisi aku berharap Rezky yang memberikannya padaku. Otakku dipenuhi oleh buaian ilusi-ilusi.

Setibanya di rumah. Aku langsung menghubungi Andi.
Terimakasih ya. Maaf ngerepotin.

Aku lantas memandangi bunga mawar pemberian Andi. Terdiam. Perasaan berdosa menyelimuti pikiranku. Aku menyesal. Mengapa aku tidak profesional. Mengapa aku bertindak seperti itu? Mengapa aku terlalu terbawa suasana? Pasti itu akan melukai perasaan Andi. Bodoh memang aku ini. Jahat memang. Aku memang jahat.

Aku menyesali diriku sendiri. Mengapa setiap kali menatap Andi bayang-bayang Rezky selalu menghantui? 

To be continued...

Selasa, 02 Desember 2014

Sajak Kesepian

Sendiri
Aku sendiri
Selalu sendiri
Lebih senang menyendiri
Kemana-mana sendiri
Sudah terbiasa sendiri
Mungkin aku terlalu mandiri

Sendirian
Aku sendirian
Hanya aku dan diriku
Berkawan dengan kesendirian
Bersahabat dengan kesepian
Sendiri sama dengan sepi

Apakah aku seperti matahari?
Bercahaya tapi sendirian
Ataukah aku seperti rembulan?
Bersinar tapi sendirian

Sendirian
Lagi-lagi sendirian
Apa kalian pernah berpikir?
Matahari dan rembulan yang berkilauan itu
Ternyata kesepian
Menatap dunia yang ramai
Sementara mereka hanya sendirian

Matahari sendirian
Rembulan sendirian
Bisa jadi mereka ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang siang dan malam

Aku sendirian
Kamu sendirian
Bisa jadi kita ingin bersama
Saling menjaga dan melengkapi
Tetapi terhalang ego masing-masing

Aku sendirian
Kamu sendirian
Aku dengan ego ku
Kamu dengan ego mu

Aku sendiri
Kamu sendiri
Aku dan kamu
Sama dengan kita

Aku tahu aku kesepian
Aku tahu kamu kesepian
Sendiri itu sepi
Berdua itu saling melengkapi

Tetapi mengapa kita memilih untuk sendiri ?

Rabu, 22 Oktober 2014

Hai, Oktober!

Hai, Oktober.
Akhirnya engkau tiba.
Selamat datang!
Welcome!
Wilujeng sumping!

Hai, Oktober.
Tahukah kamu ?
9 bulan kemarin aku resah menanti kedatanganmu.
Tahukah kamu apa yang membuatku resah ?
Hmmm. Apakah perlu ku beritahu ?
Ataukah engkau sudah mengetahui nya ?
Entahlah...

Hai, Oktober.
Kembali ke pertanyaan tadi.
Tahukah kamu apa yang membuatku resah ?
Singkat.
Sederhana.
Hanya satu kata.
"Takut".

Hai, Oktober.
Pasti kau bertanya-tanya.
Apa yang aku takutkan ?
Karena kamu tidak menakutkan.
Sepertinya tidak perlu ditakuti.

Hai, Oktober.
Aku ingin jujur.
Sebenarnya aku takut menghadapi hari esok.
Tepatnya akhir bulan ini.
Engkau pasti paham kan maksudku ?

Hai, Oktober.
Tak terasa engkau semakin berlalu.
Sebentar lagi...
Sebentar lagi aku...
Eh...
Sebentar lagi kau...
Sebentar lagi kau pergi.
Hanya tinggal menghitung hari.

Hai, Oktober.
Hari itu semakin dekat.
Hari apa ?
Aku takut!
Semakin hari semakin takut.
Aku takut engkau masih marah.
Seperti oktober tahun lalu.
Masih ingatkah kamu ?

Hai, Oktober.
Aku tidak mau hal ini terjadi padaku lagi.
Tolong.
Aku mohon.
Aku ingin 25 Oktober ku berkesan.
Aku tidak ingin ada air mata kepedihan lagi.
Seperti tahun lalu.

Hai, Oktober.
Apakah engkau mendengar doaku pada Januari hingga September?
Semoga kau mendengarnya.
Aku yakin kau pasti mendengarnya.

Hai, Oktober.
Tadinya aku ingin mendapat kado terindah tahun ini.
Sungguh, aku sangat menaruh harapan padamu.
Aku mohon.
Sama seperti doa-doaku pada Januari hingga September.
Aku ingin dipertemukan dan dipersatukan dengan jodohku.
Aku teramat sangat ingin itu wahai Oktober.

Hai, Oktober.
Apakah engkau akan mengabulkan permintaanku ?
Aku mohon.
Aku harap.
Aku tahu kamu baik hati.
Engkau ingin aku bahagia bukan ?

Jadi sekali lagi ku mohon.
Tolong kabulkan permintaanku ya, Oktoberku.
Aamiin

Sabtu, 26 Juli 2014

5 Menit yang Berarti

Malam itu purnama sedang gelisah. Cahaya nya dulu terang kini mulai meredup. Mungkin ia lelah. Ataukah ia sedang menanti kehadiran sang bintang? Mungkin saja. Seperti aku yang sedang menantimu di sudut kota ini.

Aku masih duduk manis di kursi. Mendengarkan Milati bercerita. Tetapi hati dan pikiranku masih tertuju kepada mu. Sungguh, aku sangat ingin bertemu denganmu, Al. Karena berada di dekatmu sangat membuatku tenang. I need you...

Sebenarnya aku berada disini untuk menghadiri acara buka bersama dengan teman sekelasku. Tapi ada beberapa hal yang membuatku kesal. Apalagi Milati. Aku kesal dengan Milati yang tidak jujur kepadaku. Sudah mati kutu aku menunggunya di Borma. Dan ia baru jujur katanya akan bertemu dengan teman nya. Teman apa teman? Aku mulai curiga.

Adzan magrib sudah berkumandang tapi Milati tak kunjung datang! Astaghfirullah. Beberapa menit kemudian ia datang. Entah skenario apa yang dia buat. Mengaku ini mengaku itu. Ah memusingkan. Ujung-ujungnya malah janjian dengan Jefri.

Tadi saat menunggu Milati aku sempat mengirim Beni pesan BBM. saking kesalnya, aku berpikiran untuk tidak jadi datang ke acara kelas dan bertemu Beni. Tetapi dari cara Beni membalas sepertinya ia sedang malas kemana-mana. Ah lagi-lagi aku kesal! Memang aku tidak punya hak untuk memaksa bertemu.

Aku sudah tidak mood. Sumpah aku ingin nya bertemu denganmu, Al! Setibanya di KFC, ternyata sangat penuh dan kami tidak kebagian tempat duduk. Aku menyembunyikan kekecewaan dan kekesalanku di hadapan teman-temanku. Sesekali aku berbincang-bincang dengan mereka.

Setelah itu kami memutuskan untuk berpisah dengan teman sekelas dan turun ke bawah berharap ada kursi kosong. Ternyata sama saja penuh. Sambil menunggu, kami berbincang-bincang. Tapi tetap saja masih terselip rasa kesal dihatiku untuk Milati. Tapi ya sudah lah.

Setelah mendapatkan tempat duduk, kami duduk dan mulai bercerita. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku. Aku mendengarkan Milati bicara tapi hati dan pikiranku masih melayang-layang memikirkanmu.

Lalu terlintas dipikiranku untuk menghubungi mu. Kemudian aku mengambil handphone dan mengirimi mu pesan BBM.

A, lagi dimana ? lagi sibuk ga ?

BBM ku sudah delivered  tapi belum juga kamu read.

Tik..tok..tik..tok..
Waktu terus berlalu. 5 menit. 10 menit. 15 menit.
Hmm aku gelisah menunggu balasan darimu

PING!!!

Belum ada jawaban juga darimu. Namun aku tetap sabar menanti.

Beberapa menit kemudian kamu membalas,
Lagi di Pedepokan. Lumayan sih lagi latihan. Kenapa neng?

Secepat kilat aku membalas,
Engga, aku kangen aja. Tadinya aku pengen ketemu Aa. Aku lagi di KFC Setiabudhi nih.

20 menit kemudian kamu baru balas.
Aduh Neng, maaf Aa gabisa. Aa lg latihan di Pedepokan.

Dengan perasaan sedih aku membalas,
Ga bisa ketemu bentaran doang gitu? Aku pengen banget ketemu Aa sebentar aja. Pleasee.. :(

Is writting a message...
Aku sangat berharap kamu bisa menemuiku disini. Menenangkanku saat aku sedang sedih.

Ga bisa neng, Maaf banget ya. Maybe next time. Neng baik-baik disana ya. Hati-hati pulangnya jangan kemaleman ;)

Aku yang kesal hanya membalas,
Oh yaudah. Oke.

Dan bbm ku hanya diread  saja.
 
Butiran bening mulai runtuh di pipiku. Aku menghela napas. Hmmmmm. Ya sudahlah. Aku tidak bisa memaksa. Sepertinya ini bukan saatnya bertemu denganmu. Lagi-lagi aku mengalah. Mencoba mengerti kesibukanmu. Tetapi ini bukan kali pertama kamu tidak bisa bertemu denganku. Selalu ada halangan jika kita akan bertemu.

Mengapa kamu tak bisa menyempatkan waktumu 5 menit saja untuk bertemu denganku ? Aku sangat merindukanmu. Aku membutuhkanmu. Aku hanya meminta 5 menit dari 24 jam waktu yang Tuhan berikan. Itu pun hanya sesekali dalam sebulan. Begitu lebih berarti kah waktu 5 menitmu dibanding aku ?

Hmmmmm...Entahlah...